Nongkrong di Geographer Cafe Melaka

Jonker Street punya segudang magnet yang sulit ditolak. Jalan ini menjadi pusat keramaian Kota Melaka. Salah satu tempat nongkrong di Jonker Street yang mengundang rasa penasaran yaitu Geographer Cafe. Bangunan tuanya sangat mencolok berada di pojok Jalan Hang Jebat, tapi ditongkrongi banyak wisatawan mancanegara.

Malam sebelumnya, saya sempat singgah persis di depan Geographer Cafe.

Sore menjelang malam, para pegawainya mengeluarkan kursi dan meja untuk dipasang di jalan, tepat di depan kafe. Menggabungkan konsep restoran modern dan arsitektur tua yang klasik. Geographer mampu menyedot perhatian serta mencuri keingintahuan pengunjung Melaka.

Malam mulai datang, beberapa lampu dinyalakan. Termasuk sebuah bola dunia di bagian atas gedung dengan sebuah nama Geographer. Suasana yang sendu dengan lampu temaram menjadi ciri khas Geographer saat gelap datang. Meski begitu, pancaran klasik gedung tuanya membawa perbedaan di antara bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Baru keesokan harinya saya sengaja mampir ke sana lagi. Menghabiskan waktu selepas pergi dari hostel Cheng Ho dengan menggendong ransel dan membawa tas tripot. Saya dan seorang teman memutuskan nongkrong di sini. Berbincang panjang lebar sambil wisata kuliner Melaka khas Geographer Cafe.

Memilih duduk di lantai bawah dekat dengan pintu. Saya merasa hidup di zaman dulu. Di dalam rumah orang Tionghoa totok dengan pintu-pintu kayu yang lebar namun pendek.

Geographer Cafe berdiri tahun 1999 dan resmi digunakan satu tahun kemudian. Cafe ini sempat memenangkan gelar restorasi bangunan dari Persatuan Arkitek Malaysia. Pantas saja jika Geographer menjadi begitu terkenal dan jadi jujugan wisatawan.

Tepat di depan saya segerombolan pria-pria bule sedang asyik bercengkrama. Memesan beberapa bir dan makanan. Masing-masing dari pengunjung restoran ini tampak asyik sendiri dengan aktivitas masing-masing. Ada yang datang bersama teman, makan siang bersama keluarga, atau sekedar mampir untuk minum. Di bagian atas juga digunakan sebagai restoran dengan memunculkan foto-foto sejarah tentang bangunan Geographer Cafe di masa lampau.
Kenapa saya tetap memilih duduk di dekat pintu ? Biar tetap mendapat semilir angin dan bisa melihat lalu lalang Jonker Street di siang hari. Tentu saja sambil makan siang.

Saya tidak buru-buru pesan makanan. Karena para pramusaji nampak sibuk memenuhi pesanan tamu lain. Yah, kenapa harus buru-buru? Waktu saya masih cukup lama meninggalkan Melaka sampai sore nanti. Saya malah lebih sibuk memperhatikan makanan yang dihantarkan pramusaji ke masing-masing meja. Melihat seberapa menarik kuliner yang ditawarkan cafe ini.

Beberapa menit kemudian, salah satu pramusaji laki-laki menghampiri saya. Memberikan buku menu, lalu secarik kertas pesanan kemudian pergi. Saya memesan kopi susu, laksa, satu porsi nasi dan es krim.

Hiruk pikuk beberapa pramusaji melayani tamu. Karena biasanya banyak yang datang bergerombol dan memesan banyak makanan. Saya begitu menikmati atmosfer yang ada di Geographer Cafe. Meski tempatnya begitu sempit, pandangan saya dimanjakan dengan arsitektur dan kekentalan budaya Tionghoa yang tercermin dalam bangunannya.

nasi-lemak-geographer-cafe
Nasi lemak ala Geographer Cafe.

D7K-2838
D7K-2839
D7K-2849

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *