taman kota

Sebulan sebelumnya, teman saya sempat keki dan marah- marah di salah satu akun sosial medianya karena kena tipu di satu pasar terkenal, Ben Thanh Market. Pas beli makan uang kembaliannya kurang dari yang seharusnya. Ia juga curhat beli simcard mahal, tapi paket datanya kosong.

Untuk persiapan sebelum ke Vietnam, saya sudah berulang kali mencari tahu tentang berbagai macam scam atau tipu – tipu yang biasa terjadi di sana. Saya berburu informasi agar tidak menjadi korban penipuan selanjutnya selama di Ho Chi Minh City. Karena sudah membaca banyak review dan cerita dari sejumlah blog, rasa percaya diri saya cukup tinggi untuk menghindari penipuan jalanan yang bisa memotong uang saku kami berdua.

Saya juga wanti-wanti berulang kali ke Rudy agar lebih hati-hati dengan orang yang tidak dikenal. Hal paling parah yang saya takuti, kalau kami berdua bisa kena gendam dan nurut saja diperdaya orang tidak dikenal.

Saya dan Rudy memang sudah berencana jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Toh setelah googling jaraknya tidak terlalu jauh, paling dua tau tiga kilometer. Sekalian melihat-lihat suasana kota. Saya paling bersemangat ketika jalan kaki saat liburan. Meski akhirnya keringat bercucuran lebih banyak daripada biasanya. Udara di Saigon, nama lama Ho Chi Minh City, cenderung lembab. Tapi polusi udaranya minim sekali, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Jakarta.

Kami jalan sekitar jam delapan pagi waktu Ho Chi Minh setelah selesai sarapan. Mampir sebentar ke Ben Thanh Market untuk sekedar melihat-lihat dan beli beberapa souvenir. Lalu lanjut jalan kaki lagi menuju Notre Dame Cathedral Basilica yang ada di pusat kota.

Taman di Saigon
Jalanan Ho Chi Minh City/Saigon yang ramai. Tetap nyaman karena memiliki trotoar lebar.

Ho Chi Minh City ramah untuk pejalan kaki

Melewati jalan-jalan di Vietnam memang mengasyikan. Trotoarnya lebar-lebar, sehingga nyaman untuk pejalan kaki. Kami sempat nyasar sekali karena lupa minta brosur jalur peta wisata dan tidak membeli sim card lokal. Tapi masalah ini bisa diatasi setelah mampir minum di Highland Coffee, kafe kopi dengan merek lokal yang menjual minuman ala Vietnam. Tentu saja di sana bukan tanpa tujuan, tapi nyari wifi.

Setelah mengamati peta online dengan seksama, kami lanjut jalan kaki lagi. Sekitar 10 menit kemudian, nampaklah gereja peninggalan Prancis dari kejauhan. Kami berdua tidak capek, tapi cukup kepanasan menyesuaikan diri dengan cuaca di Ho Chi Minh. Eh, untungnya di sana ada taman-taman besar yang bisa buat istirahat dan sangat rindang. Duduklah saya dan Rudy di salah satu bangku taman, sambil menegak air dari botol minum ukuran 1,5 liter yang selalu dibawa ke mana-mana.

Sambil santai dan melihat hiruk pikuk jalanan. Saya berniat keliling taman untuk melihat-lihat. Saya tinggalkan suami duduk sendirian di sana. Pikir saya semua aman, karena dana perjalanan saya yang bawa. Rudy sih maunya saya yang urus mulai dari beli makanan sampai pembayaran hostel. Biasa kan, istri memang jadi menteri keuangan dalam keluarga.

Saya asyik memperhatikan pengunjung taman yang kebanyakan memang orang lokal. Mereka sekedar menghabiskan waktu di taman dengan teman-teman sebaya untuk nongkrong atau ngobrol sambil beli jajanan kaki lima. Saking rapi, bersih, dan asrinya taman-taman di Ho Chi Minh. Beberapa orang juga memanfaatkannya untuk hunting foto.

taman di saigon
Taman kota yang asri dan asyik untuk nongkrong.

Beberapa pedagang berlalu lalang menawarkan makanan. Tapi anehnya, sampah tidak ada yang berserakan. Sangat jauh berbeda seperti di Jakarta, di mana ada pedagang kaki lima, sudah pasti areanya akan kotor. 🙁 Beberapa orang yang membawa kotak kecil juga wara wiri menghampiri turis. Ternyata mereka menawarkan jasa membetulkan sepatu atau sandal. Saya melihat satu orang menghampiri turis bule yang sedang duduk dan menunjuk sandalnya.

Si bule tampak sudah menolak dan berujar kalau sandal yang ia kenakan tidak ada masalah. Tapi tukang pembetul sepatu ini tetap ngeyel menunjuk-nunjuk sandal yang dikenakan si bule dan ingin memperbaikinya.

Saya cuma mbatin, ini bisa jadi salah satu bentuk tipu- tipu. Pas tukang pembetul sepatu itu melewati dan menawarkan hal serupa. Saya buru-buru menolak dengan halus dan meninggalkannya. Jadi, semua aman. Itu yang ada dipikiran saya.

Sudah berhati-hati, tetap kena tipu

Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar, saya kembali ke bangku yang diduduki Rudy. Baru saja berbalik, Rudy sudah melambaikan tangan. Saya buru-buru datang, mungkin ada hal penting. Ya memang terjadi hal penting, suami saya minta uang untuk bayar tukang pembetul sepatu yang sudah mengelem bagian kecil sepatunya. Saya tanya berapa yang harus di bayar. Dengan enteng dia bilang,

“450.000 VND.”

Hah, saya kaget dan bertanya ulang. Jangan-jangan lelaki ini salah ucap. Tapi ternyata nggak. Dia kembali mengatakan bahwa kami harus membayar 450.000 VND atau setara dengan Rp 315.000. Masa ngelem sepatu doang, kami harus bayar segitu mahal. Sontak saya jadi geram dan mencecar Rudy dari mana datangnya tukang pembetul sepatu ini.

Taman kota jadi tempat yang nyaman untuk melipir dari ramainya jalan Ho Chi Minh City. (Lihat ada yang sedang kena scam)

Ternyata dari keterangan Rudy, ia datang dari arah belakang bangku dan langsung memegang sepatu kemudian entah apa yang terjadi mengelem sepatu suami saya. Dengan penjelasan seperti itu pun, saya kurang terima jika harus membayar ratusan ribu untuk jasa lem. Saya bersi kukuh tidak mau bayar dan menjelaskan bahwa kami tidak meminta tukang pembetul sepatu ini memperbaiki sepatu suami saya. Ia pun tak mau kalah dengan alasan sudah memperbaiki sepatu dan kami harus memberi upah atas jasanya.

Dengan muka yang otomatis berkerut, saya tetap ngeyel tak mau bayar. Lalu kami pun tawar menawar, sampai akhirnya menarik sepatu Rudy dan mengambil sebuah lapisan busa dari dalam sepatu. Ya ampun, apalagi yang ditaruh di dalamnya. Pantas saja jika lelaki pembetul sepatu ini pasang harga tinggi.

Sampai pada akhirnya ia pasrah, karena saya cuma mau membayar 50.000 VND atau Rp 35.000 dari tuntutan terakhirnya 100.000 VND. Fiuh, di kota yang menurut saya sangat nyaman, scam seperti mencabik citra baik Ho Chi Minh City.

Nah, kalau kamu pas jalan-jalan pernah kena scam nggak ?

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *