Gunung Kawi

Jika Yordania punya Petra dan Leshan Giant Budha milik Cina. Indonesia juga punya pahatan di permukaan tebing. Main ke Bali yuk. Ada jejeran candi yang di ukir pada sebuah dinding batu untuk penyimpanan abu jenasah para raja. Gunung Kawi. Terletak di wilayah Tampaksiring, Gianyar, Bali. Raja Udayana, keturunan Warmadewa diperkirakan membangun Candi Gunung Kawi ini abad ke-11 masehi.

Letak Gunung Kawi nggak begitu mencolok. Ketika saya datang tahun 2013, persemayaman yang sudah dijadikan salah satu obyek wisata ini nggak begitu ramai. Bisa jadi karena saya datang bukan pada akhir pekan dan letaknya yang terlalu jauh dari jalan raya sehingga bikin malas orang pergi ke sana.

Nah benar saja, dari area parkir yang tak begitu luas. Ternyata pintu gerbang ke Gunung Kawi masih di area perkampungan. Setelah membeli tiket masuk yang hanya Rp 10.000,00 saya memasuki gerbang kecil dengan undakan menurun yang tidak begitu luas. Ops, jangan sampai lupa, kenakan juga kain dan ikat pinggang yang diberikan penjaga gerbang sebelum memasuki area ini.

Saya paling senang kalau datang ke suatu obyek wisata yang ga terlalu ramai. Nggak terasa penat dan sangat bebas. Tapi kali ini saya dan Rudy benar-benar berdua aja, memang nggak ada turis lain yang mampir berkunjung ke Gunung Kawi. Serem ? nggak lah.

toko souvenir di gunung kawi
Kios Souvenir di Gunung Kawi berlatar sawah. (Photo by : Rudy Hantoro)

Soalnya setelah menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Terdapat warung-warung kecil yang menjajakan souvenir seperti pahatan tulang, kain rajut, dan aksesoris dari bebatuan. Penjualnya pun ibu-ibu yang sudah lanjut usia dan malah ada yang nenek-nenek. Saya cuma bisa meringis menolak tawaran penjaja souvenir di kios-kios yang saya lewati.

Menuruni beratus anak tangga dibayar sepadan dengan pemandangan menuju Gunung Kawi.Voila, hamparan sawah dengan padi yang menguning ada di depan mata. Tapi belum selesai sampai di situ. Saya harus melewati dinding batu yang mirip seperti gerbang menuju Gunung Kawi. Terdapat tulisan di sebelahnya, bagi pengunjung yang akan masuk area disarankan memercikan air suci ke kepala masing-masing. Air ini diletakkan di sebuah gentong kecil dengan tongkat yang bagian ujungnya terikat daun pandan.

Jadi setiap pengunjung bisa memasukkan tongkat daun pandan tadi ke gentong lalu memercikan airnya ke dahi atau kepala masing-masing. Dan saya melakukannya. Basah deh kepala saya.

Cara ini menjadi simbol untuk pembersihan diri serta menghormati Candi Gunung kawi sebelum mengunjungi area utamanya.

sawah di sekitar gunung kawi
Petak sawah sebelum menuju Gunung Kawi (Photo by : Rudy Hantoro)

Tidak jauh dari gerbang tadi, saya sudah smapai di komplek Candi Empat Gunung Kawi. Disebut empat karenan memang hanya ada empat pahatan di tebing. Megah, bagus, dan artistik. candi Gunung Kawi ini ditemukan zaman penjajahan tahun 1920 oleh seorang arkeolog Belanda. Hmmm, mau tidak mau sebenarnya kita orang Indonesia perlu banyak berterima kasih ke orang Belanda karena banyak sekali penemuan-penemuan  candi pada zaman itu dan mereka melakukan penelitian dan pembenahan terhadap situs peninggalan yang ada di Indonesia.

Obyek wisata ini sepertinya lebih cocok untuk penyuka ketenangan dan jauh dari hingar bingar. Nggak cuma tenang dan jauh dari hiruk pikuk. Lokasi candi Gunung Kawi dekat sekali dengan sungai. yang mana di seberang sungai terdapat pahatan candi utama. Suara gemricik air bikin tambah syahdu pengen gelar tikar dan bobok siang. Rasanya pengen seperti itu. Tapi ini kan tempat suci dan pemakaman. ya mana mungkin bisa?!

Sungai ini diberi nama Pakerisan. Airnya bening jernih dan masih ada ikan yang hidup di sana. Ada lima candi yang terpahat di seberang sungai.

Namanya Candi Kawanan, masyarakat sekitar menamainya demikian. Ada sebuah jembatan sehingga saya bisa menyeberang melihat lebih detil Candi Kawanan yang sebagian dilapisi lumut dan terdapat tanaman-tanaman liar yang tumbuh subur. Di Candi Kawanan inilah terdapat abu jenasah Anak Wungsu dan Raja Udayana. Sebuah selokan kuno ada beberapa meter di depan Candi Kawanan yang airnya mengalir menuju sungai. Selokan ini berisi ikan yang berenang di air jernih. Benar-benar peristirahatan terakhir yang tenang dan damai.

Tak cuma Candi Gunung Kawi, terdapat pula pertapaan Geria Pedanda yang memang fungsinya sebagai tempat bertapa. Meski anginnya sepoi-sepoi dan suasana mendukung, kami tetap saja tak bisa bersantai terlalu lama karena berkunjung ke pemakaman.

Lokasi Candi Gunung Kawi : Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Tampaksiring, Bali.

 

 

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *