Itinerary Liburan Gaya Backpacker Ke Nepal 7 Hari. Full Santai-Santai

Sudah beberapa email masuk dan menanyakan tentang itinerary trip gaya backpacker ke Nepal, saat liburan akhir September hingga awal Oktober 2019 lalu. Tulisan yang lama tertunda dan wajib segera diselesaikan. Jadi, saya ucapkan terima kasih untuk pembaca yang sengaja atau tidak sengaja menemukan blog saya dan menanyakan berbagai hal tentang perjalanan yang pernah saya lakukan. Termasuk tentang ke mana saja saya dan suami pergi selama seminggu ke Nepal.

Di setiap perjalanan, kami berusaha mengumpulkan berbagai macam gambar sebaik mungkin saat bepergian. Tapi tetap mengutamakan kenyamanan liburan. Bukan harus pergi ke berbagai tempat dalam sekali jalan. Karena hal tersebut sangat tidak mungkin dilakukan. Saya sempat mengganti beberapa itinerary di kunjungan pertama ke Nepal. Selain tentu saja dana yang besar jika durasi wisata ke Nepal dalam waktu pendek. Yang utama, ketika memaksakan diri untuk mengunjungi banyak tempat. Ujung-ujungnya pasti akan tidak nyaman dan dikejar-kejar waktu.  Buat apa liburan tapi tergesa-gesa, yang sama-sama keluar uang tapi hasilnya cuma bikin badan capek.

Dengan segala pertimbangan, seperti biasa, saya lah yang punya kuasa paling besar dalam memutuskan ke mana kami akan pergi hehe… Tentu dengan persetujuan setelah itinerary selesai saya buat. Lalu, Rudy hanya iya-iya saja selama masih masuk akal.

Kathmandu – Lalitpur – Bhaktapur – Nagarkot. 4 daerah dengan jarak yang masih bisa kami jangkau dengan waktu yang kami punya, ditambah lagi dana yang sudah disiapkan.

DAY 1 – Kuala Lumpur, cerita di pesawat, dan selamat datang di Kathmandu.

Penerbangan kami pukul 05.35 WIB. Sejak jam 04.00 WIB saya sudah menuju bandara untuk menunggu penerbangan. Kami harus transit dulu ke Kuala Lumpur selama 4 jam. Memilih penerbangan awal memang sudah saya pikirkan masak-masak, karena asumsi bisa sampai ke Nepal saat sore hari. Sehingga tak membuang banyak waktu transit sampai semalam dan kami masih punya waktu untuk jalan-jalan di wilayah ibukota.

Jadwal mendarat memang siang hari, sekitar jam dua siang waku setempat. Tapi mengurus imigrasi dan mencari transport menuju bandara ternyata memakan waktu dua jam. Sore hari, jam 4 kami baru sampai di hostel. Perkenalan dengan Kathmandu pun kami mulai dengan makan momo dan dal bhat. Lanjut berkeliling di wilayah Thamel.

Saya dan Rudy berjalan kaki menyusuri jalanan dan melihat keadaan kota. Ini hanya potongan kecil tempat dari seluruh Kathmandu saja, jadi saya juga tak bisa mengatakan apakah seluruh kota punya situasi sama.

Jalanan yang saya lalui sangat ramai saat itu. Seperti pasar yang baru dimulai saat maghrib. Menemukan orang berjualan sayur pun sangat mudah. Beberapa ibu-ibu menggelar lapak di pinggir jalan. Dengan alas kecil, mereka meletakkan dagangan di atasnya. Tepat di pinggir jalan dengan, situasi yang hiruk-pikuk. Hampir setiap perempatan terdapat kuil atau tempat persembahan, tapi di persimpangan-perimpangan inilah kerap kemacetan terjadi.

Sampai akhirnya saya harus melewati sebuah jalan kecil di mana kondisi sangat macet dan hampir tidak bisa bergerak. Dalam jarak 200 meter yang masih bisa saya lihat, sepanjang jalan dipenuhi dengan motor yang berdesakan dengan jalur tak beraturan. Mirip-mirip kemacetan yang ada di Jakarta ketika saat jam pulang kantor. Lucunya, kemacetan di sana lebih adem, karena suara klakson tidak seriuh di Indonesia. Mereka cukup kalem sebagai pengguna jalan dan cukup sabar mengantre untuk lewat.

Jalan-jalan malam, saya sempatkan mampir ke beberapa kedai teh yang juga menjual black tea dan beberapa bumbu masakan. Sekedar melihat-lihat saja dan menahan diri untuk tidak berbelanja yang tidak perlu. 😀 Banyak wisatawan yang bertandang ke kios-kios kecil untuk membeli teh atau bumbu sebagai cinderamata.

Saya pikir Thamel memiliki kelas-kelas khusus bagi wisatawan backpacker. Dalam artian dari segi lokasi makan, nongkrong, dan berbelanja. Jika mau dapat yang enak-enak, bisa tinggal dan makan di pusat Thamel. Lingkungannya tentu saja nyaman dan strategis dengan café-café serta restoran. Tetapi, jika ingin harga yang lebih terjangkau lagi, bisa menjelajahi gang-gang untuk mendapatkan penginapan dan makanan murah.

Boleh dibilang dengan pengalaman jalan-jalan yang masih minim. Saya bisa mengelompokkan beberapa wisatawan meski dengan label backpacker sekalipun. Mereka yang semakin mature dari segi usia (terutama para bule yang selama ini saya temukan saat bepergian) lebih memilih  tempat yang nyaman. Sedangkan, untuk para anak muda, kebanyakan tak masalah menggunakan fasilitas lebih sederhana dan berhemat agar punya perjalanan lebih panjang. Wajar saja, sering kali faktor usia menentukan isi kantong.

Malam pertama di Kathmandu, saya habiskan dengan keliling Thamel dan keluar masuk toko. Pokoknya saat di sana, perlu upaya besar menahan hasrat keluar uang untuk membeli  barang-barang yang kemungkinan tidak diperlukan. J (Akhirnya saya tetap belanja aksesoris juga-red).

Kegiatan terakhir yaitu ngopi cantik di sebuah kafe kecil dan berbelanja beberapa cemilan di sebuah minimarket. Sempatkan main-main ke minimarket, karena kita bisa menemukan banyak snack menarik yang tidak ditemukan di Indonesia.

Day 2 – Ngapain Aja di Kathmandu.

Hari kedua, waktunya berwisata mengunjungi beberapa tempat di Kathmandu. Saya mengawalinya dengan sarapan di sebuah restoran kecil. Setelah isi bensin selesai. Kami segera menuju Kathmandu Durbar Square yang jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar dua kilometer dari Thamel. Sempatkan jalan kaki sambil pakai masker untuk menghindari debu.

Kalau lagi liburan, selama masih di kota, nggak ada salahnya kok berlelah-lelah sedikit. Ada banyak hal menarik yang bisa kita amati sambil jalan kaki ketika mengunjungi tempat baru. Dibandingkan dengan menggunakan taksi. Saya pun bisa menyempatkan mengambil beberapa gambar yang menarik atau melihat keseharian penduduk lokal.

Kathmandu Durbar Square dan Swayambunath Temple adalah dua tempat wisata yang bisa saya kunjungi di hari itu. Kebanyakan tempat wisata di Kathmandu buka saat pagi hari sekitar pukul delapan dan tutup jam lima sore. Awalnya saya ingin minimal mengunjungi tiga tempat wisata di Kathmandu, tetapi waktu yang tidak memungkinan dan jarak yang lumayan jauh membuat saya mengurungkannya.

Lagi-lagi, sore hingga malam hari saya habisakan di kawasan Thamel puas-puasin belanja dan makan makanan tradisional. Berkeliling di setiap gang yang ada di Thamel untuk lebih dekat dan tahu mengenai kebiasaan warga. Jangan lupa untuk ngopi dan mampir di kedai teh yang ada di sana.

Suggestion : Paling tidak perlu dua hari untuk bisa mengunjungi semua destinasi wisata di Kathmandu, khususnya ikon-ikon yang sudah sangat terkenal. Jaraknya yang lumayan jauh satu dengan lainnya cukup memakan waktu.

Berikut beberapa referensi yang bisa Anda tentukan untuk berwisata selama berada di Kathmandu.

  • Pashupatinath Temple
  • Boudhanath Temple
  • National Museum of Nepal
  • Ranipokhari
  • Narayanhiti Palace

DAY 3 – Apa Kabar Lalitpur ?

Lalitpur jadi daerah kedua yang saya kunjungi saat di Nepal. Dikenal dengan nama Patan, Lalitpur juga punya Durbar Square yang tak kalah ramai dikunjungi wisatawan setiap harinya. Saya pergi ke Lalitpur saat pagi dan balik ke Kathmandu sore hari. Jaraknya hanya 7,6 kilometer dari Kathmandu, jadi kami berdua memutuskan untuk tidak menginap di Lalitpur. Sampai di sana, bayar tiket, masuk ke area yang durbar yang menjadi pusat wisata. Tak banyak yang kami lakukan selama di sana. Selain keluar masuk museum, saya lebih senang berbaur dan mengamati kebiasaan orang sekitar yang ternyata tak jauh beda dari orang-orang Indonesia. Kebetulan waktu itu hari Minggu, Lalitpur menjadi salah satu tujuan wisata bahkan untuk orang lokal.

Saat sore hari, kami pun langsung kembali ke Kathmandu dan menghabiskan waktu di Thamel.

DAY 4 – Salam Kenal Bhaktapur.

Kenikmatan perjalanan di Nepal benar-benar saya rasakan saat di Bhaktapur. Hari ke-4, setelah sarapan lalu melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju daerah ketiga. Perjalanan yang tidak begitu berat ketika menggunakan taksi dengan durasi sekitar 1,5 jam saja.

Hanya semalam waktu yang dijadwalkan berada di Bhaktapur. Tetapi perjalanan ini terasa lebih intim untuk mengenal Nepal lebih jauh. Berhubung Bhaktapur merupakan wilayah desa, banyak hal menarik yang saya temui. Saya dan Rudy mencicipi bara, semacam pancake ala Nepal yang diisi telur.

Di Bhaktapur ada dua hal yang saya sesalkan yaitu tidak banyak belanja, padahal ada banyak barang-barang menarik yang bisa dibawa pulang. Lalu durasi yang hanya semalam, rasanya kurang ketika ingin mendapatkan pengalaman lebih di desa itu. Tak jauh dari penginapan, ada sebuah lokasi pembuatan gerabah serta banyak outlet yang menjual kerajinan tangan. Saking sempitnya waktu kami di sana. Interaksi dengan warga sekitar pun tak terlalu banyak di sekitar penginapan tempat kami menginap.

itinerary-liburan-backpacker-ke-nepal-7-hari
DAY 5 – Hello Nagarkot.

Bangun pagi di rumah warga lokal, saya dapat kemudahan sarapan pagi yang langsung dibuat empunya rumah. Makanan sederhana yang tak pernah lepas dari yoghurt dan black tea. Pemilik rumah begitu ramah dan royal dengan menawari makanan, jikalau saya mau tambah porsi, ia pun mau membuatkan.

Namun, maaf saya dan suami masih punya adab. Jadi, kami makan secukupnya saja. Toh setelah langit cerah, aktivitas di luar sana kembali normal dengan banyaknya pedagang makanan.

Jujur saja kegiatan saya hanya berputar-putar di sekitar area desa. Menginjak hari kedua di Bhaktapur, saya tak henti melihat jam digital di handphone untuk memastikan kalau waktu saya di pagi hari perlu dibatasi. Saat itu, kami berdua belum memutuskan pindah lokasi ke Nagarkot akan naik taksi atau bus.

Hanya sampai pukul 9 pagi waktu setempat, saya punya waktu berkeliling dan lagi-lahi berbelanja. Niat saya masih ingin mencoba kendaraan umum alias bus yang juga dijadikan alat transportasi andalan warga. Tapi sebelum check out, saya sempatkan bertanya pada pemilik rumah tentang transportasi ke Nagarkot. Lagi-lagi hal yang sama terulang, mereka menyarankan kami naik taksi karena khawatir waktu tempuh yang lama dan tidak bisa diprediksi.

5 menit sebelum berpamitan, akhirnya saya dan suami memutuskan, “OK. Kita naik taksi saja!”

Di gerbang masuk desa, sudah menanti berbagai tawaran transportasi ke Bhaktapur dengan harga lumayan menguras kantong (untuk kami yang waktu itu uang sakunya biasa saja). Dua jam perjalanan melewati jalan meliuk-liuk, tidak beraspal, penuh dengan batu, sambil ditemani lagu-lagu lokal yang cocok sekali dengan goyangan mobil yang mengguncang kami, para penumpangnya. Dan tak lama, sampailah di The End Of The World.

Hello Nagarkot, dengan suhu sejuk yang semakin lama semakin dingin menjelang sore tiba.

Inilah Nagarkot yang membuat pengalaman di Nepal lebih mirip liburan yang sebenarnya daripada berpetualang menjelajahi gunung-gunung (yang belum tentu saya mampu daki. Everest ? Oh tidak terfikirkan dari kemampuan ataupun dananya. Nggak terobsesi juga. :P)

Selama di Nagarkot, tidak banyak kegiatan yang saya lakukan. Selain makan di hotel, jalan-jalan sebentar melihat-lihat sekeliling hotel, kembali lagi ke penginapan untuk nongkrong dan mengamati aktivitas Tyson.

Setelah sampai di Nagarkot, check in, keluar dari hotel dan berkeliling sebentar di tempat tinggal warga. Menjelang pukul empat sore, kami kembali ke hotel karena udara sudah mulai dingin dan kami tidak memakai baju hangat. Di teras hotel, kami bersantai dengan wisatawan lain sambil pesan seteko teh panas, yang cepat sekali dinginnya, karena pengaruh suhu. Baru setengah enam, kami bergegas masuk ke dalam restoran dan menutup rapat-rapat pintu. Suhu sudah mulai turun dan sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia seperti kami berdua. Bahkan pemilik penginapan sampai nyeletuk berkomentar kalau kami tidak terbiasa ketemu hawa dingin.

Mau kelayapan jelas tidak bisa karena di luar sana, penerangan jalan minim. Hellloooo Nagarkot  merupakan sebuah desa. Bahkan untuk kembali ke kamar dari restoran hotel pun, kami mesti menyalakan lampu dari handphone. Mau begadang lama pun pasti malas, karena kondisi sangat mendukung untuk segera tidur.

DAY 6 – Berkenalan dengan orang sekitar.

Selamat pagi kabut di Nagarkot. Padahal kami sudah bangun siang dari biasanya. Jam setengah enam pagi keluar kamar dan kabut menyambut. Tamu-tamu lain juga belum terlihat, apalagi kami menanti kalau-kalau ada yang mau hiking ringan di sekitar hotel. Rupanya tidak ada.

Rencana untuk melihat sunrise tentu saja urung karena cuaca yang tak mendukung. Jadilah, pagi hari diisi dengan jadwal menanti sarapan di restoran yang baru buka pukul enam. Dan kami berdua sudah ada di sana lima belas menit sebelumnya.

Teh panas menjadi minuman yang paling ditunggu. Bahkan teh panas tawar, tanpa aroma (melati) seperti yang orang Indonesia gemari. Tentu saja tidak ada. Sampai jam setengah delapan, kami santai-santai sebelum melanjutkan jalan-jalan di sekitar hotel.

Kami bertemu beberapa warga lokal yang selalu takjub dengan kamera, handphone dengan kamera, dan sebagian besar dari mereka sangat tertarif untuk difoto dan melihat hasilnya. Saya dan Rudy menyusuri jalanan yang masih dalam proses pembuatan. Untung saja, malam hari sebelumnya tidak hujan, karena jalan yang kami tapaki masih belum diaspal dan tanah kering dengan bekas jejak truk.

Cerobohnya, kami bepergian tidak membawa air minum. Sehingga tak bisa jalan lama-lama, Karena tidak bertemu orang jualan air mineral. Terpaksa kami balik lagi ke hotel. Pas sekali di jam makan siang sesampainya di hotel, langsung pesan makan siang dan santai-santai saja hingga sore hari.

Pasti, kalian yang membaca cerita saya ini mengira saya menyianyiakan perjalanan di Nagarkot dengan hanya tinggal di hotel daripada bepergian. Tenang, tidak cuma kami berdua kok. Mayoritas wisatawan yang tinggal di hotel bersama kami, melakukan hal serupa. Bahkan ada satu wisatawan dari Norwegia yang melakukan solo traveling dan berkunjung kembali ke Nagarkot hanya untuk bersantai dan sudah ada di sana kurang lebih seminggu.

DAY 7 – Gagal pindah hotel.

Saya memang menjadwalkan tinggal lebih lama di Nagarkot daripada kota lainnya di Nepal. Tujuan saya hanya satu, ingin melihat Everest dari kejauhan. Sayang beribu sayang, cuaca yang tidak mendukung, hanya memberi saya kabut. Bahkan puncak Everest sama sekali tidak kelihatan. Padahal, Nagarkot menjadi salah satu lokasi untuk melihat putihnya Gunung Everest yang tertutup salju.

Di hari ketujuh ini pun, saya berniat pindah hotel supaya tidak bosan. Dan sudah memesan via agoda.com dengan tujuan yang sama.

Sebelum jam 10 pagi, kami check out dan jalan kaki tak jauh ke hotel sebelah yang menjanjikan pemandangan lebih bagus dan tariff sewa lebih mahal tentunya. Kami berdua menggotong barang bawaan dan menapaki jalan berbatu menuju hotel yang lokasinya agak menanjak dan menguras tenaga.

Sampai di sana, sungguh menyedihkan. Ternyata pemesanan hotel saya tidak tercatat (dan saya tidak tahu kenapa bisa kejadian). Di hari itu juga, jadwal pertama dating bulan, yang tumbenan kok perut lebih sakit daripada bulan-bulan sebelumnya.

Duh, saya daripada rugi dua kali. Bayar mahal, tapi tidak dapat pemandangan bagus karena masih berkabut. Kami pun balik lagi ke hotel semula, dengan muka saya yang pucat (beneran) karena menahan sakit perut dan capek menggendong ransel. Ditambah lagi menahan malu karena harus balik lagi ke Hotel The End Of The World.

Hal itu bukan jadi persoalan bagi mereka, kan saya dan Rudy akhirnya jadi nginep semalam lagi di hotel itu dan menghabiskan sangu kami untuk full menikmati makanan hotel yang belum kami cicipi selama seharian. Sudah sakit perut dan tidak bisa keluar ke mana-mana, rasanya Tuhan begitu pengertian karena siang sampai sore hari hujan turun deras. Sehingga pilihan staycation menjadi yang terbaik untuk dilakukan.

DAY 8 – Nepal, Sampai Ketemu Lagi.

Pagi-pagi sekali, saya sudah harus berbenah dan check out dari hotel. Tepat pukul delapan pagi, kami dijemput taksi yang sebelumnya mengantarkan kami dari Bhaktapur ke Nagarkot. Kali ini, pak sopir mengantar kami sampai bandara.

Taksi benar-benar kami sewa hanya untuk berdua dengan impian menikmati pemandangan dan perjalanan. Lalu bisa memintanya berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto. Sopir taksi ini memberi tahu sebelumnya, bahwa kami bertiga akan melewati jalur berbeda ketika berangkat dengan pertimbangan memilih jalan raya yang lebih halus aspalnya dan tidak terlalu berkelok-kelok.

Tak berapa lama kami harus berhenti. Karena ada mobil mogok yang membawa wisatawan asal Tiongkok. Akhirnya, dua pertiga perjalanan, kami harus berdesak-desakan dengan tambahan empat penumpang baru yang membawa tas ransel besar. Yang bikin jengkel, dengan kendala bahasa pun, mereka tidak merasa sungkan untuk nebeng di taksi kami dan mengakusisi kenyamanan yang kami bayar. Tanpa senyum, tanpa bahasa tubuh untuk kenalan.

Yah sudahlah, pikir saya. Nolong orang dan berbagi. Karena kami menuju arah yang sama yakni bandara. Empat orang tadi diturunkan di jalur penerbangan dalam negeri, karena akan melanjutkan perjalanan menuju Pokhara dengan pesawat. Sedangkan saya, lanjut ke jalur penerbangan internasional untuk kembali ke Indonesia dengan transit di Malaysia.

See you Nepal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *