Itinerary Liburan Vietnam, Kamboja, Dan Thailand 10 Hari

Itinerary liburan Vietnam, Kamboja, Thailand yang bisa kamu contek – Rute ke Bangkok sampai Vietnam melewati jalur darat memang sudah sangat populer di kalangan pelancong bergaya backpacker. Tapi kami berdua mengambil jalur terbalik dari Vietnam ke Thailand karena satu alasan, waktu itu saya mendapat tiket promo ke Ho Chi Minh City.

Rekan-rekan saya berujar ini perjalanan bulan madu, meski saya dan Rudy tidak pernah merencanakan demikian. Tiket pesawat yang saya beli berjeda tujuh bulan dari jadwal keberangkatan menuju Vietnam. Dua bulan kemudian kami menikah. Kalau ngomongin honeymoon, saya rasa enakan di Bali dan traveling light dengan gaya super santai atau pilih staycation di satu hotel.

Jalan-jalan ke tiga negara sekaligus merupakan pengalaman pertama yang butuh persiapan. Mengingat saya masih kerja ikut orang dan punya jatah cuti terbatas. Memanfaatkan 11 hari yang ada, saya membuat itinerary perjalanan Vietnam, Kamboja, dan berakhir di Thailand dengan mengunjungi lima kota.

Pilihan Yang Tidak Mudah

Dengan waktu yang pendek, tapi banyak maunya. Liburan ke Vietnam, Kamboja, dan Thailand membuat saya harus bolak balik membuat itinerary yang pas, menyenangkan, dan memilih tempat-tempat paling populer di sana. Mengingat kami berdua tak suka jalan-jalan memanfaatkan paket wisata seharian yang semuanya serba diatur, cepat-cepat, lalu berakhir dengan pergi membeli oleh-oleh. Yang awalnya ingin mengunjungi tujuh kota lalu cukup tahu diri karena itu tidak memungkinkan. Yang berasumsi semua lancar tanpa halangan. Tapi ada saja kendala termasuk cuaca yang tak bersahabat.

Itinerary Liburan ke Vietnam

Ho Chi Minh City

Hari 1

Pengalaman pertama ke Ho Chi Minh City saya atur hanya dua malam. Dari bandara Tan Sho Nat, saya segera keluar airport mencari loket penjualan tiket bus menuju pusat kota Ho Chi Minh City. Tapi jangan sampai lupa untuk membeli simcard agar komunikasi selama di Ho Chi Minh City lancar. Pesan lebih dulu lewat online sesuai dengan kebutuhan. Ini rekomendasi pembelian via online dengan paket sesuai dengan kebutuhan.

Selanjutnya, setelah urusan komunikasi beres, saya mengajak Rudy bergegas, karena kami sampai sudah terlalu sore dan jam pembelian tiket serta beroperasinya bus ini dibatasi kalau tidak salah hanya sampai jam lima atau enam sore.

Saya membeli dua tiket bus yang harganya sekitar 200.000 VND dan bisa mengantrakan kami sampai ke pusat kota. Meski kami terbirit-birit lari mengejar bus yang mau berangkat. Petugas ramah yang menjual tiket sigap melayani dan segera mempersilahkan kami berdua masuk. Ia memberi tanda pada kondektur untuk menunggu sebentar lagi.

Bisnya ber-AC, nyaman, dan sangat lega karena hanya ada beberapa orang di dalam yang hampir semuanya membawa koper besar. Dengan tiket seharga 20 ribu rupiah, bus ini memiliki jalur langsung dari bandara ke terminal di dekat Benh Tan Market. Fasilitasnya juga lumayan oke, dilengkapi dengan wifi gratis pula. Untuk kalian yang mendapatkan penerbangan terakhir atau malam hari dan ingin menggunakan mobil pribadi. Terdapat layanan transportasi pribadi dari bandara Than Son Nhat, sehingga memudahkan untuk sampai hotel.

Perjalanan dengan bus dari bandara sekitar satu jam dan langsung menuju sebuah terminal bus Pham Ngu Lao Bus Station 3 yang ternyata lokasinya tak jauh dari Saigon Marvel Hostel. Penginapan ini ada di area backpacker. Di sana banyak sekali agen bus, toko makanan, kafe pinggir jalan, dan puluhan hostel dengan harga terjangkau yang bisa dipilih saat ke Ho Chi Minh City.

Setelah check in dan masuk kamar, kami istirahat sejenak lalu melanjutkan menikmati suasana Ho Chi Minh City dengan wisata kuliner makanan Vietnam.

Hari ke-2

Memulai hari dengan sarapan gratis, banh mi, yang dipengaruhi budaya Perancis. Selepas itu saya langsung keluar penginapan menuju tempat wisata gratis di Ho Chi Minh City yang sangat terkenal sebagai ikon peninggalan Perancis di sana.

Jalan-jalan pagi, sambil menikmati suasana. Ho Chi Minh City merupakan kota yang ramai dengan kendaraan bermotor, uniknya polusi di sana tidak separah Jakarta. Bisa jadi karena diimbangi dengan taman kota yang lumayan luas dan banyak, membuat udara masih cukup nyaman. Setiap pagi & sore hari, banyak warga yang melakukan olahraga di taman-taman.

Rute keliling kota ini juga searah melewati Benh Than Market. Tak mau rugi, saya dan Rudy pun meluangkan waktu berkeliling sejenak di pasar. Kios-kios mulai dibuka, antara penjual baju dan makanan berhadapan, tapi lokasinya berada di blok berbeda dan dibatasi sebuah gang. Kopi Vietnam dengan kemasan berbagai rupa ditawarkan. Mulai dari yang murah hingga yang mahal. Lalu yang tak kalah unik,, wine ular ala Vietnam mudah ditemukan.

Tak ada setengah jam saya menghabiskan waktu di sana. Kemudian lanjut menuju Saigon Notredame – Cathedral yang megah dengan bangunan berwarna merah bata. Saya sangat terkesan dengan Ho Chi Minh City yang masih mempertahankan bangunan kolonial dan memanfaatkannya jadi tempat wisata.

Setelah itu lanjut ke kantor pos bercat kuning yang lokasinya tak jauh dari gereja. Di sana, saya membeli beberapa souvenir dan istirahat di April 30 Park sambil mencicipi jajanan kaki lima yang murah meriah.

Destinasi terakhir kami di Ho Chi Minh City masuk ke Indepandance Palace. Sebuah istana sekaligus kediaman Presiden Vietnam Selatan, selama berlangsungnya perang Vietnam.

Sebenarnya keluar dari Indepandance Palace masih pukul 2 siang. Tapi firasat kami sore ini akan hujan deras. Kami pun bergegas kembali ke hostel jalan kaki lagi. Tak lama setelah masuk hostel, hujan turun deras sekali. Ah… kami manfaatkan waktu untuk tidur siang saja.

Sore harinya, saat masih gerimis, kami lari ke kedai di ujung gang untuk makan Pho. Hujan-hujan makan yang hangat-hangat memang sedap. Ditambah lagi minum es kopi Vietnam yang segar.

Malam kedua ini, saat hujan sudah berhenti, kami habiskan bercengkrama di taman yang tak jauh dari hostel. Jalan-jalan sambil menikmati suasana dan kegiatan warga lokal yang sangat beragam.

“Ho Chi Minh City kota yang indah, taman-taman tengah kota memberi keleluasaan untuk bercengkrama, beraktivitas, dan memenuhi kebutuhan warganya” – CitraNurmi2017

Itinerary Liburan Ke Kamboja

Hari ke-3

Di hari ketiga, sesuai rencana, kami meninggalkan Ho Chi Minh City menuju Phnom Penh. Bus jadi transportasi dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh yang saya pilih. Saya sudah booking tiket secara online beberapa hari sebelum keberangkatan. Tapi buat Anda yang mau beli on the spot pun bisa, karena di sini banyak sekali agen bus antar negara yang bisa didatangi.

Saya lebih memilih waktu perjalanan di siang hari karena ingin merasakan perjalanan darat dan melihat suasana perbatasan. Cara lain yang bisa digunakan berpindah dari Vietnam ke Kamboja katanya lewat sungai Mekong. Mungkin di kunjungan berikutnya saya bisa mencoba rute ini.

Phnom Penh

Jam 3 sore sampai Phnom Penh disambut hujan deras. Untung ada sopir tuk-tuk yang mangkal dan menawarkan jasanya mengantar sampai hostel. Akhirnya sekitar pukul empat sore, saya  bisa rebahan sejenak di atas kasur busa yang empuk. Capek ? Sangat. Tapi ini pengalaman tak terkira yang perlu dicoba untuk mengetahui kondisi negara tetangga kita bukan ?!

Untuk yang ingin berhemat bisa memilih sleeper bus dan berangkat saat malam hari. Ada dua keuntungan sekaligus, bisa hemat waktu dan hemat biaya.

Mengakhiri hari ketiga, kami berdua makan malam di pedagang kaki lima yang tak jauh dari hostel. Pertama kalinya pesan makanan Kamboja yang unik, termasuk telur balut. Kami hanya pesan satu dan yiekss… saya melihatnya cukup geli dan tidak memakannya. Testimoni dari Rudy yang mencoba, “Lumayan enak, dan tulang embrio ayamnya kriuk-kriuk seperti makan tulang muda pada ayam dewasa.”

Hari ke-4

Selamat pagi Phnom Penh. Cuaca pagi yang sangat cerah mengawali hari itu. Termasuk senyum dari para resepsionis hostel. Pagi di mana saya kesulitan mencari sarapan, toko masih tutup dan kedai makanan yang buka sangat jauh dari hostel. Seperti rush hour, kami harus segera bergegas karena sudah janji dengan sopir tuktuk untuk pergi ke The Killing Field. Selepas sarapan dengan mie ikan yang rasanya sangat sulit saya deskripsikan. Kami bertiga menyusuri jalan raya yang sebagian besar lumayan berdebu. Melihat sebagian kecil kota Phnom Penh dan hiruk pikuk arak-arakan kampanye yang tak jauh beda seperti di Indonesia.

Kami pun pergi menyambangi tiga tempat wisata yakni The Killing Field, Toul Sleng, dan Royal Palace.

Dua tempat wisata yang membawa saya mengenal sejarah pahit Kamboja. Sedangkan di Royal Palace, ada bangunan-bangunan indah area kediaman raja dengan detil rumit yang dicat keemasan.

Baca juga : Tempat Wisata Di Phnom Penh Yang Bisa Kamu Kunjungi

Hari ke-5

Bersiap pindah kota menuju Siem Reap. Kami dijemput agen shuttle bus di depan hostel. Sekitar lima jam perjalanan banyak waktu yang saya habiskan untuk tidur. Jam dua siang sampai di kota kedua di Kamboja paling populer. Seperti disengat matahari, cuacanya begitu panas. Alih-alih berkeliling, mau keluar hostel pun saya mesti hitung-hitungan mau pergi ke mana. Untungnya Siem Reap identik dengan jus enak seharga $1 yang mampu mengatasi kegerahan.

Sisa setengah hari berada di Siem Reap pas hari pertama saya tak pergi ke tempat yang jauh-jauh dari hostel. Makan siang pun pilih ke The Moon Cuisine letaknya hanya 100 meter dari hostel. Sore ketika panas sudah agak reda, kami memutuskan pergi ke Old Market. Lalu menghabiskan sebagian malam ke Night Market dan Pub Street. Nongkrong santai di tempat makan, sambil menikmati suasana pusat kota Siem Reap yang lumayan hingar bingar di tengah sepinya kota tua Angkor.

Pulang ke hostel pun tidak malam-malam dan no clubbing. Menyimpan tenaga dan istirahat lebih awal demi bangun pagi.

Day 6

Angkor Wat

Inilah perjuangan melihat salah satu tempat wisata Kamboja yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Perlu ekstra tenaga dan mengorbanan waktu istirahat demi melihat sunrise yang seolah-olah muncul dari sebuah candi. Setengah hari berkeliling di kompleks Angkor waktunya kurang cukup melihat luas 163 hektar.

Di hari ke-6 ini, saya menghabiskan waktu untuk bersantai ria setelah wisata ke Angkor Wat. Duduk-duduk di hostel dan menunggu hingga sore hari tiba. Lalu melanjutkan jalan-jalan ke Pub Street.

Itinerary Liburan ke Thailand

Day 7

Good Bye Kamboja, Welcome Thailand

Awalnya saya sempat kepikiran untuk menggunakan kereta ke Thailand. Tahun 2017 waktu itu, transportasi yang bisa saya tempuh menggunakan bus sampai perbatasan Kamboja – Thailand, lalu melanjutkan naik kereta ke Bangkok. Lagi-lagi, niat itu saya urungkan karena waktu yang begitu pendek dan jam keberangkatan kereta api yang tidak pasti.

Perjalanan Siem Reap ke Bangkok naik bus menempuh waktu sekitar enam jam. Dan sempat berhenti di perbatasan untuk mengurus keimigrasian. Di perjalanan ini, saya bertemu dengan beberapa anak muda asal Jakarta yang juga baru saja liburan ke Angkor.

Bus kami berhenti di tengah kota Bangkok dan menurunkan kami di sekitar kawasan Khaosan Road. Menghabiskan sisa hari, setelah check in di hostel, saya mencari makan malam & jajan di Rambuttri Road.

Day 8

Hari kedua di Bangkok, saya puas-puasin untuk berkunjung ke tempat wisata Bangkok yang popular. Mulai dari Grand Palace, Wat Pho, & Wat Arun. Tiga lokasi ini sudah cukup untuk berkeliling Bangkok. Sore & malam harinya, saya habiskan waktu untuk berkeliling di Khaosan Road.

Day 9

Karena memang ingin mengunjungi dua kota di Thailand. Saya hanya menghabiskan 2 hari 2 malam untuk itinerary ke Bangkok kali ini. Lanjut pagi hari saya langsung ke stasiun Hua Lampong untuk naik kereta menuju Ayutthaya.

Sebenarnya, beberapa travel blogger internasional memberikan saran bisa melakukan one day tour ke sana. Namun, saya menyempatkan bermalam untuk merasakan suasana saat siang & malam hari di kota tua itu.

Tidak menyesal jika ke Ayutthaya menginap, karena memang suasananya begitu tenang. Bagi penggemar candi, kota ini memiliki banyak sekali peninggalan candi-candi tua yang bersejarah.

Untuk hari pertama di Ayutthaya saya hanya bisa mengunjungi Wat Mahatat. Hujan deras menghambat liburan kali ini, karena selang satu jam setelah keluar hotel, hujan turun lagi dengan derasnya. Tapi, saat malam, cuaca lumayan bagus, sehingga saya bisa makan di luar dan mencoba street food. Lalu kami berdua keliling Ayutthaya dengan motor.

Day 10

Hari terakhir liburan, saya sudah merencanakan kembali ke Bangkok pagi hari dengan kereta lalu mampir ke Cathuchak Market untuk belanja. Malangnya ketika sampai di Bangkok sudah pukul 12 siang. Tak lama saya keluar dari stasiun, hujan turun sangat deras.

Liburan kali ini memang agak susah diprediksi karena pendeknya waktu liburan sedangkan kota-kota yang kami kunjungi lumayan banyak. Karena cukup frustasi dengan cuaca di Bangkok. Saya langsung menuju bandara dan menghabiskan waktu untuk makan-makan sambil menunggu penerbangan menuju Kuala Lumpur.

Sampai di Kuala Lumpur hampir tengah malam dan penerbangan ke Jakarta keesokan harinya. Saya sudah memutuskan untuk bermalam di bandara sambil santai menikmati suasana KLIA 2.

Day 11

Penerbangan pertama menuju Jakarta dengan Air Asia dari Kuala Lumpur.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *