Demi menghemat pengeluaran, hostel menjadi pilihan terbaik untuk menginap. Dari tarif murah inilah, ada kisah menjengkelkan hingga konyol  yang mewarnai liburan.

Ketika perjalanan Anda didapat bukan dari sponsor atau tugas dinas. Saya jamin berhemat merupakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menekan pengeluaran. Kecuali jika Anda punya tabungan berlimpah, minimal kerelaan hati mengeluarkan biaya jutaan rupiah per malam untuk sewa kamar, bukanlah suatu masalah.

Buat saya yang gemar cari cara berlibur berbiaya rendah, memilih hostel yang terjangkau yang nyaman malah jadi tantangan tersendiri. Banyak kejadian di luar dugaan yang kerap membuat dahi mengernyit sampai uring-uringan sendiri karena bertemu orang-orang “istimewa”.

Dua malam tinggal di Saigon Marvel Hostel, ada dua kejadian konyol dan super konyol yang saya alami. Tinggal di tempat tidur kapsul yang cukup menjaga privasi, saya tidak terlalu terganggu dengan aktivitas teman-teman lain yang berada di kamar yang sama. FYI, saya selalu pilih berada di mix dorm karena bepergian dengan suami. Ya rasanyanya, nggak enak lah berada di kamar berbeda. Kami sewa bed berlainan, yang modelnya bertingkat. Saya di bawah dan suami di atas.

Meski pergi kemana-mana berdua, kalau sudah sampai di hostel, ujung-ujungnya kami selalu punya aktivitas sendiri. Mulai dari membuat catatan perjalanan, browsing, atau cek foto yang sudah dipotret sebelumnya. Sampai akhirnya sudah tengah malam dan tidur. Untuk  menjaga kenyamanan dan lebih pilih sibuk dengan aktivitas masing-masing, seringnya pun kami ngobrol lewat whats up. Iya benar, meski sebenarnya kami berdekatan. Ingat, kami tidur bersama minimal enam orang yang tidak dikenal dan dari negara yang berbeda. Males kan, kalau tiba-tiba mereka sttt stt sttt karena kami berdua asyik ngobrol atau cekikian.

Jangan dikira karena piknik ke luar negeri, aktivitas harian kami jadi berubah. Bisa keluar malam dan pulang subuh, sebelum ayam berkokok. Alamak, badan saya tentu tidak kuat. Bukannya menikmati liburan, ujung-ujungnya malah meriang. Saat liburan biasanya jadi lebih rajin bangun pagi dan memanfaatkan waktu istirahat yang hanya empat sampai lima jam.

Saya pun membatasi untuk melek hanya sampai tengah malam. Lalu berusaha untuk tidur. Niatnya ingin punya kualitas tidur yang baik, agar badan tetap prima untuk melanjutkan perjalanan. Eh tapi, baru saja mata merem dan benar-benar lelap. Tiba-tiba satu suara dengkuran muncul. Kemudian grok…grok…grokkkk… pun berlanjut.

Ya ampun, apes bener ya. Saya yang tidak bisa tidak terjaga ketika ada suara saat tidur, otomatis terbangun. Mati-matian balik tidur, mulai dari tutup kuping pakai headset, lalu tutup kepala pakai bantal, supaya suara ngorok yang entah datang dari tempat tidur sebelah mana teredam. Tidak sampai dalam hitungan jam, bukan hanya satu suara ngorok yang terdengar. Saya kembali terjaga karena ada dua dua orang ngorok bersahutan. Pokoknya mereka berdua kompak abis.

Setelah berhasil mencoba tidur lagi, tak berapa lama suara beberapa orang masuk kamar. Ini sudah jadi tanda kalau hari sudah pagi. Buat sebagian traveller, dugem sudah jadi acara wajib di daftar kegiatan wisata mereka. Apalagi untuk pejalan yang masih muda. Selagi bisa dugem, digeber terus deh. Waktu jadi terbalik, pagi sampai siang untuk tidur. Sore hari bangun dan mandi. Malam sampai pagi keluar cari makan, lanjut nongkrong dan senang-senang.

Awalnya saya pikir sih, urusan dugem lebih akrab dengan bule-bule rambut pirang. Sampai akhirnya di malam kedua, saya baru sadar, saat gerombolan orang ini cukup berisik pulang seusai dugem dalam keadaan setengah teler. Dan mereka adalah tiga pemuda Jepang bertubuh kurus.

Karena sudah terlanjur bangun, saya langsung berbenah, karena pagi nanti harus lanjut naik bis menuju Phnom Penh. Jam enam pagi  berencana check out sekalian sarapan. Saya dan suami pun bersiap turun ke lantai dasar menuju resepsionis. Tiba tiba kekonyolan terjadi. Salah satu pemuda Jepang tadi habis mandi dan mau masak kamar hanya pakai cancut alias celana dalam. Ketika, dia ngeliat saya sedang pakai sepatu, sontak kaget dan masuk lagi kamar mandi.

“Ya elah mas, biasa aja kali.” ujar saya dalam hati. Lagian sudah tau tinggal di mix dorm, malah kepedean pakai baju minim. Saya sih cuek aja, soalnya bodynya kurus sih, jadi kurang menarik. 😀

Terjaga Karena Suara Ngorok Mungkin Lebih Baik, Daripada Terjaga Karena Rasa Takut

Sampai saat ini pun, ketika teringat kembali kunjungan ke The Killing Field. Saya sering tak habis pikir, mengapa kami berdua memutuskan pergi ke lokasi yang sangat tidak touristy. Ujung-ujungnya ketika malam hari, saya dihantui perasaan takut karena terbayang galian-galian bekas pemakaman masal. Belum lagi cerita memiliukan tentang sejarah genosida di Kamboja  lewat audiophone masih terpatri jelas, membekas dalam ingatan.

Hostel yang kami sewa tak jauh dari Royal Palace, begitu tenang dan jalanan remang saat malam hari. Malam pertama di Phnom Penh, ada kejadian tidak mengenakan yakni mendengar wanita mejerit karena dijambret, tepat di depan hostel kami.

Dan malam kedua hari dimana kami berkunjung ke lokasi bersejarah Kamboja yang sarat cerita mengenaskan. Ternyata satu kamar hanya berisi dua orang, tinggal saya dan suami. Teman-teman yang tinggal di malam sebelumnya ternyata sudah check out sejak siang hari. Kebayang kan rasanya gimana. Apalagi dekorasi kamar yang tampak elegan terlihat waktu siang, seperti tiba-tiba berubah jadi spookt di malam hari.

Diskriminasi Ternyata Masih Eksis

Di zaman yang modern dan kekinian seperti sekarang, saya pikir sifat feodal dan membeda-bedakan sudah tidak terlalu populer. Apalagi di area lokasi wisata yang menjadi tempat berkumpulnya wisatawan dari seluruh dunia. Untuk sekelas Siem Reap yang masyur akan candi kuno dan keunikan budaya. Tentu saja masyarakat lokal sudah sering bersinggungan dengan wisatawan dari berbagai negara. Soal warna kulit dan perbedaan tentu saja bukan jadi masalah besar. Itu yang ada dipikiran saya.

Tapi ternyata ada saja peristiwa di luar dugaan yang terjadi. Meski persoalan kecil, tapi saya belajar bahwa hal-hal soal warna kulit masih mempengaruhi sikap kita terhadap seseorang.

Hostel yang kami tinggali selama di Siem Reap merupakan hostel favorit saya. Bersih, banyak ruang santai, ada roof top, kamar mandi bersih, serta memiliki banyak anggota manajemen yang mengurusi para tamu.

Hampir excellent untuk sekelas hostel seharga tak lebih dari 120 ribu rupiah per malam. Namun, kejadian yang bikin saya cukup membuat heran, saat makan siang. Hostel kami menyediakan paket sarapan dan makan yang dijual terpisah dari sewa tempat tidur. Menunya sangat standar, roti panggang, jus buah, dan aneka nasi goreng. Cukup lumayan untuk mengganjal perut kalau lagi malas keluar cari sarapan. Apalagi di sekitar hostel saat pagi biasanya begitu sepi. Berbeda jika dibandingkan waktu malam.

Kami pun memesan dua porsi nasi goreng daging kepada salah satu staf yang bertugas. Tak lama ia melihat stok persedian, ternyata nasi goreng daging tinggal satu porsi saja. Kemudian saya pun mengganti pesanan menjadi satu nasi goreng daging dan satu nasi goreng ayam. Ia pun mengatakan kami harus menunggu sekitar 15 menit. Ok, tak masalah.

Sekitar lima menit kemudian, dua orang bule keluar dari kamar dan bermaksud pesan makanan. Sayup-sayup saya mendengar ia pun memesan nasi goreng daging. Setelah itu, saya pun tak lagi memperhatikan percakapan antara bule tadi dengan staf yang mengurusi makanan.

Sepuluh menit berlalu, dan yang terjadi adalah pesanan dua bule tadi datang lebih dulu. Kesal ?! Ya lumayanlah, tapi ya sudah saya tak ambil pusing. Tak lama kemudian staf tersebut datang ke meja kami dan berujar bahwa ia salah memberi informasi. Ternyata nasi goreng daging sudah habis dan jika kami mau sudah tersedia dua porsi nasi goreng ayam.

Fiuhhh…rasanya malas sekali menanggapi. Lalu, ya sudahlah, kami pun disuguhi dua piring nasi goreng ayam di atas meja.

Kejadian yang sebenarnya cukup bikin geram. Tapi karena kami lapar berat, lebih kami menghabiskan makanan yang sudah ada di depan mata daripada protes soal perlakukan salah satu staf kepada kami. Namun, dari kejadian ini, ternyata membuka mata saya bahwa kulit berwarna seperti saya dan Rudy masih dinomorduakan jika bertemu orang-orang yang berkulit lebih cerah.

Hal menjengkelken cukup terjadi sekali saja. Selebihnya ada banyak kejadian konyol selama menginap di Siem Riep. (bersambung)

 

 

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *