Semuanya serba murah. Chinatown jadi sumbernya membeli pernak-pernik dan oleh-oleh. Semua referensi mengatakan Chinatown jadi sarangnya orang Indonesia yang ingin memborong souvenir dengan harga terjangkau yang berbau Singapura.

Saya nggak punya nafsu belanja yang tinggi saat jalan-jalan. Banyak belanja sama dengan bikin susah. Selain karena lebih boros, saya biasa bawa tas ransel saat bepergian. Sama sekali belum pernah bawa koper. Jadi terbayanglah bagaimana beban di punggung kalau kebanyakan belanja.

Tapi di Chinatown ini, saya lumayan dimanjakan dengan membeli buah tangan paling tidak untuk koleksi sendiri. Beberapa pajangan rumah sudah cukup bikin hati senang dan mudah dimasukkan ke dalam tas. Pohon uang setinggi lima sentimeter dan patung Budha pembawa emas seharga $GD 1 jadi buah tangan. Murah meriah sekali.

Ketika datang menjelang tahun baru cina. Hiasan imlek semakin bertebaran dijajakan, antara lain boneka monyet. 2015 bertepatan dengan tahun monyet api. Dengan berbagai macam bentuk, boneka seharga satu dolar Singapura dijual. Saya tidak membeli, lagi-lagi karena alasan tas ransel. Mulai dari gantungan kunci dan pemotong kuku dengan ikon serta tulisan Singapura dibandrol dengan berbagai harga. Untuk gantungan kunci versi murah biasa dijual dengan harga $GD 10 dan isinya sekitar 20 buah. Memang banyak, tapi kualitas dan bentuknya juga standar sekali. Terlihat lebih pipih serta dicat ala kadarnya. Jika yang ingin sedikit bagus bisa membeli yang seharga $GD 3 per buahnya. Kebanyakan kios menjual barang sejenis tapi harga dan detil koleksi yang membedakannya. Jadi pintar-pintar kita sebagai pembeli. Bolehlah window shopping keluar masuk ke beberapa toko. Tapi saya jamin pasti capek karena begitu banyaknya lapak di Chinatown.

Tas model tote bag harga murah dengan logo Merlion juga bertebaran. Harganya $GD 4 untuk ukuran kecil kalau yang besar bisa sampai $GD 8 sampai 10. Beli tiga $10 jadi hal lumrah yang saya temui sebagai daya tarik di Chinatown. Saya membeli beberapa tote bag ukuran besar bergambar burung hantu. Dan nggak nyangka ketika di Indonesia dengan bahan yang sama tas itu dijual dua ratus ribu per tas. Belanja di siang hari saja sudah bikin gerah kantong selain memang siang hari yang panasnya menyengat. Saya tetap saja keluar masuk toko untuk sekedar melihat-lihat barang yang dijual. Beberapa lapak kecil memang milik orang Tionghoa, tapi juga tidak sedikit orang India yang berjualan di Chinatown. Soal ramah tamah menurut saya hampir sama. Tapi entah kenapa, saya lebih sreg saja belanja ke orang Cina di lokasi ini.

Selain menjadi tempat belanja yang menyenangkan. Sejarah dan arsitektur Chinatown juga menarik. Gedung-gedung dicat dengan warna mencolok dengan dominasi warna merah, hijau pastel, atau kuning pastel. Lampion-lampion digantung zigzag menjadi hiasan sekaligus penerang di malam hari. Sejarah Chinatown Singapura begitu panjang sebagai pusat aktivitas sekaligus tempat dagang bagi kaum Tionghoa di Singapura. Belanja, wisata kuliner ataupun sekedar melihat-lihat kawasan yang unik ini.

Kalau soal makanan Chinatown Food Street rajanya. Sebagian besar restoran sudah buka sejak siang hari. Bule-bule lebih suka nongkrong sambil ngebir daripada berkeliling melihat-lihat. Bisa jadi tidak kuat dengan cuacanya. Menjelang sore, kios yang sebelumnya tutup juga mulai dibuka. Penjual pernak-pernik semakin banyak dan semakin beragam. Tak terkecuali penjual makanan. Ada satu deret kios khusus menjual daging. Entahlah, bisa jadi ragam daging babi. Bergelantungan dan semuanya merah.  Banyak juga orang lokal yang sengaja singgah di Chinatown saat sore hanya untuk belanja beberapa bahan makanan, termasuk daging. Ekspatriat-ekspatriat berpakaian rapi menjejali kawasan ini sepulang kerja. Menutup hari dengan refreshing sesaat dan mencari makan malam. Saya terkesan dengan kreativitas penjual di sini.

Jualan kuaci saja dibuat lebih menarik dengan gradasi warna. Layaknya rainbow kuaci. Semprong yang dijual seharga $GD 5 dan stoknya sangat banyak. Kue keranjang versi Singapura yang kemasannya terlalu modern. Jika di Indonesia saya lebih senang dengan kue keranjang dibungkus daun. Di negara ini sepertinya kemasan sudah bertansformasi dengan mangkuk plastik yang dipres. Di sampingnya seorang lelaki menggunakan microphone berteriak memanggil pembeli lalu membagi-bagikan tester makanan. Semakin malam semakin ramai. Street food bertebaran dan banyak pengunjung yang menghabiskan waktu untuk makan bersama keluarga atau sekedar ngrumpi dengan rekan kerja.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *