Jalan-Jalan Ke Yogyakarta : Itinerary ke Jogja Satu Hari

Yogyakarta tak pernah habis dijelajahi. Entah perlu berapa tahun untuk mengunjungi tempat wisata menarik di Yogya yang jumlahnya ratusan. Kota, desa, pantai, gunung, laut di Yogyakarta selalu punya cerita yang tak habis untuk diulas.

Satu hari di Yogyakarta bukanlah waktu yang panjang. Tiket kereta ekonomi Jakarta-Jogja saya dapatkan pada pemberangkatan Sabtu malam. Kurang dari 24 jam main-main di Yogyakarta. Lalu balik ke Jakarta lagi. Bisa ke mana saja saat jalan-jalan ke Yogyakarta, kalau waktunya terbatas ?

candi-banyunibo
Bagian luar Candi Banyunibo.

bagian-dalam-candi-banyunibo-2

Mengunjungi Candi di Yogyakarta

Saya tak punya rencana mau ke mana. Tak ada itinerary ke Jogja yang disiapkan sebelumnya untuk mengunjungi kota gudeg ini. Kala itu yang terbersit di pikiran saya, bisa melepas penat dari hiruk pikuk Jakarta. Karena kebetulan mendapatkan tiket kereta dengan harga terjangkau. Untungnya saya selalu dijemput teman baik ketika berada di sana. Naik motor keliling kota atau hanya berputar-putar menikmati susana pagi.

Sesampainya di Stasiun Tugu, saya buru-buru ke toilet umum untuk beres-beres dan mandi kilat. Sesudah selesai semua urusan pribadi di pagi hari, saya lekas pergi ke pintu depan untuk menunggu jemputan. Tak berapa lama teman saya pun datang. Kami menjelajahi jalan aspal yang mengarah ke Pantai Parangtritis. Tapi perut lapar meronta, akhirnya peraduan pertama terhenti di warung soto tak bernama. Meski begitu, pengunjungnya cukup ramai. Tempat makannya jauh dari eksklusif. Hanya bedeng dari kayu dan papan-papan yang menanunginya. Gerobak soto berada di salah satu sudut. Mau makan soto pun harus sigap cari tempat duduk. Berbaur dengan penduduk Jogja, sarapan nasi soto panas dan teh hangat. Memulai hari dengan sukacita dari semangkuk berkah yang murah.

Inilah nikmatnya makan di Jogja. Makanan enak tak mahal. Sarapan pagi dalam rangka liburan hanya perlu biaya Rp 30.000 untuk dua mangkuk soto, dua gelas minuman, dan makanan pelengkapnya. Sedap.

Tiba-Tiba Balik Arah

Setelah sarapan usai. Tiba-tiba minat ke pantai berubah. Rasanya hari minggu ini akan cepat habis jika menuju pantai. Durasi perjalanan bisa mencapai satu hingga satu setengah jam. Belom lagi ketika pulang. Lalu kami berbalik arah menuju ke Prambanan.

Mengunjungi candi di Jogja, jadi rencana dadakan yang dilakukan hari itu. Tak perlu bingung. Candi di Yogyakarta begitu banyak. Saya pun menentukan untuk berkunjung ke candi yang belum sempat saya datangi. Salah satu candi yang saya maksud yaitu Candi Banyunibo. Candi ini letaknya tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko. Tapi buat saya yang baru pertama kali mengunjunginya. Tidak mudah menemukan kompleks Candi Banyunibo. Saya dan teman harus bolak balik di jalan raya yang sama untuk menemukan papan arah masuk candi.

Papan yang ada pun tidak terlalu besar dan candi tidak berada di tepi jalan yang mana bangunannya mudah terlihat. Kami harus melewati perkempungan warga dan sawah-sawah. Jalan yang dilalui pun jalan beton yang sepertinya hasil swasembada warga sekitar.

Candi Banyunibo memang sepi pengunjung. Letaknya berada di tengah sawah para penduduk. Sesampainya di sana, saya menghabiskan waktu tak lebih dari satu jam. Hanya da satu candi utama yang berhasil disusun kembali. Sedang di sekitarnya hanya reruntuhan candi kecil.

Perjalanan selanjutnya menghabiskan satu hari di Yogyakarta

Saya sudah bilang kalau Yogyakarta kaya akan candi. Setelah dari Banyunibo, laju kendaraan menyusuri perkampungan dengan jalan yang masih terjal. Naik semakin ke atas. Sudah pernah ke Candi Ratu Boko ? Masih mending melewati jalanan yang ada di sana. Perjalanan selanjutnya tak jauh dari Candi Banyunibo, tapi medan yang kami lewati semakin seru. Sudah beraspal tapi penuh debu. Apalagi kala itu musim kemarau panjang. Cuaca panas dan terik matahari lebih menyengat dari biasanya.

Pohon-pohon yang berada di sisi kanan dan kiri jalan meranggas. Rasanya seperti berada di desa terpencil yang jauh dari kota. Sedang asyiknya menanjak. Motor kami disalip seorang anak muda yang meraungkan gas kendaraannya dengan kencang. Debu kembali beterbangan.

GOPR5362
Saat cuaca cerah, kita bahkan bisa melihat landasan Bandara Adi Sucipto dari teras Candi Ijo.

Candi Ijo yang jadi pemberhentian berikutnya. Sebuah plang mengaruskan kami berhenti jika ingin bertandang ke sana. Kami pun menurut dan langsung parkir di tempat yang disediakan. Hari ini begitu terik, pengunjung Candi Ijo menyerah dan berkumpul di sebuah warung sekaligus tempat parkir motor. Pantas saja, jam menunjukkan hampir pukul 12 siang.

Saya dan teman pun bergegas pergi menuju Candi Ijo dipayungi sinar matahari yang semakin memanas. Lalu buru-buru masuk ke dalam bangunannya. Melihat-lihat serta mengamati bebatuan yang menyusunnya. Tidak seratus persen asli. Memang benar, pasti ada batu yang sudah hilang. Lalu para peneliti menggantinya dengan batu kali baru agar Candi Ijo ini kembali berdiri seperti saat ini.

Dari Candi Ijo pula saya bisa melihat luasnya Yogyakarta. Katanya jika sehabis hujan. Saya bisa melihat landasan Adi Sucipto dari candi ini. Saya menepi di pelataran candi. Duduk berlindung dinaungi bayangan candi dari terik matahari. Tapi ternyata ada pula yang rela berpanas-panas untuk befoto di depan Candi Ijo.

Satu hari di Yogyakarta. Tak hanya berkunjung ke beberapa candi yang belum terlalu terkenal. Kesempatan wisata kuliner pun tak saya lewatkan. Mengunjungi Raminten, salah satu tempat makan ternama yang ada di kota Jogja. Saya merapel makan siang dan sore, sebelum kembali ke Jakarta dengan kereta Progo yang berangkat pukul 14.00 WIB.

Jalan-jalan ke Yogyakarta ini penuh kesan, karena saya mengunjungi tempat wisata candi di Jogja yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Sekaligus merasakan bagaimana memanfaatkan waktu berlibur meski dalam durasi yang singkat saat akhir pekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *