Bangunan Tua Gereja Armenia di Singapura

Setelah check out dari Quarters Hostel. Saya memutuskan pergi ke Bugis Junction. Berbekal informasi dari resepsionis, jarak tempuh dari daerah Bay Quay ke wilayah Bugis, memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Tapi tak apalah, namanya juga piknik, tidak begitu masalah berjalan sekitar setengah jam daripada bolak balik naik MRT. Harapan saya, sekalian jalan kaki siapa tahu menemukan tempat-tempat bagus untuk disambangi.

Dengan penuh kepercayaan diri, saya nekat berangkat pukul 9.00 siang waktu Singapura. Jalan santai, sambil menikmati teriknya cuaca. Baru setengah jalan, dalam hati saya sedikit merutuk. Aneh juga rasanya, jalan kaki sendirian menyusuri trotoar jalan. Ditambah lupa memasukkan air minum gratis dari hostel untuk bekal perjalanan. Fiuhh… lama kelamaan keringat saya mengalir juga.

Sepanjang jalan saya melewati tembok bangunan dan hanya segelintir orang yang lalu lalang. Sepertinya, warga Singapura sendiri akan lebih memilih pakai MRT daripada menempuh perjalanan setengah jam dengan jalan kaki. Jalanan pun tak terlalu ramai dan pengendara mobil serta bus umum begitu tertib.

Tiba-tiba langkah saya terhenti. Di sebelah kiri terdapat bangunan tua dan pepohonan yang teduh. Wah..cocok sekali. Rasanya saya perlu istirahat sejenak, sambil melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Tepat di samping gerbang terdapat sebuah papan yang menyatakan bahwa ini Armenian Church atau gereja Armenia. Saya pun masuk dengan hati-hati. Saat itu hari Minggu, saya menjadi sungkan karena bisa jadi ada peribadatan.

Di halaman samping terdapat patung-patung yang memperlihatkan proses jalan salib Yesus. Meski patung-patung yang ada tidak menggambarkan keseluruhan prosesi hingga akhir penyalibannya.

Bangunan putih dengan pilar-pilar tinggi yang megah merupakan karya GD Coleman tahun 1835. Genap setahun pembangunan, gereja Kristen tertua di Singapura dinobatkan sebagai Architectural Heritage tahun 1995. Saya cukup kagum dengan kerja keras Singapura menjaga peninggalan bangunan bersejarah yang usianya lebih dari seratus tahun. Tembok bangunan, cat, serta kebersihannya sangat terjaga. Gereja Armenian ini sempat mengalami pemugaran di tahun 1994.

Perasaan saya jadi tidak enak. Tak terdengar suara orang yang sedang beribadat atau melakukan aktivitas. Saya pun mencari pintu masuk yang ternyata letaknya tidak menghadap jalan. Saya tercengang sekaligus merinding. Hanya ada saya dan suasana begitu sepi. Ditambah terdapat belasan pemakaman kuno di halaman belakang gereja Armenian.
GOPR5649

Bangunan gereja Armenia di Singapura

Memang saya cukup penakut. Tapi siapa yang tidak ngeri dengan atmosfer seperti ini. Saya beranikan diri masuk ke dalam gereja. Pintu masuk langsung menghadap altar dengan karpet merah yang digelar memanjang. Sepuluh bangku tertata rapi bagi umat yang akan melakukan ibadah di sana. Entah tempat duduk itu memang peninggalan sejak ratusan tahun lalu atau menjadi bagian dari renovasi gereja.

Arsitektur gereja Armenian memang unik. Dengan jendela-jendela besar yang melengkung, menggambarkan bangunan ini memanfaatkan ventilasi alami menghadapi iklim Singapura yang panas. Jendela tidak menggunakan kaca patri melainkan jendela kayu. Beberapa jendela dibuka lebar agar cahaya bisa menerangi ruangan bagian dalam, tapi selebihnya ditutup.

Marmer yang menjadi lantai dari gereja Armenian berwarna abu-abu. Secara keseluruhan di bagian dalam tampak begitu bersih. Menandakan gereja tua ini dirawat dengan baik dan dibersihkan secara teratur.

Saya tidak begitu paham perihal ilmu arsitektur. Gaya bangunan serta hal yang terkait dengannya tidak terlalu saya mengerti. Tapi saya begitu menikmati bangunan-bangunan kuno yang masih awet dan dilestarikan oleh pemerintah maupun penduduk lokalnya.

Jika dilihat dari luar, gereja Armenian berbentuk persegi dengan pilar-pilar besar di setiap sisi. Tetapi setelah masuk ke dalam, ruang utamanya berbentuk melingkar dengan lengkungan kubah yang tinggi. Altarnya sedikit menjorok ke dalam, mengisi bagian persegi lain yang kosong. Saya membandingkan dengan gereja Immanuel atau gereja Blenduk yang ada di Semarang. Hampir mirip meskipun tidak secara keseluruhan. Maklum karena saya memang belum pernah masuk ke gereja Blenduk.

Suasana di dalam gereja begitu teduh dan sunyi. Saya kurang begitu tahu, apakah gereja ini masih digunakan untuk beribadah atau hanya dilestarikan sebagai bangunan cagar budaya.

Pemakaman di gereja Armenian

Terdapat belasan pemakaman di halaman belakang gereja Armenian. Semuanya bercat putih. Sepertinya tampilan tersebut merupakan bagian dari perawatan keseluruhan dari gereja. Beberapa makam dilengkapi dengan nisan cantik berupa patung ala Eropa dan ukiran unik. Sedangkan sebagain lainnya berupa nisan yang berbentuk salib.

Pemakaman ini memang sudah sangat tua.  Beberapa di makamkan di akhir abad ke-18. Kata-kata mutiara terpatri dalam batu nisan marmer yang terletak di atas tanah. Seperti pada makam Eleazar Johannes yang meninggal diusia 67 tahun dua bulan 27 hari. Some day some time, our eyes shall see the face loved so well.

Kebanyakan makam-makam tua ala Eropa yang saya temui membubuhkan informasi lengkap tentang siapa yang meninggal. Mulai dari nama, tanggal lahir hingga tanggal kematian. Untuk beberapa orang penting yang memiliki kedudukan tertentu. Jabatan juga dituliskan pada nisan tersebut.

Ada pula sebuah nisan yang begitu menyentuh milik Barister At Law. Saya kurang begitu paham, ini merupakan nama orang atau sebuah jabatan. Di sana terukir kata manis bertuliskan : He is not dead, but sleepeth.

Gereja Armenian memang tampak syahdu sekaligus kontras dengan bangunan di sampingnya. Gedung menjulang penduh kaca menjadi pembeda antara peninggalan sejarah dan kemoderenan.

Saya melihat sebuah mobil dan rumah bercat putih di lingkungan yang sama dengan gereja. Tapi saya tak menyempatkan diri untuk menyambanginya. Pemakaman di gereja Armenian ini begitu teduh, mengingatkan kematian yang akan dialami semua insan.

Bangku putih dari besi diletakkan menghadap ke arah jalan di dekat pemakaman. Saya menyempatkan duduk sebentar untuk beristirahat.  Tapi tak lama, saya segera beranjak pergi, karena memang agak ngeri sendirian di bangunan sepi yang berdekatan dengan makam.

Selamat tinggal gereja Armenian. Jika berkunjung dan punya waktu lebih, saya akan pergi mencari pengurus yang akan memberikan informasi lebih banyak tentang bangunan tua ini.

Alasan saya suka jalan kaki saat city tour daripada sering naik transportasi umum yaitu bisa nemu tempat-tempat unik atau bangunan bersejarah. Meski konsekuensinya harus rela panas-panasan, bisa jadi kehujanan, kesasar, kaki pegal sampai kaki lecet.

Saking bagusnya transportasi MRT dan LRT di Singapura. Perjalanan dari satu stasiun ke stasiun lain cepat sekali. Jarak satu kereta dengan yang lain hanya lima sampai sepuluh menit. Beda jauh dengan komuterline di Indonesia yang kadang lama atau malah gagal beroperasi. Beberapa tempat wisata antara satu dan yang lain berdekatan dan jaraknya masih relatif bisa saya jangkau dengan berjalan kaki. Yah tiga sampai lima kilometerlah. Jadi single traveler di Singapura terasa lebih mudah karena negaranya kecil dan cenderung aman. Aktivitas jalan kaki bukan hal aneh dan sesuatu yang tampak melelahkan. City tour terasa lebih menantang karena saya bisa jalan santai dan sering menemukan bangunan-bangunan peninggalan Inggris yang arsitekturnya menarik.

Salah satunya Gereja Armenian. Gereja yang dibangun GD Coleman tahun 1835 bentuknya masih bagus dan terawat. Di detik pertama pas tidak sengaja melewatinya saya PD alias percaya diri sekali masuk halaman, karena berfikir ada ibadah saat minggu pagi itu. Eh tapi, ternyata gereja kosong mlompong. Ngeri juga sih berada di bangunan tua sendirian.

Tampak dari luar gereja ini berbentuk segi empat dilengkapi pilar-pilar besar pada terasnya. Tepat di sebelah kiri setelah gerbang, patung-patung yang menggambarkan prosesi jalan salib Yesus Kristus dipajang. Halamannya luas dan rumputnya hijau. Tapi sangat sepi.  Setelah masuk ke dalam, ternyata gereja Armenian berbentuk lingkaran yang masih dilengapi dengan bangku-bangku kuno. Entahlah, apakah bangku yang dipajang saat ini sama dengan bangku pada zaman dulu, atau hanya tiruannya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *