Kesan Pertama Dari Kathmandu Dan Cerita Mr.Kashi

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan ke luar negeri. Saya menggunakan taksi sebagai transportasi pertama dan utama selama perjalanan di negeri itu. Nepal sungguh berbeda dari negara-negara Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Ketika liburan ke Nepal, saya perlu banyak bersyukur tinggal di Indonesia. Salah satu negara berkembang yang masuk dalam lima besar negara berpenduduk terbanyak di dunia, masih jauh lebih bagus dan memberikan kemudahan untuk melakukan banyak hal.

Nepal memang antik. The Roof Of The World, sebutan untuk Nepal, mampu menjadi magnet bagi kaum hippies. Jalur hippie trail memasukan Nepal menjadi salah satu negara tujuan sejak pertengahan 1950 hingga akhir 1970an. Karena negara ini sangat bersahabat dengan gaya perjalanan semurah mungkin yang dianut para traveller hippie. Dengan biaya murah, otomatis durasi perjalanan akan lebih lama dan lebih jauh dari tempat tinggal mereka.

***

Kathmandu menyambut saya sore itu. Tawaran belasan orang dari berbagai agen dan pemilik taksi  ingin mengantarkan kami ke pusat kota, Thamel.

Saat keluar pintu bandara Tribuvan, jejeran orang-orang yang sedang menunggu calon penumpang atau wisatawan asing yang ingin di antar ke tempat tujuan. Sebagian besar besar dari mereka membawa tulisan-tulisan berupa destinasi wisata menarik di Nepal dan negara tetangga. Saya pun diajak langsung menuju mobil yang akan kami tumpangi menuju Thamel. Tak lupa saya abadikan momen pertama tentang Kathmandu di wilayah bandara. Bukit yang mengintip dari kejauhan dan hampir tertutupi beberapa bangunan meski tak terlalu tinggi.

***

Kathmandu, Nepal. Akhirnya sampai juga di kota pertama sekaligus negara pertama di kawasan Asia Selatan.

Orang yang menawari saya jasa antar ke penginapan bukanlah sopir taksi. Melainkan makelar atau semacam kepala agen perjalanan. Entahlah, bisa jadi ada orang yang memang jago berjualan dan menawarkan jasa lalu mengambil sebagian komisi dan melempar pekerjaan ke orang yang sudah ahli. Sopir yang sudah berpengalaman itu bernama Kashi.

wisata nepal murah
Mr. Kashi, driver yang mengantarkan kami dari bandara sampai ke penginapan di Kathmandu.
wisata nepal
Area luar Tribuvan International Airport.

Saya lebih suka memanggilnya Mr.Kashi. Wajahnya sekilas seperti orang India. Tapi memang benar, beberapa etnis India bermigrasi ke Nepal. Tapi setelah berkenalan, Mr.Kashi tak mau disebut India. Ia memperkenalkan diri sebagai Nepali.

Mr.Kashi tak hanya mengantarkan tetapi juga membagi cerita selama 30 menit perjalanan menuju Thamel. Memperkenalkan Nepal sebagai salah satu negara yang banyak dikunjungi karena alam dan gunungnya. Ia bertanya berama lama saya di Nepal dan apakah akan berencana naik gunung. Saya pun balik menceritakan kunjungan pertama ini saya hanya punya sedikit waktu dan tak sempat pergi ke Pokhara, salah satu lokasi yang ia sarankan dan banyak diminati wisatawan mancanegara.

Rekomendasi beberapa tempat wisata di Kathmandu, Nepal pun meluncur dari mulutnya. Pasupatinath Temple adalah lokasi pertama yang ia tunjukan, meski hanya dari jauh. Kami melewatinya saat perjalanan dari Tribuvan menuju Thamel. Kira-kira satu kilometer dari bandara. Tempat suci bagi umat Hindu ini juga menjadi destinasi wisata yang sering direkomendasikan warga lokal pada turis. Dari jalan raya saya melihat bangunan itu beserta sungai Bagmati yang terkenal. Sama seperti di Indonesia, orang Hindu yang meninggal akan dikremasi, lalu abunya dilarung di sungai tersuci dan terbesar di Nepal.

Tempat utama di Pasupatinath Temple ditujukan bagi Dewa Siwa dan terbatas hanya untuk orang yang beragama Hindu. Tapi rangkaian bangunannya cukup luas. Sehingga, mereka membuka peluang untuk wisatawan yang ingin pergi ke sana, sekaligus menambah pendapatan negara lewat pariwisata. Mr.Kashi menyarankan agar saya datang saat pagi hari, agar tidak terlalu ramai.

open trip nepal
Para pria sedang hangout sore di depan lapak potong rambut.
kathmandu nepal
Suasana dekat area Thamel.

Kemacetan dan ketidakteraturan mudah ditemui di sepanjang jalan. Ah, mungkin kalian yang belum pergi ke Kathmandu akan enggan ke sana, saat saya sudah menyebut kata macet. Tapi percayalah, once in a lifetime, pergilah ke Nepal. Saya seperti berada di sebuah kota yang seharusnya ditinggali orang tua atau kakek nenek saya puluhan tahun lalu.

Bangunan-bangunan yang tampak tua dan lama berada di pinggiran jalan. Sebagian memang dipergunakan sebagai rumah, tapi kebanyakan menjadi dwifungsi sekaligus. Sebagai rumah dan pertokoan atau lebih cocok saya sebut warung kelontong. Rumah-rumah di sana kebanyakan bertingkat minimal dua. Yang wajar hingga tiga atau empat lantai. Tetapi dari depan memang tidak terlalu luas, lebarnya hanya tiga meter saja.

Di sepanjang jalan terutama di depan toko kelontong, selalu ada orang-orang yang nongkrong atau bergerombol. Sore hari yang cerah dan sama seperti di Indonesia terutama wilayah pemukiman penduduk. Waktunya untuk nongrong sore dan bersosialisasi.

Obrolan dengan Mr.Kashi pun berlanjut, ia tampaknya tahu bahwa saya sedikit keheranan dengan suasana di Kathmandu. Tapi memang beginilah adanya dan ia bangga dengan ibukota negara tempat ia tinggal. Mr. Kashi pun menjelaskan bahwa taksi merupakan pilihan terbaik bagi kami, wisatawan yang pertama kali mengunjungi Nepal. Ia pun menunjukkan bus-bus yang sedang ngetam di pinggir jalan. Betapa penuh dan padatnya penumpang yang naik di dalamnya. Untuk pendatang baru seperti saya dan Rudy, jika mau mencoba menggunakan transportasi umum seperti bus, saya harus punya banyak waktu luang selama di Nepal. Padahal sebelumnya, saya sudah bilang bahwa durasi wisata saya hanya seminggu.

Ia pun menyarankan ketika saya bepergian, pilihlah taksi jika tak ingin membuang banyak waktu, karena kendaraan itu tak jelas durasi perjalannya. Tapi bila ingin merasakan pengalaman berbeda ketika jalan-jalan ke Nepal, sesekali perlu mencoba bus umum itu.

cara pergi ke nepal
Orang-orang menutup hidung untuk menghindari debu.

backpacker ke nepal

Kathmandu Yang Berdebu

Sambil berbincang, ia pun mulai memutar lagu-lagu Nepal. Saya pikir sama saja dengan lagu India yang sering terdengar di film-film Bollywood, tetapi ternyata berbeda. Mr. Kashi pun menjelaskan, ya sebagian kami dulunya memang datang dari India, tapi kami Nepali. Dan di sana ada beberapa perbedaan, meski terdengar hampir sama.

Ia juga menawarkan menggunakan air conditioner tetapi ada biaya tambahan. Wow… ketika saya bilang, bagaimana kalau saya tidak ingin biaya tambahan ? Tentu saja, silahkan buka jendela mobil agar ada sedikit udara.

Tapi Mr.Kashi menambahkan, “Saya tak ingin kalian berdua kena debu. Debu di Nepal terutama Kathmandu sangat banyak. Lihat!” Ia menunjuk jalanan dan debu yang berterbangan.

Kedatangan saya di akhir September 2018 akhir dari monsoon, ternyata tidak berdampak cukup signifikan dengan debu-debu yangmembuat Kathmandu terasa tak pernah dibersihkan. Mr.Kashi pun tak terlalu tahu kenapa Kathmandu penuh debu. Meski jalanan beraspal, terlihat jelas kumpulan debu yang membumbung naik ke atas jika ada aktivitas kendaraan yang agak ugal-ugalan.

Setiap pagi selama di Kathmandu baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Ada jadwal tertentu bagi pemilik rumah atau toko yang letaknya di pinggi jalan untuk menyiram jalanan dengan berember-ember air. Seperti kebiasaan orang-orang di sekitar saya di Indonesia. Saat udara terasa panas, menyiram air ke jalanan menjadi jalan keluar agar mendapat udara yang agak adem. Memang untuk itu, Di Kathmandu mereka berusaha mengendalikan debu dengan menyiram air. Byurrr…. akibatnya debu lumayan teratasi, tapi becek ada di mana-mana dan air bercampur dengan debu atau tanah. Gumpalannya sungguh tidak bersahabat, sehingga membuat harus hati-hati berjalan kaki, apalagi ketika ingin masuk tempat makan.

Saya perlu membersihkan alas kaki dengan keset dan berusaha menghilangkan beceknya. Pernah suatu kali, saya asal saja masuk dan berhasil membuat jejak sandal di atas keramik yang baru saja di bersihkan. Oh keterlaluan sekali. Untungnya sang pemilik restoran memakluminya.

paket wisata ke nepal

biaya backpacker nepal
Toko kelontong yang ada di Kathmandu, Nepal.

Debu-debu itu juga membuat toko-toko yang buka terlihat diselimuti butiran pasir. Betapa lelah mereka membersihkan bagian luar bangunan. Bahkan ketika kami mau makan di beberapa restoran. Pramusaji pun dengan sigap selalu membersihkan terlebih dahulu meja yang akan ditempati tamu. Mengambil kain lap basah untuk menyapu lapisan debu, bahkan di meja atau kursi.

Suatu ketika saat saya mau membeli makanan ringan di sebuah warung. Saya pikir mereka menyimpan cemilan dan barang dagangan dalam jangka lama, tapi dengan mudah menjual kembali kepada kami. Barang-barang mereka, meski hanya sekedar makanan ringan terdapat debu yang menempel di bagian bungkusnya. Dan saya pikir itu stok lama. Padahal itu akibat debu yang sulit dikendalikan.

Semua orang yang keluar rumah  harus bersiap dengan masker. Mau naik motor, naik kendaraan umum, bersepeda, sampai jalan kaki pun. Kebanyakan menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajah mereka. Kecuali mereka melewati gang atau jalan kecil yang sudah mereka ketahui tak banyak terdapat lalu lalang kendaraan.

Saya pikir polusi utama di Kathmandu dan Nepal secara keseluruhan adalah debu.

Adakah Traffic Light di Kathmandu ?

Dalam perjalanan itu, Mr.Kashi mengenalkan kami pada kebiasaan-kebiasaan Nepali, yang dengan mudah terlihat di jalanan. Termasuk mengajarkan sedikit bahasa Nepal dan perbedaanya dengan bahasa India. Aksennya dan cara pengucapannya. Sesekali ia menerima telepon dari rekannya, tanpa berusaha mengacuhkan kami berdua. Ketika pembicaraan di telpon usai. Ia kembali lagi bercerita tentang beberapa hal, termasuk pemerintahan di Nepal yang telah lama berganti dari kerajaan menjadi republik.

Saya pun ditunjukkan sebuah museum yang dulunya menjadi tempat tinggal raja. Termasuk bagaimana Nepal menganut paham sekuler yang tidak mencampurkan agama dengan negara.

What a beautiful conversation… dan tiba-tiba, Mr.Kashi mendadak mengerem mobil. Saya kaget, tapi dia tersenyum dan mengatakan semua baik-baik saja. Sebuah mobil tiba-tiba datang dari arah berlawanan ketika kami akan melewati pertigaan. Tanpa klakson, dan kejadian itu berakhir biasa saja.

Mr.Kashi berujar, “There is no traffic light.”

Hah… saya dan Rudy pun saling berpandangan. Terlihat jelas di mata kami, kalau jalanan lumayan padat dan banyak lalu-lalang kendaraan. Tapi tak ada lampu lalu lintas.

Tapi menurut saya, Mr.Kashi menjelaskan kondisi di jalanan yang kami lewati. Sebenarnya, lampu lalu lintas ada di jalan raya besar yang pernah saya lalui beberapa hari setelahnya menuju kota lain di Nepal. Namun, saat di Kathmandu, memang tak banyak, terutama daerah yang menuju arah Thamel.

Hebatnya, meski hampir terjadi tabrakan. Tak ada umpatan yang keluar dari salah satunya, bahkan keributan. Mereka menganggap rem mendadak dan lainnya hal biasa. Mereka berlalu dan mengambil jalan berbeda, seperti tidak ada peristiwa berarti. Kata Mr.Kashi, mereka hanya perlu lebih berhati-hati saja.

Tidak semua pengendara memacu mobil atau motor dengan seenaknya. Di jalanan yang cukup padat tak ada kesempatan untuk ngebut. Apalagi di tempat yang bisa menghasilkan debu cukup banyak.

Di bagian jalan yang lain. Kami melewati jalur yang sangat ramai dari tiga arah sekaligus. Bayangkan, tidak ada lampu pengatur jalan dan macet pun terjadi. Di belakang saya mobil dan motor besar. Di depan ada sekuruman taksi dan mobil pengangkut barang. Di samping sebelah kiri dan sisi lainnya bus berwarna kuning dan biru yang mengantarkan anak-anak sekolah.

Tampaknya anak sekolah di Nepal memiliki fasilitas khusus antar jemput dengan bus sekolah. Bus itu membawa mereka untuk diantarkan ke rumah masing-masing atau tempat yang sudah disepakati. Bus sederhana tanpa pendingin. Jendelanya pun kusam dan sebagian bolong. Menikmati macet dengan memandangi wajah-wajah anak sekolah dasar yang sebagian malu-malu ketika diperhatikan orang asing. Tapi selalu ada satu orang yang istimewa dalam sebuah kelompok, bukan ? Satu anak yang heboh memperlihatkan diri dan mau beraksi ketika difoto. Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain.

Tak ada traffic light, tak membuat jalanan Kathmandu dipenuhi suara klakson. Sangat berbeda dari Jakarta. Mereka sudah paham betul situasinya dan bersabar mempersilahkan kendaraan yang punya potensi lewat lebih dulu untuk bergerak. Beberapa menit kemudian, mobil yang saya tumpangi melaju melanjutkan perjalanan.

pengalaman jalan jalan ke nepal
Kios ikan yang buka saat sore hari.

Memaklumi Jalanan Kathmandu

“Di sini menarik, tapi kalau disuruh tinggal kayaknya pikir-pikir dulu,” celetukan itu keluar dari mulut Rudy. Sambil mengabadikan beberapa momen untuk diunggah di insta story, saya tak menanggapi pernyataannya.

Iya sih, pikir saya. Kathmandu memang istimewa tapi masih jauh dari keteraturan. Bukan berarti negara ini tidak bagus. Melainkan memang sedang menunggu untuk dibangun. Beberapa bukti lainnya ketia melewati jalanan atau menuju tempat wisata seperti Durbar Square. Masih banyak bangunan yang disangga dengan balo-balok kayu agar tidak ambruk. Gempa 2015 rupanya masih meninggalkan jejak karena Nepal masih perlu waktu lebih banyak untuk membangunnya.

Mobil kami hampir sampai tujuan. Dan lokasi penginapan pertama yang saya tempati ternyata berada di sebuah gang di pinggiran Thamel. Mobil itu naik di tanjakan sebuah gang dan masuk menerobos jalan kecil. Tuntas sudah tugas Mr.Kashi, ia menurunkan kami berdua tak jauh dari Nirvana Peace Home.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *