Es Cendol Melaka

Jika bertanya jajanan apa yang khas Melaka. Saya langsung menjawab cendol. Ini minuman yang saya nikmati pertama kali ketika menjejakan kaki di Kota Melaka. Juga cemilan sehari-hari selama berlibur tiga hari di kota pelabuhan ini. Selepas diturunkan bis transnasional di depan air mancur Victoria. Mata saya langsung tertuju ke seberang jalan. Satu lapak yang saya sambangi milik orang India yang khusu menjual es cendol, ketika baru sampai di pusat kota merah Melaka. Kiosnya kecil dengan tiga orang India yang ributnya minta ampun. Salah satu dari mereka memanggil-manggil saya untuk mampir jajan di sana.

Muka saya mudah sekali ditebak. Saya terus didekati dan bilang kalau disini juga ada es cendol, sama seperti di Indonesia. Penjual yang sok kenal sok dekat ini memang cerdik. Meski sebenarnya saya jengah dengan caranya berjualan. Ya sudah, saya dan Rudy akhirnya nurut mampir dan ia cuma senyum-senyum sambil menunjukkan kursi kosong yang ada di bawah pohon.

Di Melaka, es cendol memang jadi minuman khas dan paling populer. Hampir setiap rumah makan menyediakan menu es cendol dengan ragam cita rasa dan toping yang unik. Di lapak kaki lima milik orang India tadi menyediakan es cendol original yang isinya kacang merah, es cendol durian, dan campur. Harganya hanya RM 2,5 – RM 3,5 saja per mangkuk. Tergantung dari toping dan isinya.

Meski sama-sama cendol. Es cendol di Indonesia dengan Melaka sebenarnya berbeda. Di negeri kita es cendol identik dengan cendol dan kuah yang melimpah. Penyajiannya dalam gelas dengan pemanis gula jawa dan santan. Sedangkan ciri khas cendol Melayu yang di jual di Melaka lebih mengedepankan es serut yang disiram santan kental, gula Melaka kental, cendol, dan kacang merah. Setiap pergi ke pasar tradisional dekat rumah, saya selalu mengajak mampir ibu agar dibelikan semangkuk es cendol. Tapi kami lebih biasa menyebutnya es dawet. Cendolnya bukan berwarna hijau tetapi pink dengan kuah yang selalu diisi penuh. Penjualnya memakai tempat tradisional berupa dua buah gentong besar yang dihubungkan pikulan. Satu gentong untuk tempat santannya, yang satu lagi untuk wadah cendol.

Ketika pertama kali makan es cendol Melaka saya cuma bertanya-tanya, “Lha mana cendolnya?” Ciri khas yang unik lainnya meski diberi nama cendol. Penyajian ala Melaka malah minim cendol, lebih banyak es serut dan kacang merahnya. Itu jika saya bandingkan dengan yang ada di Indonesia. Lha saya jadi heran, kenapa tidak diberi nama es kacang merah saja ya? 😀 Lain halnya dengan es cendol durian. Tampilannya memang tidak begitu menarik karena hanya berisi es serut, durian, dan santan. Rasanya lumayan meski tidak bisa dibilang istimewa. Es cendol durian yang saya pesan di kios orang India ini sedikit lebih berkuah dan tidak kental. Lumayan lah sebagai pengobat dahaga di siang hari.

Di warung makan yang lain, saya bela-belain tetap pesan es cendol. Sampai Rudy berkomentar, “Suka amat sama es cendol.” Namanya juga warung, menu sama tapi penyajian pasti berbeda. Di warung milik orang Cina ini. Menurut saya es cendolnya lebih gurih dan enak. Bisa jadi karena santannya jauh lebih kental dan memasaknya lebih jago. Cendol hijaunya juga lebih kenyal. Ditambah lagi gula cairnya dimasak dengan potongan nangka yang ikut tersaji jadi toping, meski cuma seuprit saja. Di pasar malam Jonker street, ada juga kios modern yang menjual es cendol. Versi ini lebih beragam dengan campuran toping yang bermacam-macam. Harganya memang sedikit mahal, tapi dari tampilan lebih menggiurkan dengan ukuran mangkuk yang lebih besar. Ternyata tak cuma di tempat makan pinggir jalan yang murah. Sekelas Hard Rock Cafe Melaka juga jualan es cendol dengan harga khusus di hari kerja. Hanya RM 2,5. Sayangnya Rudy yang sudah bosen makan es cendol nggak mau mampir untuk jajan di sana.

Lain lagi di kopitiam ala Indonesia. Judulnya sih es cendol Melaka. Tapi saya sering kecewa dengan rasa dan penyajiannya. Pengen niru tapi gagal. Di restoran-restoran kopitiam di Indonesia tampilan es cendol juga tidak jauh berbeda seperti yang ada di Malaysia. Umumnya menjual yang original kacang merah dan rasa durian. Cuma yang bikin keki ketika saya cicipi rasanya memang sedikit kecut dan terlalu dingin. Dalam artian semua bahannya dingin, bukan hanya es serutnya saja. Cendol yang disajikan sudah hampir mengeras karena terlalu lama masuk freezer. Ketika digigit bunyinya kres..kres..kres dan tidak lagi seperti makan cendol segar yang hari itu dibuat. Dari segi rasa memang jauh. Yang lebih lucu lagi kalau pesan es cendol durian. Dalam bayangan saya, daging buah durian akan disajikan di atas es sebagai daya tarik utama. Tak apalah jika sedikit, karena saya paham durian itu mahal. Tapi saat sudah ada di depan meja, bukan buah durian segar yang menggoda. Topingnya berupa es krim durian di atas es serut dan cendol yang keras menggumpal. Hahaha. Memang benar, kalau mau tahu rasa asli suatu makanan harus dibela-belain ke tempat asalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *