Jajan Che Chuoi Nuong (Grilled Banana)

Saya sudah bangun jam empat pagi. Lalu mandi dan beres-beres karena kami akan melanjutkan perjalanan ke Kamboja pagi itu. Jam enam check out lebih awal dan menunggu jam sarapan dari hostel yang baru dibuka pas setengah tujuh. Rasanya memang agak ngantuk karena habis minum kopi vietnam sore hari sebelumnya, mata saya seperti diganjel dan tidak bisa tidur sampai pukul satu pagi.

Setelah memilih menu sarapan yang disediakan Saigon Marvel Hostel, yang memang bahan utamanya telor dan roti. Saya keluar sebentar ke jalan, daripada nganggur menunggu sarapan dihidangkan.

Pagi hari di lingkungan hostel memang syahdu, mirip seperti perkampungan biasa yang tenang. Padahal malam harinya musik berdentum dan jalanan ramai penuh kendaraan.

Nemu gerobak jajanan di depan Saigon Marvel Hostel. (Oh jangan lihat perutku)

Satu gerobak mangkal tepat di seberang hostel yang penjualnya ibu paruh baya.

Sehari sebelumnya saya nggak mendapati gerobak ini. Iseng-iseng saya hampiri dan melihat apa yang dijual. Dasar tukang jajan, rasanya gatel kalau nggak nyobain makanan ini.

Saya sontak langsung tanya dalam bahasa inggris apa bahan makanannya. Si ibu cuma nunjuk dan bilang, “Banana… banana. Coconut…coconut.”

Grilled banana atau Che Choui Nuong.

Oke, bulatan lonjong mirip empek-empek lenjer ini ternyata banana.

Tapi di bagian mananya ? Karena yang terlihat malah seperti hasil ulenan tepung yang dibakar.

Setelah berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan berbagai macam kode, karena penjualnya tidak bisa berbahasa inggris. Saya paham kalau pisang ada di bagian tengah.

 

wisata kuliner di ho chi minh city
Semacam sagu yang dimakan dengan kuah kelapa. *pengen makan lagi

Terus mana yang disebut coconut ya?

Daripada banyak nanya dan belum tentu terjawab dengan baik. Akhirnya saya memutuskan beli satu porsi dan dibungkus untuk bekal perjalanan selama menuju Kamboja.

Si ibu langsung mengambil stereofoam kecil dan sepotong makanan yang lapisannya bening. Lalu digunting-gunting tak beraturan. Ia menunjuk satu panci penuh cairan kental berwarna putih dan memberi isyarat apakah saya mau menambahkannya.

“Lil bit”, ujar saya sambil mengatupkan ibu jari dan telunjuk yang artinya sedikit saja.

Makanan tadi lalu disiram dengan kuah putih kental dan itulah yang dimaksud dengan coconut atau kuah kelapa.

Satu porsi tadi harganya 20.000 dong (Rp 11.600 dengan kurs Rp 1 = 0,58 dong).

 

Lalu saya pesan grilled banana atau pisang panggang hangat. Penyajiannya pun sama, pisang yang dilapisi semacam tepung tadi dipotong-potong kemudian ditaburi wijen goreng.

Tapi kali ini saya tidak mau pakai kuah kelapa karena nggak mau ribet dan lengket. Harganya pun sama 20.000 dong satu porsi. Aroma pisangnya harum sekali dan saya nyomot satu potong, rasanya enak.

Ada beberapa olahan pisang dan kelapa dengan hasil yang berbeda yang dijual oleh ibu tadi. Pisang tidak hanya dipanggang, tetapi dilumerkan lalu dicetak dan dipotong dalam ukuran kecil. Saya sih tidak beli karena dua porsi sudah cukup untuk bekal.

 

kuliner di Ho Chi Minh City
Penjual grilled banana

Menghabiskan Grilled Banana

Grilled banana nama asli Vietnamnya che chuoi nuong. Lebih enak dimakan saat hangat tentunya. Saat saya dan Rudy menghabiskan dua jenis makanan ini di dalam bis memang tingkat kenikmatannya sudah menurun.

 

grilled banana ho chi minh city
Che chuoi nuoung yang masih hangat.

Pada lapisan che chuoi nuong muncul kilatan minyak di lapisan luar dan ketannya sedikit liat. Rasa pisangnya masih tetap enak, apalagi ada wijen goreng yang aromanya melekat pada makanan ini.

Sedangkan makanan yang satunya semacam sagu yang mengental dan terdapat isian di dalamnya. Setelah mengunyah beberapa kali, saya hanya bisa memprediksi kalau isian tadi adalah kacang hijau yang dihilangkan kulitnya kemudian ditumbuk sampai halus.

Isian sagu hanya sedikit tapi memiliki rasa manis yang pas. Sedangkan sagunya hampir hambar, tak berasa. Kuah kelapa jadi penyelamat karena menambah rasa manis gurih pada sagu. Untuk versi yang satu ini, di makan saat dingin masih enak. Pasti akan lebih sedap saat dikonsumsi hangat, apalagi jika kuah kelapanya lebih banyak dengan taburan wijen goreng di atasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *