Choeung Ek Museum : Ladang Genosida di Kamboja Jadi Tempat Wisata Populer

Baru kali ini saya wisata ke kuburan. Ini nggak bohong. Pemakaman masal yang tidak sengaja ditemukan itu awalnya merupakan kuburan China. Hingga tragedi memilukan terjadi di Kamboja. Saat ini, The Killing Field sudah menjadi salah satu tempat wisata di Kamboja yang terkenal.

Hari pertama datang di Phnom Penh, saya sudah ditawari sopir tuk-tuk untuk diantar ke Choeung Ek Museum atau lebih dikenal dengan The Killing Field. Serem ya. Sampai saat menulis pengalaman ini pun, saya masih terbayang lahan dengan ceruk-ceruk lebar bekas evakuasi jenasah.

genosida dikamboja

***

Saya sudah janjian sehari sebelumnya sama sopir tuktuk minta dijemput di hostel setengah delapan pagi. Setelahselesai sarapan, kami berangkat. Jarak dari pusat kota menuju Choeung Ek Museum sekitar 15-an kilometer. Mau nggak mau, semua wisatawan yang akan ke sana harus naik kendaraan sewaan, tidak ada transportasi umum menuju tempat itu. Opsi satu-satunya hanya tuk-tuk yang mudah didapat dan paling terjangkau.

Saya dan Rudy menyewa tuk-tuk $10 untuk mengantarkan ke beberapa tempat wisata Phnom Penh dalam satu hari. Keuntungan lain, tentu selain diantar, saya juga bisa ngobrol dengan sopir untuk tahu lebih banyak tentangibukota Kamboja ini.

Kami dibawa melewati jalan utama Phnom Penh yang trafficnya jauh berbeda dari Jakarta. Lebih sepi danbebas macet. Mobil-mobil yang dipakai pun lebih berkelas. Mulai dari Range Rover, Toyota Hilux, Highlander, ToyotaTundra, dan lainnya. Lexus mirip seperti Avanza di Indonesia. Gampang ditemui dan ada di mana-mana.

Untuk negara yang perkembangannya masih dibawah Indonesia. Kamboja punya selera yang lebih baik soalkendaraan (tapi itu bisa jadi karena regulasi dan pajak yang lebih rendah-red).

Sopir tuk-tuk pun membawa kami menyusuri jalanan yang ramai hingga masuk ke perkampungan warga yang bisa dibilang tidak terjaga kebersihannya. Jalanan masih banyak yang berlubang, apalagi kemarin sore hingga malam hujan deras mengguyur Phnom Penh. Jalan becek dan genangan air di beberapa bagian. Kaleng-kaleng bir bekasbertebaran. Beberapa warung yang kami lewati sedang stok barang dagangan, termasuk aneka merek bir.

Ia berujar harus melewati jalan ini, karena jarak lebih dekat. Terakhir kami melewati jalan kecil yang belumberaspal, sebelah kiri kanan semak-semak. Ditambah lagi bau tak sedap yang entah datang dari mana.

Tak jauh dari situ, atap sebuah menara terlihat di balik pepohonan.

“Udah mau sampai,” ujar Rudy.

“Masa sih?”

“Tuh menaranya udah kelihatan.”

tempat wisata terkenal di phnom penh

choeung ek museum

Tiga menit kemudian, sopir tuk-tuk menurunkan kami berdua di depan pintu gerbang museum.

Dari depan memang sudah tidak terlalu kentara jika lokasi ini bekas ladang pembinasaan ribuan orang. Sejarah kelam Kamboja tidak ingin dikubur dalam-dalam, melainkan dibuka dengan tujuan agar tidak terulang kembali.

Diperjalanan pun sopir tuk-tuk sudah memberitahu, jika saya ingin tuntas melakukan lawatan di The Killing Field,
kira-kira akan menghabiskan dua sampai tiga jam.

Hah ? Siapa juga yang mau berwisata di tempat bekas genosida selama berjam-jam.

Anyway, saya pun mengiyakan saja. Intinya, sopir akan menunggu saya di tempat parkir, sampai saya selesai mengunjungi Choeung Ek Museum.

Memasuki gerbang, di sebelah kanan ada loket pembelian tiket masuk. Satu karcis harganya $3 ditambah sewa audio panduan $3. Satu paket audio dan tiket hanya $5. Inilah cara Kamboja menggunakan sejarah untuk membangun kembali negara mereka. Cukup ironis, karena pemakaman masal tersebut dijadikan bisnis pariwisata yang ternyata ampuh menarik perhatian turis dunia untuk berkunjung ke Kamboja.

Kombinasi Angkor Wat dan genosida mampu meningkatkan 40% pendapatan pariwisata Kamboja sejak 1998. Dan turis yang berkunjung ke negara ini, 30% nya pergi ke The Killing Field. (nationalgeographic.com)

Sejak awal pun saya agak keder dan berat hati akan berkunjung ke sini. Tapi rasa penasaran saya mengalahkan rasa takut. Saya berusaha untuk nempel terus ke Rudy atau kerumunan wisatawan lain dan nggak kelayapan sendiri seperti mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya.

Kunjungan ini tanpa pemandu. Setiap wisatawan dibekali dengan audio yang sudah disiapkan dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Melayu. Tinggal pakai headphone dan bisa mendengarkan segala hal yang telah terjadi di lokasi ini.

Ada 19 titik yang dipasangi nomor. Bukan tanpa alasan, karena di lokasi-lokasi itu, berbagai kejadian mengerikan dari awal para korban di bawa hingga akhirnya dihabisi dan dilemparkan ke lubang yang telah digali.

indonesia travel blogger

tempat wisata phnom penh

Orang-orang yang menjadi korban merupakan mereka yang memiliki pendidikan tinggi di masanya, pejabat pemerintahan, etnis Thailand, etnis Cina, etnis Cham Muslim, orang beragama Kristen, umat Budha dan sedikitnya 25.000 biksu serta elit politik yang bersebrangan dengan Pol Pot.

Saya tidak akan cerita tentang ideologi yang pernah eksis di Kamboja. Melainkan berdasarkan informasi yang saya
dapat dari audio.

Mulanya, lokasi ini secara tidak sengaja ditemukan seseorang. Setelah masa 1979. Kelaparan dan Kekurangan makanan dirasakan sebagian besar warga. Ada seseorang yang sedang mencari kentang di kebun. Setelah menggali ternyata bukan bahan makanan yang didapat tetapi tulang dan jenasah. Dan jumlahnya banyak. Ia pun menghubungi pihak yang berwenang dan melaporkan hal tersebut.

Penggalian dilakukan yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian serta klasifikasi jenasah-jenasah tersebut menurut jenis kelamin dan cara yang digunakan untuk menghabisi nyawa mereka.

sejarah kelam kamboja

the killing field phnom penh

Orang-orang yang dianggap melawan Khmer Merah serta target yang akan dihabisi, dibawa dari beberapa kamp, tapi yang paling banyak dari S21 atau gedung bekas sekolah di tengah kota Phnom Penh. Gedung ini dijadikan penjara sementara sebelum semua tahanan tadi dieksekusi.

Golongan anak-ibu dan pria dibedakan baik dari segi usia hingga profesi mereka. Lalu dibawa dengan truk saat malam hari dalam waktu yang berbeda-beda. Sebagian menyadari bahwa mereka hanya menunggu ajal, tapi ada juga yang berharap terjadi perubahan alias selamat dari penyiksaan yang mereka lalui. Meski, semua itu hanya mimpi. : (

tempat wisata kamboja terkenal

Di Choeung Ek Museum, wisatawan yang datang mendengarkan cerita dan berhenti dari satu titik ke titik lain. Satu sampai tujuh titik hanya berupa papan petunjuk dengan cerita bergambar sebagai penanda bahwa lokasi tadi merupakan bekas rumah untuk penjara sementara bagi tahanan yang dipindahkan. Sekaligus beberapa rumah yang dibangun untuk penyimpanan zat kimia sampai kantor tentara Khmer Merah, yang semuanya telah dihancurkan
setelah tempat ini ditemukan.

Sebagian yang dipindahkan akan dihabisi hari itu juga. Jika tidak sempat dieksekusi akan dimasukkan ke sebuah pondok yang gelap dan lembab, terbuat dari kayu. Setiap harinya korban terbunuh lebih dari 300 orang. Eksekusi pun tidak dilakukan dalam satu waktu. Tetapi beberapa kali, selama 1975-1979. Beberapa orang akan bertemu kematian dengan cara yang menurut saya mengerikan.

Di panduan audio, diceritakan eksekusi dilakukan dengan berbagai cara menggunakan alat tradisional. Menghabisi nyawa pun dilakukan tanpa senjata pistol atau alat-alat dari baja yang mampu mengeluarkan letusan. Melainkan menggunakan benda-benda tradisional yang ada di sekitar mereka.

Sebagian ada pula yang mati ketika diintrogasi dan disiksa di kursi listrik, bahkan ada pula yang dikubur hidup hidup. Khmer Merah menggunakan zat kimia untuk menghilangkan bau busuk korban dengan cara menaburinya setelah eksekusi atau disertakan saat dikubur.

wisata phnom penh

Salah satu yang mengerikan yaitu menggunakan batang kayu dari pohon dengan pinggiran yang runcing dan berduri. Pelepah itu digunakan untuk menggorok leher tahanan yang sudah ditargetkan mati pada hari itu.

Penelitian terhadap jenasah semakin meyakinkan bahwa bambu, kapak, pisau, tombak, lebih dipilih untuk digunakan daripada pistol karena senjata ini dianggap terlalu berharga dan membutuhkan banyak uang untuk membeli amunisinya.

sejarah pahit kamboja

the killing field cambodia

wisata kamboja paling sering dikunjungi

the killing field kamboja

Kami mengitari lapangan utama yang bagian atasnya sudah dibangun papan jembatan. Jalanan ini melewati titik titik penting, termasuk kotak-kotak tempat pemakaman kembali jenasah yang sudah dievakuasi tapi tidak teridentifikasi. Jembatan tadi dibangun bukan tanpa alasan karena sebenarnya evakuasi total belum bisa dilakukan. Banyak jenasah yang masih ada di bawah dan untuk menghormati serta tidak merusak pemakaman, wisatawan yang datang wajib melewati jembatan tadi.

Eksekusi dilakukan pada malam hari, termasuk menghilangkan nyawa anak-anak dan bayi yang orang tuanya menjadi target Khmer Merah. Ini yang paling ngeri, ketika para ibu menyaksikan sendiri bayi/anak mereka dihabisi nyawanya di depan mata dengan cara sangat tidak manusiawi.

cerita genosida kamboja

choeung ek museum

sejarah the killing field kambojaBayi dipegangi kakinya lalu dilemparkan berkali-kali ke pohon Chankiri hingga tewas. Selanjutnya ibu mereka turut dibunuh. Musik diputar keras-keras yang speakernya digantung pada magic tree. Sebuah pohon besar di loksi The Killing Field, untuk menyamarkan teriakan para korban menjelang ajal.

Jasad mereka lalu dilemparkan ke lubang besar yang sudah digali untuk mengubur tubuh-tubuh tak bernyawa.

Saya pun masih bisa melihat tulang-tulang berserakan di beberapa tempat. Termasuk baju para korban yang dipakaisaat dibunuh.

wisata phnom penh

choeung ek museum phnom penh

genosida di kamboja

tujuan wisata phnom penh

tempat wisata terkenal di kambojaPerjalanan wisata paling seram dan menyedihkan yang saya datangi berakhir di menara yang dibangun untuk mengumpulkan tulang dan lebih dari 5000 tengkorak para korban yang sudah dievakuasi dan diteliti.

Genosida di Kamboja memakan 1,7 hingga 2,2 juta orang yang dimakamkan secara massal di 20.000 tempat. Perhitungan ini termasuk dari korban yang meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Kamboja bangkit dan berusaha menyikapi masa lalu yang pahit dengan lebih bijak. Perang melawan penjajah membawa kesengsaraan, tetapi lebih menyedihkan adalah melalui tahun-tahun perang saudara yang memakan banyak korban jiwa.

 

Incoming search terms:

  • ladang coeung ek
  • wisata kelam di kamboja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *