Puncak Gunung Prau masih berkabut, begitu pula langit yang masih gelap. Saya sampai pukul empat pagi di Gunung Seribu Bukit, yang tidak tinggi dan lebih cocok disebut bukit. Anginnya berhembus sepoy-sepoy yang sukses membuat sekujur tubuh kedinginan. Jari jemari sampai kaku perih seperti tertusuk ketika digerakkan. Tak ada yang bisa saya lakukan selain membekap tubuh sendiri menahan dingin demi menunggu satu momen terbaik terbitnya matahari.

Ketika langit mulai digarisi warna oranye, perlahan malam mulai sirna. Semakin lama warna oranye menebal dan beralih merah. Puncak Gunung Prau perlahan terlihat meski dikelilingi awan putih. Golden sunrise Gunung Prau salah satu matahari terbit terbaik yang pernah saya saksikan. Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan puncak Gunung Ungaran yang jauhnya berpuluh kilometer seperti menyatu memunculkan lukisan alam yang begitu indah. Lautan awan mengapung sekilas seperti menghadapi samudera berwarna putih yang dipancari sinar jingga pekat kemerahan. Pagi yang spektakuler!

Sebelum menikmati pemandangan ini, saya harus rela bangun pukul setengah dua pagi. Mas Meno, guide dadakan yang menawari trip singkat ke Gunung Prau sudah berdiri di depan penginapan dengan perlengkapan naik gunung super sederhana. Sedangkan saya yang tak punya rencana naik gunung mau tak mau juga harus siap dengan pakaian seadanya yang tidak tebal. Lengkap kami berempat, saya, RUdy, Mas Meno, dan temannya memulai perjalanan yang tak jauh dari penginapan. Kami berjalan berurutan dimulai dari Mas Meno, Rudy, saya, dan salah seorang guide lain yang saya lupa namanya. Hanya dengan pencahayaan senter, pendakian pendek ini akan berlangsung selama dua jam.

Itu cerita dari Mas Meno, penduduk Dieng yang sudah sering wara wiri naik turun Gunung Seribu Bukit untuk menemani para pelancong. Gunung ini tidak tinggi dan tidak memakan waktu lama untuk didaki. Dua jam bagi para newbie, sedangkan ia sendiri hanya perlu waktu satu jam untuk sampai ke atas. Wow !

Bagi saya yang bukan penggila gunung. Mendaki bukit seribu bisa dibilang susah-susah gampang. Mudah karena tidak terlalu tinggi, sehingga tak memakan banyak waktu. Susah karena tekstur tanahnya yang sedikit berpasir sedangkan tanpa alas kaki yang pas. Saya cuma modal sepatu sandal plastik yang memang tidak disarankan untuk dipakai naik gunung. Tapi hebatnya, para guide yang menemani kami malah lebih ekstrem hanya memakai sandal jepit. 🙁

Gunung Prau terletak di empat Kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Wonosobo, banjarnegara, Kendal, dan Kabupaten Batang. Meski tidak sepopuler Gunung Lawu atau Gunung Merapi yang ada di selatan Jawa Tengah. Gunung Prau punya keistimewaan tersendiri, yaitu sunrise nya yang menawan. Untuk pendaki pemula gunung seribu memang bisa dijadikan tempat hiking yang tidak memerlukan upaya terlalu berat. Saya tidak berencana berkemah, jadi setelah satu jam menikmati matahari terbit Gunung Prau. Saya lekas kembali turun menuju penginapan.

Kembali ke Penginapan
Gunung Seribu ini menjadi lokasi yang paling tepat menyaksikan golden sunrise, sekaligus melihat bunga lonte sore, sebutan untuk bunga daisy, yang sedang tumbuh subur. Lonte sore mewarnai gundukan-gundukan bukit yang meliuk-liuk. Mereka menyebutnya bukit teletubies, seperti pada tayangan berseri Teletubies dimana empat boneka bermain di bukit-bukit. Di musim kemarau, lonte sore yang tumbuh hanya warna putih, pink, dan kuning. Tapi jika saat musim penghujan, dapat menghasilkan warna yang lebih banyak.

Ternyata keindahan Dieng tidak cukup sampai di situ saja. Saat perjalanan turun, saya mendapati pemandangan lahan pertanian berundak-undak milik warga sekitar serta telaga warna yang hijau. Di sisi selatan Gunung Slamet terlihat dilengkapi semburat Gunung Ciremai. Mas Meno memberitahu saya jika saja tidak sedang kabut dan cuaca cerah kawasan pantura tepatnya Weleri serta daerah Kendal dan Batang bisa terlihat dari sini.

Hutan dan Lahan Kentang
Kami mengambil jalur turun yang berbeda dari jalur pendakian. Jika tadi saat naik melewati tanah berpasir, saatnya saya dan kelompok kecil ini menyusuri jalan di sebelah kanan gardu listrik yang ada di sisi lain bukit. Seklias nampak rumah warga dan lengkungan bukit yang menghijau. Sayup-sayup alunan suara mengaji terdengar, mungkin masjid yang ada di sekitar perkampungan sedang memutar kaset ayat suci Al-Quran.

Di jalur ini jalanan lebih menantang. Tidak lagi berpasir tapi begitu sempit dan curam. Jika tidak waspada bisa terpeleset dan masuk jurang. Hiii.. Tapi pemandangan di jalan ini juga cukup apik. Terdapat tebing-tebing tinggi berwarna coklat dengan guratan tajam. Jalan yang kami lalui malah lebih mirip selokan dibanding jalan setap. Begitu sempit dan melengkung ke dalam. Belum lagi tumbuhan di sekitarnya yang subur dan menutupi jalan, sehingga para guide memimpin perjalanan sambil menebangi ranting-ranting. Saya bahkan sempat dibuatkan trekking pole dari ranting yang cukup besar agar tidak terpeleset.

Mas Meno yang cukup aktif berkomunikasi menceritakan tentang kondisi tanah di Dieng yang sudah parah. Sering kali terjadi longsor karena mayoritas lahan yang ada sudah dijadikan tanah pertanian khususnya kentang.

Jalan santai sambil menikmati sebagian kecil kawasan Dieng ini ternyata memakan waktu dua jam. Kami sampai di lahan pertanian penduduk sekitar pukul delapan pagi. Selain kentang, ternyata mereka juga menanam daun bawang dan beberapa tanaman lain. Kami saling menyapa penduduk yang sedang beraktivitas di ladang. Sampai di ujung jalan ternyata terdapat sebuah bangunan candi yang diberi nama Candi Dwarawati.

Rute Menuju Gunung Prau
Gunung Prau memang belum banyak dinikmati. Tapi sudah terbukti, alam yang memanjakan mata ini tak boleh dilewatkan dan wajib masuk ke daftar perjalanan. Bagaimana menuju Gunung Prau?

Cara terbaik berwisata adalah menggunakan motor. Keuntungan yang didapat yaitu menghemat waktu dan biaya. Rute perjalanan menggunakan motor bisa ditempuh dari Yogyakarta-Magelang-Temanggung-Wonosobo-Dataran Dieng. Jalur ini memang berliku dan cenderung menanjak. Setelah memasuki Temanggung sudah bisa dipastikan Gunung Sindoro-Sumbing mengawal perjalanan Anda. Tapi jika ingin jalur yang lebih bersahabat. Ambil rute Yogyakarta(mengambil jalur wates)-Purworejo-Wonosobo-Dataran Tinggi Dieng. Jalur kedua ini juga sering digunakan para pesepeda menuju Dieng.

Rute menuju Gunung Prau dari Semarang :
Dari Semarang, cari bus jurusan Semarang-Weleri atau Semarang-Jakarta. Menempuh 40 km, berhenti di Weleri dan melanjutkan perjalanan ke Sukorejo. Turun di alun-alun Sukorejo dan melanjutkan naik bus ke arah Desa Kenjuren. Perjalanan sejauh 15 km ke Desa Kenjuren sebaiknya carter atau menumpang ke truk sayur karena angkutan lokal jarang ditemui.  Dari arah Temanggung, Anda juga bisa menuju terminal Parakan tujuan Sukorejo dan turun di alun-alun Sukorejo.

Tips Mendaki dan Berkemah di Gunung Prau
Sama seperti mendaki gunung lainnya. Siapkan jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan sepatu nyaman. Dataran Tinggi Dieng memang tak terlalu dingin di musim kemarau, sekitar bulan April-September. Suhu antara 15 hingga 20 derajat Celcius di siang hari dan 10 derajat Celcius di malam hari. Namun, pada musim penghujan di bulan Oktober- Maret, suhu bisa turun drastis sampai 0 derajat. Begitu pula suhu yang ada di Gunung Prau. Jika mendaki pada musim penghujan, maka harus lebih berhati-hati. Jalan yang licin dan sempit, membutuhkan perhatian ekstra meski secara keseluruhan proses pendakian tak terlalu menguras tenaga.

Gunung Prau cocok untuk berkemah masal, karena lokasinya yang luas. Tetapi siapkan perbekalan terutama air minum, karena di puncak Gunung Prau tidak dekat dengan sumber mata air. Selamat menikmati keindahan dari Gunung Prau… Selamat menikmati keindahan Indonesia.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *