cidomo

Gili Trawangan jadi pulau yang memusuhi kendaraan bermotor. Tempat ini menjaga kebersihan udara dari asap kendaraan yang sering membuat polusi.

Cidomo, kendaraan tradisional serba bisa yang digunakan untuk berbagai macam hal di Gili Trawangan.

Beberapa bule dan wisatawan yang membawa koper berukuran besar memanfaatkan cidomo dari penginapan menuju pelabuhan. Saking besarnya dan beratnya bawaan bule ini. Cidomo malah mirip angkutan mainan karena terlihat oleng ke belakang ketika dinaiki. Tempat duduk cidomo sempit dan kecil, apalagi diduduki pria bule berbadan tinggi tegap.

Dengan cidomo udara Gili Trawangan memang lebih terjaga, ditambah lagi malah membuka peluang pekerjaan yang bisa dimanfaatkan wisatawan. Sebagian yang tak biasa jalan kaki, lebih memilih naik cidomo untuk berkeliling pulau.

Cidomo merupakan akronim dari cikar, dokar, dan mobil. Secara fisik mirip seperti bendi, andong, atau dokar. Dengan tenaga kuda memang terlihat sama. Tapi ketika saya amti lebih detil, ternyata cidomo menggunakan roda mobil bekas, berbeda dari roda yang digunakan pada andong yang menggunakan kayu. Sedangkan kemiripan cidomo dengan cikar pada fungsinya sebagai alat angkut. Tapi, cidomo berbentuk lebih sederhana jika dibandingkan dengan cikar. Dibadian lainnya, ada kemiripan dengan andong, yaitu bagian atap yang digunakan untuk memayungi penumpang.

Di Gili Trawangan saya memang tidak menyempatkan diri untuk menyewa cidomo. Lebih enak jalan santai berkeliling pulau yang tidak terlalu luas. Dengan adanya cidomo, Gili Trawangan menjadi semakin unik karena menggunakan alat transportasi tradisional sebagai alat angkut lokal. Memang benar tidak ada asap yang mencemari udara di pulau Gili Trawangan. tapi ternyata ada masalah lain yang timbul jika berhubungan dengan kuda. Kotoran hewan ini jadi ranjau darat yang ada di beberapa bagian jalan. Bahkan di jalan utama pulau. Meski kebanyakan cidomo sudah dilengkapi karung, sebagai tempat kotoran kuda atau ember besar di dekat pantat hewan berkaki empat itu. Ada saja kotoran yang jatuh dan berceceran. Ughh…bau!

Jadi ketika sedang jalan-jalan pun, saya harus waspada agar tidak menginjak kotorannya. Setiap pagi pemilik bar atau kafe menyapu area jalan yang tepat di depan kafe mereka. Begitu juga ketika sore hari, saat kafe akan buka. Membersihkan ranjau kotoran kuda ini memang jadi pekerjaan sehari-hari warga sekitar.

Sama seperti alat angkut lainnya, cidomo juga diperiksa secara berkala.

Waktu Yang Tepat Sewa Cidomo di Gili Trawangan
Saya gagal naik cidomo dan males menyewanya ketika di Gili Trawangan gara-gara pas pagi hari berencana berkeliling pulau. Pemiliknya nolak karena saat pagi sampai siang hari cidomo difokuskan untuk mengangkut barang-barang wisatawan baik yang datang atau akan meninggalkan Gili Trawangan.

Saya malah dapat pengalaman naik cidomo saat di pelabuhan Bangsal. Awalnya nggak kepikiran sama sekali untuk naik cidomo. Karena saya beli tiket perjalanan naik kapal kayu termasuk dengan biaya penjemputan dari pelabuhan menuju Ampenan. Setelah saya turun dari kapal, seperti biasa pasti ada saja yang narik-narik tas atau datang menghampiri menawarkan jasa transportasi. Saya sih pede memberitahu kalau kami nanti akan dijemput.

Kami sudah menunggu beberapa menit, tapi tetap tidak ada orang yang datang untuk menjemput. Berbeda kondisi seperti di Padang Baik di mana saya harus menukarkan nota pembayaran dengan tiket atau semacamnya. Setelah saya tanya ke beberapa orang yang punya tiket perjalanan sama dengan saya. Ia memberi informasi kalau jemputan mobil tidak langsung di dekat pelabuhan. Kami semua harus berkumpul di suatu tempat di ujung jalan. Katanya sih tidak jauh dari situ. Saya sih tak masalah jika harus menghampiri meeting point, karena banyak juga wisatawan lain yang nantinya satu minivan bersama saya.

Tiba-tiba ada saja yang nyelonong menawarkan cidomo untuk menuju tempat meeting point. Katanya jauh dan perlu sekitar lima belas menit. Dalam bayangan saya lima belas menit naik cidomo artinya jauh. Setelah tawar menawar yang pelik, saya hanya bayar Rp 15.000 naik cidomo berdua bersama Rudy. Inilah pengalaman pertama naik cidomo dan saya merasa ditipu.

Setelah saya naik dan dihantarkan, ternyata jalur naik cidomo memang berbeda dengan jalur pejalan kaki. Jika saya jalan kaki dari pelabuhan menuju meeting point yang juga rumah makan. Saya hanya perlu jalan lurus, tak perlu belok-belok dan bisa jalan santai. Jika naik cidomo jalannya harus memutar dan melewati semacam terminal kecil tempat kumpul mini van serta bis berukuran kecil dengan jurusan Bangsal ke Ampenan, bandara, atau tempat lainnya di Lombok. Wah pantas saja ia bilang durasi perjalanan agak lama. Karena rutenya berbeda saat naik cidomo dengan jalan kaki. Huh.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *