Cerita Dari Dalam Gerbong

Saya pulang ke Solo tidak teratur dan waktunya tak pasti. Yang jelas kereta api menjadi opsi pertama jika dibandingkan dengan jalur darat lainnya. Banyak cerita yang terjadi di dalam gerbong. Mulai dari yang acuh, rusuh, hiruk pikuk dan segala macam sifat tumpah di sana.

Kereta api lebih memberi kepastian daripada bus yang durasi perjalanannya 12 jam. Lebih mudah dijangkau dan yang jelas saya tak perlu lewat tol dan naik taksi. Cukup dengan ojek atau saat jadwal keberangkatan selepas jam kerja. Naik busway jurusan Pasar Senen atau Gambir jadi lebih murah. Meski harus bejibaku dengan pekerja pulang kantor.

Stasiun banyak berubah. Tingkat kebersihan, keteraturan, jadwal keberangkatan yang sering tidak bersahabat dengan harga tiket murah. Beruntung saya bukan anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Banyak kaum urban yang bekerja di Jakarta rela membeli tiket pulang pergi setiap minggu. Bahkan sampai tiga bulan ke depan tiket sudah di tangan. Untuk yang seperti ini kebanyakan pilih kelas ekonomi semurah-murahnya. Demi keluarga dan jalinan tali kasih yang dipelihara. Ah, setengah upah kerja bisa jadi habis untuk biaya transportasi.

Suatu ketika saya tidak sengaja bertemu adik kelas yang tergopoh-gopoh membawa satu box besar pendingin. Ternyata di dalamnya ASI. Air susunya yang diperah setiap hari dan diawetkan.

Saya jadi kepo, “Loh! Kamu udah nikah ya?”

“Udah mbak.” Ceritanya mengalir membahas anaknya yang baru beberapa bulan dan diurus sang nenek. Adik tingkat ini sepertinya kewalahan harus membagi tugas ibu dan pekerja. Suaminya pun bekerja dilain kota di pulau sebelah, Sumatera. Wah saya hanya terdiam mendengar kisah perjuangan keluarga muda yang belum bisa berkumpul ini. Ia pulang seminggu atau dua minggu sekali untuk setor makanan bagi bayi tercinta.

Di lain perjalanan, saya harus bersebelahan dengan bapak-bapak muda yang sudah terbiasa jadi PJKA. Meski hanya membawa satu tas ransel ukuran tanggung. Isinya cukup lengkap untuk mendukung waktu istirahat selama perjalanan. Baru 15 menit kereta berjalan, mulai dari selimut tipis, kertas koran, dan bantal angin sudah dikeluarkan. Bibirnya monyong meniup-niup lubang di bantal angin yang masih kempes, sampai terisi penuh. Kertas koran lalu ditata sedemikian rupa di kolong kursi. Bapak ini menjulurkan kaki dengan cepat di kolong kursi depan dan memasukkan kepalanya tepat di kolong kursi tempat saya duduk. Saya yang di atasnya jadi kikuk dan sungkan. Tapi ia cuek saja sembari berpesan,“Santai saja mbak, saya sudah biasa begini kok.” Ya sudahlah, saya kan jadi untung bisa tidur duduk sambil selonjoran.

Kini, larangan tidur di kolong kursi sudah diberlakukan PT. Kereta Api Indonesia. Bagi penumpang yang melakukannya akan ditegur. Jika masih tetap nekat bisa jadi ditindak tegas. Semua demi keamanan penumpang. Sempat saya membaca unggahan di grup Indonesia Rail Fans. Jika hal tersebut ketahuan tapi petugas tidak menegur atau kelewatan saat jam pemeriksaan. Ia bisa diberi sanksi tidak bertugas dalam kurun waktu tertentu. Waduh. Jadi sekarang saya cuma berharap kalau sebelah saya bangkunya kosong. Agar bisa duduk selonjoran atau dapat tempat duduk lebih leluasa.

Tapi hal menyenangkan takĀ selalu terjadi. Pas sebelum ada perubahan sistem di kereta api. Saya masih sempat dapat tiket balik lebaran murah dari Jakarta ke Solo. Gerbong tambahan. Itu awal mula PT.KAI melakukan pembenahan dengan membatasi isi gerbong sesuai tempat duduk. Orang yang duduk satu bangku dengan saya memang alim dan religius sekali. Sepanjang perjalanan kegiatannya membaca Alquran dan sholat saat tiba waktunya. Yang bikin bete, satu orang persis di hadapan saya. Hobi bercerita dengan siapa saja dan membanggakan diri. Bertanya ini itu sampai membuat tidak nyaman. Minta pin BBM!! Huh. Saya beri saja yang palsu dan ketahuan. :)) terus menerus saya diganggu hampir sepertiga perjalanan terakhir menuju Jakarta. Wah sungguh menyebalkan.

Dari situ saya beralih dari menaiki kereta kelas ekonomi ke kelas bisnis. Ketika harga Senja Utama masih seratus lima puluhan ribu. Tentu saja lebih teratur, tempat duduk agak nyaman, dan paling penting teman sebangku lebih individualis. Sampai di dalam kereta biasanya berbenah dan langsung tidur. Atau kebanyakan penumpang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hingga pembenahan-pembenahan positif dilakukan terus menerus oleh kereta api. Saya sering mendapat kereta kelas bisnis yang terlalu dingin. Mungkin saya lebih cocok dengan suhu udara sedang. Kalau terlalu dingin akhirnya saya tak bisa tidur dan terjaga hampir sepanjang malam. Bosan jadinya.

Dari ketidakcocokan fasilitas inilah saya kembali ke kelas ekonomi yang gerbongnya sudah tak beda jauh dari kelas bisnis. Terutama soal kebersihannya, stop kontak yang juga terpasang, dan suhu udara sedang. Tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Pas.

Namun gerbong ekonomi ini dalam beberapa hal menjengahkan. Penumpang yang kurang bertoleransi tentang barang bawaan yang menyita kabin bahkan merenggut kenyamanan. Ada yang membawa berkardus-kardus barang. Meletakkan bawaannya dan memenuhi seluruh kabin sehingga penumpang lain tidak kebaikan tempat meski hanya meletakkan satu tas kecil. Awalnya saya lunak saja. Tapi setiap naik kereta kebiasaan seperti ini berlanjut. Itulah mengapa ketika kereta datang, seringkali orang-orang terburu-buru masuk seperti tidak mendapatkan kursi. Padahal sudah jelas jatah kursi ada untuk semua penumpang pemilik tiket. Ternyata sebagian sengaja lompat sebelum kereta berhenti hanya untuk mengisi kabin lebih dulu daripada yang lain.

Pengalaman mengherankan lainnya ketika duduk berhadapan dengan keluarga muda. Logatnya Jawa membawa istri dan dua orang anak. Jika tidak bercerita, kepala keluarga ini bermain game atau mendengarkan musik. Menunjukkan video pada anaknya dan sering mengubah posisi duduk yang begitu mengganggu. Fiuh..memang modalnya harus sabar. Paling parah yaitu barang bawaannya nggak hanya memenuhi kabin gerbong tapi juga membawa koper besar yang diletakkan di antara kursi. Whoaaa rasanya ingin sekali ngomong “bapak nggak sadar ini mengganggu?” Tapi ya sudahlah, sekali lagi memang cukup diam dan tidur. Berharap mata saya terbuka menjelang sampai Solo.

Rudy yang bolak balik Jakarta-Solo juga merasakan hal yang sama. Malah ia beberapa kalo diminta berganti tempat duduk. Seseorang meminta dengan kurang santun, alasannya tempat duduknya berhadapan dengan pendingin udara. Saya cuma bisa ngakak mendengar ceritanya. Rudy menolak dan berujar,”Kalau ibu saja kedinginan pakai penutup kepala. Apalagi saya yang nggak pakai,Bu.”

Tidak sekali dua kali hal itu terulang. Padahal memesan kereta api kita sudah bisa menentukan tempat duduk mana yang diinginkan.

Tapi di kereta ekonomi pengalaman menyenangkan juga ada. Ketika saya naik Gajah Wong dari Jakarta ke Yogyakarta. Tanpa bermaksud menggolongkan. Saya sering bertemu dengan penumpang yang bisa diajak bercerita panjang lebar dan nyambung. Mulai dari pendidikan, pernikahan, sampai urusan pekerjaan. Saya sempat bertemu pensiunan dari Kementrian Keuangan yang sudah mapan di Jakarta. Bapak berambut putih ini lagi pulang kampung sehabis menengok kos-kosan yang ia miliki di ibukota. Menceritakan pengalaman semasa kerja sampai tentang beasiswa Di Amerika Serikat. Lucunya, si Bapak malah minta kartu nama dan menanyakan lowongan pekerjaan untuk anaknya.

Ada pula ibu yang mengajak dua putrinya pulang kampung menengok nenek. Sang ayah tidak ikut karena bekerja dan anaknya sedang libur panjang. Senang melihat tingkah aktif kakak beradik yang berceloteh tentang kereta dan kampung halamannya.

Banyak cerita unik yang saya dapat dari dalam gerbong. Mulai dari yang bikin senang, heran, atau geregetan dalam hati. Anda punya pengalaman istimewa apa selama perjalanan naik kereta ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *