Cerita Kain Tenun Sade – Ritual Hingga Syarat Pernikahan

Sambil menyusuri gang kecil, pemandu muda ini bersemangat mengalunkan cerita tentang Sade dan seluk beluknya. Menunjukkan dengan santun peninggalan nenek moyang yang masih terjaga dan tetap dilestarikan di Desa Sade. Amak begitu bangga pada desa di mana ia tinggal. Lelaki muda ini memang masih belia, sepertinya masih belasan. Tapi gaya bicaranya memang terlihat sedikit dewasa. Muda, beristri, dan memiliki satu anak.

Ceritanya terus berlanjut sampai pada tenun Sade yang tersohor itu. Dengan lancar dan detail, ia menjabarkannya. Seolah sejarah tentang Sade beserta tenunnya telah ia hafal betul. Tak ketinggalan kisah tenun yang berpengaruh pada pernikahan.

5 Tahapan Menuju Menjadi Ahli Penenun

Seorang perempuan sudah diajari menenun kala ia tumbuh menjadi gadis cilik. Jauh sebelum usia belasan datang. Diawali dengan belajar mengepang daun kelapa. Para gadis kecil diajari bagaimana menata lembaran daun secara rapih. Jika sudah mahir di bagian ini. Dilanjutkan belajar menganyam. Pun kembali ia dilatih tentang kerapian sebelum belajar menenun yang sesungguhnya.
kain-tenun-sade
Tak sampai disitu, pada tahapan ketiga. Seorang gadis diuji membuat selendang. Tentu saja setelah ia bisa memintal kapas dan mewarnai benang. Selendang menjadi bagian awal mengetahui ketrampilan menenun. Selendang ini berukuran kecil, 15 cm x 50 cm. Selendang biasanya digunakan untuk ikat kepala atau atribut berpakaian. Untuk ukuran yang lebih besar, selendang menjadi pasangan kain. Penggunaannya diletakkan di pundak, sedangkan kain menjadi bawahan.

Jika sudah mahir menenun selendang. Gadis Sade bisa naik kelas dan menguji ketrampilannya dengan tantangan baru, yaitu menenun sarung. Pakaian ini memang menjadi sandangan wajib di Sade. Pemandu yang menemani saya berkeliling pun mengenakan pakaian modern di bagian atas, yaitu kaos. Tapi di bagian bawah ia menggunakan sarung. Itu juga berlaku untuk lelaki dan perempuan kebanyakan.

Setelah semua level terlewati dengan baik. Gadis Sade sampai pada saat di mana ia diperbolehkan menenun kain. Rata-rata kain tenun yang dibuat berukuran panjang 2- 2,5 meter sedangkan lebarnya 1,5 meter.

Tak berakhir pada penjabaran tahap-tahap yang harus dilalui agar bisa menenun kain dengan berbagai motif. Amak mengajak kami melihat proses memintal benang. Seorang perempuan uzur, tangannya dipenuhi keriput, dengan sabar dan hati-hati masih memintal kapas dengan alat tradisional. Benang digulung dengan rapi hampir membentuk kepompong besar yang terlilit pada sebuah kayu panjang. Benang ini yang nantinya melalui proses pewarnaan alami sebelum ditenun.

Rupanya ia paham bahwa yang datang adalah turis. Kembali ia mengulang proses pemintalan kapas, untuk memperlihatkan kepada kami, orang baru yang bertandang ke Sade, agar tahu tentang bahan pembuat kain tenun. Senyum simpul dengan bekas kinang berwarna jingga pekat di bibirnya. Ia tak banyak bicara tapi aktif dan berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Ketika Motif Tenun Sade Punya Kisah

Amak kembali mengajak tour keliling Desa Sade. Ia membaca minat saya, ingin tahu lebih banyak tentang tenun. Rencana awal, saya ingin berkeliling untuk melihat-lihat sendiri gubuk-gubuk kecil penjual berbagai macam tenun. Memilih-milih dan menawar harga, siapa tahu ada yang cocok. Tapi pintarnya pemandu ini, mengarahkan saya untuk membeli tenun Sade yang dibuat oleh rekanannya. Dari beberapa deret, Amak mengajak saya ke sebuah kios sederhana milik perempuan muda. Ia begitu muda terlihat jelas dari wajahnya yang tampak masih belasan tahun. Jika tinggal di kota, mungkin ia masih mengenyam bangku sekolah menengah atas atau baru menikmati semangat masuk perguruan tinggi. Mungkin perempuan ini istri Amak, tapi saya tak berani menanyakan kebenarannya.

Penjual tenun ini begitu ramah menyambut saya. Dengan senyum merekah dan penampilannya yang sederhana. Penduduk Sade rupanya sudah dilatih bersikap terbuka dengan pendatang baru seperti wisatawan. Desa Sade sudah dijadikan desa wisata, tak ayal pelatihan dan berbagai macam cara bercakap pasti sudah mereka kuasai. Itu terlihat dari cara mereka berinteraksi. Perempuan muda ini mengambil satu lembar kain berwarna kuning, menunjukkan motifnya lebih dekat pada saya. Dia memanggil saya Mbak.

“Mbak, ini kain tenun yang saya buat sendiri ?, ujarnya menjelaskan. “Warnanya dari bahan alami, semua tenun yang dibuat di sini menggunakan bahan-bahan alam. Kalau yang ini warnanya dari kunyit. Sedangkan yang berkilau ini dari benang emas.”

Dengan lancar, penjual yang mengenakan sarung itu, menjelaskan barang-barang yang ia jajakan. Dia juga memberikan pilihan kain dengan motif dan kualitas beragam. Ada beberapa kualitas yang ia tawarkan pada saya. Yang pertama kain tenun dengan motif sederhana, tanpa benang emas. Memiliki motif besar-besar dan mayoritas berwarna gelap. Tapi ada juga motif garis bergabung dengan lengkungan-lengkungan dan guratan berbentuk persegi. Merah tua, biru tua, hijau daun, coklat pekat adalah beberapa warna yang mendominasi kain tenun itu. Warna biru didapat dari buah mengkudu, merah dari kesumba, kuning dan jingga dari kunyit. Warna alam ini menyerap pada benang dan tidak akan memudar. Setelah pemintalan benang dan sebelum proses pewarnaan, nasi dioleskan pada benang yang berfungsi sebagai lilin untuk mengikat warna-warna alami itu. Tidak bisa dijamin antara satu kain yang memiliki warna biru, bisa serupa dengan kain biru lainnya. Tergantung dari seberapa pekat warna yang digunakan dan kualitas bahan alami tersebut. Meskipun begitu, ini yang membuat pewarnaan lebih beragam dan menjadikan kain memiliki warna lebih kaya.

Begitu pula dengan sarung yang ia jual. Memiliki banyak motif dan kualitas. Sarung dijual dengan harga 200 ribu rupiah. Dengan motif asli Sade. Itu harga yang ia tawarkan dan menambahkan harganya bisa ditawar. Kualitas lebih baik yang ia tunjukkan pada saya yaitu kain tenun dengan benang emas. Dengan motif yang indah, kain tenun ini memiliki dua motif berbeda di satu helainya. Jika lipatan kain dibuka, akan terlihat lebih jelas. Dibagian tengah mendominasi motif kecil yang berulang, entah kotak-kotak, garis-garis kecil, elips, segi lima, atau bentuk abstrak berulang dengan ukuran mini. Sedangkan di masing-masing bagian ujung memiliki motif yang berbeda, bisa garis atau ulir dengan warna yang berbeda pula.  Namun, warna kontras disandingkan dalam satu kain. Membentuk kombinasi warna yang apik.

Lalu bagaimana dengan kualitas kain tenun nomor satu yang dijual di kios sederhana yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu ? Perempuan muda ini kemudian mengambil sehelai kain berwarna merah bata yang didominasi benang emas.

“Kalau ini yang kualitasnya lebih bagus, Mbak. Coba sentuh, kainnya lebih halus dan hasil tenunnya lebih rapi. Harganya pun berbeda”, ujarnya sambil tertawa renyah saat meyebut harga kain tenun yang dibandrol 500 ribu. “Tapi ini juga masih bisa ditawar,” katanya menambahkan.

“Kalau mbak mau, bisa ambil kain tenun dan selendangnya yang semotif. Harganya bisa lebih murah,” Penjual itu memberi penawaran lebih menarik.

Rayuannya berhasil, setelah menimbang beberapa lama. Membolak balik motif, melihat dan membandingkan satu warna dengan warna lainnya. Akhirnya pilihan jatuh pada kain tenun berwarna merah dengan benang emas. Saya masih menawar dengan harga lebih murah. Tapi disela-sela negosiasi itu, ia malah mengambil satu kain dengan motif yang jauh lebih bagus, meski dengan tekstur kain serupa seperti yang akan saya beli. Namanya kain sabanaullah. Berasal dari kata Subhanaullah. Ia bercerita, karena keindahan motif kain yang luar biasa, warga Sade menamainya demikian. Tapi memang benar, ada kualitas ada harga. Ia menawarkan dengan nominal yang jauh lebih besar. Di atas 500ribu rupiah.

Penawaran itu membuat saya mundur. Dan akhirnya kembali ke awal, melanjutkan negosisasi untuk membayar kain yang saya minati. Harga yang kami sepakati 350 ribu rupiah. Saya mendapatkan kain tenun dan pasangannya, selendang dengan motif serupa.

Ia masih saja merayu agar membeli lebih banyak kain, sarung atau selendang. Dan memberi kompensasi harga lebih murah. Tapi, saya tak tergoda untuk itu. Satu kain tenun sudah cukup bagi saya, karena secara pribadi membatasi biaya belanja berlebihan saat jalan-jalan.

Cerita tenun Sade tak berhenti di situ. Mereka menjelaskan bahwa setiap kios dimiliki sekitar lima-sampai tujuh rumah. Perempuan-perempuan yang ada di setiap rumah bisa menitipkan hasil kerajinannya di kios kemudian dijual bersama-sama. Mereka bergantian menjaga kios. Uniknya, hasil penjualan diberikan tidak berdasarkan kain mana yang terjual dan uangnya diberikan kepada pembuatnya. Namun, hasil seluruh kain yang terjual dalam kurun waktu tertentu akan dibagi sama rata dan diberikan kepada semua rumah yang menitipkan kain tenunnya di kios itu.

Misalnya ada lima rumah yang menitipkan kain tenun di satu kios. A, B, C, D, E. Masing-masing perempuan di sana bisa menitipkan kain tenun sebanyak yang mereka punya. Jika ada turis yang datang dan membeli kain tenun milik si A dan D di hari itu. Maka, uang yang diterima akan dibagi sama rata untuk A, B, C, D, E. Itu terjadi setiap hari. Tergantung perjanjian pembagian penjualan dilakukan dalam kurun berapa hari sekali. Padahal setiap hari perempuan-perempuan Sade terus memproduksi kain tenun setiap harinya. Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun , sarung, atau selendang membutuhkan waktu 2-4 minggu lamanya. Durasi ini tergantung pada kepiawaian pengrajin, tingkat kerumitan motif, dan ukuran kain yang dibuat. Semakin rumit dan ukuran lebar, maka semakin lama. Hal itulah yang menyebabkan kain tenun dijual dengan harga ratusan ribu rupiah bahkan sampai jutaan.

Kain tenun desa Sade tidak diperjual belikan di tempat umum. Mereka hanya boleh menjualnya di kawasan desa Sade. Sehingga pembeli terbatas pada turis yang datang ke sana. Beruntung jika ada pemborong, rombongan wisatawan, atau mungkin designer yang singgah ke Desa Sade dan membeli kain tenun dalam jumlah banyak. Ini menjadi aturan yang telah disepakati dan untuk menjaga keaslian tenun Desa Sade. Membeli kain tenun tradisional Sade, seperti ikut serta membantu perekonomian warganya. Menenun menjadi salah satu kegiatan yang diperuntukkan bagi perempuan Sade. Mereka menggunakan hasil penjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mistis di Balik Kain Tenun

Satu lagi lembaran kain tenun yang menyita perhatian di kios itu. Kain dengan warna dasar putih berhias motif galur warna hitam dan coklat. Ditambah warna biru, kuning, dan merah bata. Terdapat bale, lumbung menyimpan beras hasil panen dan aktivitas manusia. Kain ini berukuran kecil. Hanya sekitar setengah meter. Dan penjualnya dengan rinci menjelaskan bahwa kain ini adalah tenun tersulit yang dibuat di Sade. Bukan hanya karena motifnya yang menggambarkan kegiatan dan adat istiadat yang terus dipelihara di Desa Sade. Tetapi juga syarat pembuatannya yang di luar nalar.

Kain tenun ini dibuat oleh orang-orang yang ahli. Tak hanya ahli menenun tetapi juga harus kuat terhadap malapetaka yang mungkin saja bisa datang pada dirinya, jika membuat kain tenun dengan motif ini. Satu ritual untuk menolak bala dilakukan dengan mengorbankan satu ekor ayam sebelum  proses menenun.

Dengan penasaran saya bertanya pada perempuan muda penjual tenun “Loh, jadi nanti kalau beli tenun ini, saya bisa terkena sesuatu yang buruk?”

Ia menjelaskan bahwa itu tidak akan terjadi pada pembeli. Mengapa sesaji dilakukan, fungsinya untuk menolak hal-hal buruk tersebut. Dan kalau pun memang ada, si penenun lah yang menanggungnya. Cerita ini cukup membuat bergidik, karena hal buruk itu bisa berupa kemandulan.

Dengan konsekuensi yang begitu berat, tentu saja perlu memberikan perlakuan khusus atau merawat koleksi tenun motif khas Sade ini dengan baik, jika benar ingin membelinya. Itu yang terbersit sekilas dipikiran saya. Dengan harga yang mahal dan pengorbanan yang beresiko untuk mendapatkannya. Tapi cukup tergelitik setelah menanyakan kain ini biasanya dijadikan apa. Ia menjawab dengan lugas bahwa kain itu bisa dijadikan hiasan atau taplak meja.

Ketrampilan Menenun, Syarat Menuju Jenjang Pernikahan

Tenun dan menenun rupanya punya posisi penting di masyarakat Sasak khusunya Sade. Ketrampilan menenun memberikan peran apakah seorang perempuan Sade diperbolehkan menikah atau tidak. Ini menjadi syarat yang tidak bisa dibantah dan wajib dimiliki tiap-tiap gadis Sade. Jika tidak maka ia tidak diperbolehkan menikah. Itulah mengapa ketrampilan menenun diperkenalkan sejak usia dini, sekitar tujuh atau delapan tahun.

Alamat :

Rembitan, Pujut, Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara 83573

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *