Liburan memang tak melulu pergi ke tempat jauh selama beberapa hari. Saat punya sedikit waktu pulang ke Solo. Saya sempatkan menjajal naik kereta jurusan Solo-Wonogiri yang baru dengan desain unik. Namanya Batara Kresna.

Lebih baik bepergian pada hari Sabtu dibanding Minggu karena antriannya tidak terlalu banyak. Di Solo, hari Sabtu untuk kebanyakan orang masih menjadi hari kerja dan tidak semua sekolah meliburkan siswanya pada akhir pekan. Sedangkan Batara Kresna hanya beroperasi dua kali sehari. Saya bela-belain datang ke Purwosari untuk antri beli tiket. Meski sebenarnya saya bisa berangkat dari Stasiun Solo Kota yang jaraknya hanya dua kilometer dari rumah.
Stasiun Purwosari jadi stasiun pemberangkatan pertama kereta ini. Ditambah lagi ingin merasakan membelah Kota Solo naik kereta.

Jadwal kereta pertama pukul enam pagi. Tapi karena saya malas berangkat pagi, akhirnya pilih jadwal pemberangkatan kedua. Dua jam sebelum keberangkatan saya sudah sampai di Stasiun Purwosari karena tetap takut kehabisan tiket. Penjualan memang dibatasi karena Batara Kresna bukan kereta yang cukup untuk banyak penumpang. Beruntungnya antrian tidak banyak, jadi tiket masih aman. Eh lagi asyik-asyiknya ngantri ada saja orang yang ngeloyor maju ke depan loket. Refleknya saya langsung mengernyitkan dahi dan menegur, “Antri, Pak!”
Model seperti ini yang masih nyebelin di bumi Indonesia. Mayoritas orangnya masih suka jalan pintas dan nggak mau susah. Eh tapi si Bapak juga dengan enaknya berkilah, “Saya cuma nanya doang.”

Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya Batara Kresna akan diberangkatkan. Isi kereta tidak terlalu banyak sekitar 10 orang. Saya masih sempat ngobrol dengan masinis kereta dan minta ijin masuk ke dalam lokomotif untuk melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya. Bentuk keretannya mirip peluru hampir sama dengan kereta-kereta modern yang ada di Jepang. Tempat duduknya tidak seperti kereta antar kota yang luas, tapi lebih mirip interior busway. Kursinya nggak terlalu luas, tanpa busa empuk, dan ada tali untuk pegangan di bagian atas. batara Kresna hanya punya tiga gerbong, masing-masing bisa diisi sekitar 28 orang. Kursi yang tersedia tidak 28, jadi saat penuh penumpang, sebagian harus berdiri seperti ketika naik bis.

Kereta baru ini jauh berbeda dibandingkan dengan kereta lama jurusan Solo-Wonogiri yang saya naiki sebelumnya. Pengalama pertama ketika masih taman kanak-kanak. Saya dengan beberapa anggota keluarga lain diajak piknik ke Wonogiri naik kereta. Yiuhh, kami menunggu lama bahkan keretanya molor dari jadwal. Dulu orang-orang menyebutnya kereta feeder. Pantas saja jadwalnya jarang tepat waktu ketika datang. Feeder beroperasi tergantung pada kedatangan kereta Bengawan jurusan Jakarta-Solo. Saya masih ingat betul gerbongnya berwarna biru dan oranye. Lusuh, kotor, dan kebersihannya tentu saja tidak sempurna. Zaman dulu, memang kereta ekonomi begitu payah. Selain penumpang masih bisa duduk tanpa kursi, pedagang bebas masuk di setiap stasiun pemberhentian dan perokok masih bebas ngelepus di dalam gerbong dan membuang puntung sembarangan.

Berbeda sekali dengan Bathara Kresna yang sudah dilengkapi pendingin udara, tempat duduk bersih dan nyaman. Jadwalnya pun sudah pasti dan diberangkatkan setiap hari. Baik Bhatara Kresna atau kereta feeder sebenarnya memiliki fungsi utama yang sama. Kereta tersebut menjadi alat transportasi mudah dan murah yang mengantarkan orang-orang Wonogiri atau daerah yang dilewati kereta untuk pergi ke Jakarta. Ketika saya sudah sampai di stasiun Wonogiri dan akan kembali ke Jakarta, beberapa orang membawa tas dan koper. Rupanya mereka memang akan ke Jakarta naik Brantas dari Stasiun Purwosari.

Jalur Kereta Solo-Wonogiri

Jalur kereta yang dilewati Bathara Kresna untuk menghubungkan Solo-Wonogiri dan berakhir sampai Baturetno. Perjalanan pertama memang membelah Kota Solo hingga Stasiun Kota. Saya masih ingat ketika kuliah menyempatkan kembali naik Feeder. Dengan tiket dua ribu rupiah per orang. Di beberapa lokasi keretanya berjalan sangat lamban. Gerbongnya mengayun-ngayun ke kanan dan ke kiri. Bagaimana kalau jatuh terguling? Sedangkan rel berada di atas gundukan tinggi yang kanan kirinya sawah. Saya takut tapi juga terkekeh karena kejadian itu. Gerbong keretanya lusuh begitu pula relnya. Pantas saja karena rel sudah berusia lanjut dan belum diganti sejak 1901. Barulah ketika ada pembaharuan, perbaikan dilakukan secara menyeluruh termasuk penggantian bantalan kayu pada rel kereta dengan beton. Sedangkan rel diganti dari tipe R25 menjadi R42.

Meskipun sudah mengalami pergantian cukup signifikan. Ternyata Bathara Kresna memang tidak bisa melaju kencang. Kereta wisata ini hanya boleh berjalan dengan kecepatan 27 km/jam. Lambat sekali. Tapi penumpang yang menaikinya bisa mengamati daerah yang dilalui lebih detil. Melewati tengah kota, kendaraan harus rela mengalah demi Batahara Kresna. Jika melewati perempatan, polisi akan berjaga-jaga agar kendaraan yang lain bersiap untuk berhenti. Ditambah klakson kereta yang dibunyikan terus menerus sebagai pertanda kereta lewat. Jadilah Bathara Kresna tontonan dan pusat perhatian.

Selain itu, pemukiman warga yang jaraknya kurang dari satu meter juga dilewati. Kereta berjalan super lambat dan pemandangan akan dipenuhi dengan jemuran dan rumah bagian milik warga sekitar. Tapi pemandangan akan silih berganti ketika memasuki Sukoharjo. Sawah-sawah yang sedang digarap petani, rumah dengan pekarangan luas, bahkan sesekali pemakaman umum. Memasuki Wonogiri, pemandangan semakin apik karena melewati bukit kapur dan beberapa sawah. Yang tak lama kemudian sudah berakhir di Stasiun Wonogiri.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *