Catatan dari Ipoh : Hujan, Bersepeda, dan Aneka Kue Lezat

Ipoh.

Jadi kota keempat di Malaysia yang pernah saya sambangi. Sesungguhnya, selain biaya jalan-jalan ke Malaysia yang murah di kantong. Antusiasme saya mengunjungi kota-kota di Malaysia karena ingin menjajal wisata kuliner di negeri jiran ini.

Duh segitunya sama makanan. Eits… jangan berprasangka dulu. Saya bukanlah penggila makanan atau tipe orang yang hidup untuk makan. Namun, ketika pengalaman traveling saya bertambah, kenikmatan mencoba kuliner tradisional membawa ketertarikan tersendiri.

Negara yang katanya serumpun, memiliki banyak kesamaan, dan juga menjadi jujugan para imigran dari tanah Tiongkok pada zamannya. Menjadikan Indonesia dan Malaysia memiliki banyak sekali makanan serupa. Meski nama atau bentuknya yang sedikit berbeda.

Sama halnya ketika memutuskan pergi ke Ipoh. Dua hal yang menjadi motivasi yaitu kuliner dan keinginan untuk mencoba transportasi kereta antar kota di Malaysia. Akhir tahun 2018, rencana jalan-jalan tersebut sukses terlaksana.

Sambutan Gerimis Dan Staycation di The Brown Stone Hostel

Salah satu maskapai penerbangan menawarkan tiket murah ke Malaysia untuk akhir tahun 2018. Sekedar iseng, saya membelinya awal tahun 2018. Lama ya jeda pembelian dan keberangkatan. Tapi begitulah adanya…

Berangkat berdua hanya dengan modal tiket pulang pergi hampir Rp 650.000 saja. Saya dan suami memang sangat santai melakukan perjalanan selama di Ipoh. Ibarat gabungan antara staycation dan wisata kuliner Malaysia, itinerary selama di Ipoh tidak memasukkan kunjungan ke area yang jauh-jauh. Cukup di tengah kota saja.

Awal kedatangan kami di Ipoh sudah disambut gerimis. Untungnya grab sudah masuk di sana. Dengan bantuan aplikasi saya pesan grabcar untuk sampai ke hostel. Niat hati memilih penginapan yang lumayan bagus, nyaman, dan dekat dengan penginapan. Pilihan saya jatuh ke The Brown Stone Hostel, hostel nan apik dan memberi inspirasi tentang merenovasi rumah bagi saya.

Baca juga : Pengalaman Menginap di The Brown Stone Hostel Ipoh.

Ipoh cenderung sepi dan tenang. Bahkan jika dibandingkan dengan Melaka, suasananya berbeda jauh. Hanya beberapa sudut yang terlihat ramai, itupun pada jam-jam tertentu. Kunjungan wisatawan lokal juga tak seriuh saat di Melaka ataupun Penang.

Jadi, apakah Ipoh patut dikunjungi ?

Tentu saja iya. Untuk melengkapi penjelajahan kota-kota di Malaysia, sekaligus mengenal bagian sejarah yang lekat dengan negeri Jiran.

***

Setelah sampai hostel, saya nekat keluar sambil hujan-hujanan untuk cari brunch. Akibat tergopoh-gopoh mengejar kereta saat di Kuala Lumpur, sarapan kami berdua terlewati. Saya harus menelusuri gang dan berjalan hampir 800 meter untuk mencari tempat makan dekat hostel.

Jika dibilang strategis, memang penginapan yang saya pilih dekat dengan jalan besar. Tetapi rupanya, tidaklah masuk di kawasan wisata. Bahkan dekat dengan area pertokoan milik warga sekitar, di mana banyak yang tutup.

Saya dan Rudy memutuskan makan di sebuah kedai yang menjajakan masakan India. Hahaha, kami sudah mblenger alias eneg saat itu. Karena selama di Kuala Lumpur juga keseringan makan di kedai orang India yang menjual nasi dengan porsi wah serta rangkaian roti. Apa boleh dikata, yang penting makan dulu untuk memulai berkeliling di kota Ipoh.

Setelah mengisi perut, kami pun kembali ke hostel. Akhirnya bisa masuk kamar setelah semua administrasi beres diurus. Saya benar-benar menghabiskan banyak waktu di hostel untuk menikmati suasananya yang sangat nyaman. Hampir dua jam saya habiskan untuk tidur sebentar, berbenah, dan sengaja mengistirahatkan diri, sebelum memutuskan keluar untuk jalan-jalan.

Bermodalkan peta, kami menyusuri jalanan menuju tempat keramaian dan pusat jajanan. Menyusuri trotoar Ipoh memberi pengalaman yang begitu asing. Ipoh benar-benar terasa sepi. Kami berdua menyusuri pinggir pertokoan yang kebanyakan tutup. Padahal waktu kami datang bukan di hari libur. Entah, apakah memang banyak gedung yang sekarang tidak digunakan dan dibiarkan begitu saja. Gedung-gedung yang memperlihatkan bangunan zaman 50-an. Mirip seperti area Glodok di Jakarta sampai ke Kota Tua.

D7K-4623

Di beberapa titik, sekitar lima hingga tujuh sepeda berwarna kuning terparkir. Sepeda-sepeda tersebut disewakan dengan system tertentu bagi wisatawan atau siapa pun yang ingin menggunakan. Mirip seperti yang ada di Penang. Lucunya, area yang ada di sekitarnya sepi. Saya hanya terheran, lalu siapa yang akan menggunakan?

Sepeda-sepeda itu dibiarkan begitu saja, seperti tidak terurus. Karena sepengetahuan saya, hampir semua masyarakat lokal memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Jajan Tahok, Menikmati Hujan, Makan Siang Ayam Asin, Dan Berbelanja

Tahukah Anda, pertama kali saya makan tahok saat di Ipoh. Duh…padahal tak jauh dari rumah orang tua saya di Solo. Ada juga penjual tahok yang sudah menjajakan dagangan selama berpuluh-puluh tahun. Hal seperti inilah yang saya sukai ketika berada di Malaysia. Saya menemukan makanan sama seperti yang ada di Indonesia. Lalu yang membuat saya terus jalan-jalan ke Malaysia, hanya ingin membandingkan rasa dan penasaran seberapa popular makanan tersebut di sana.

Tahok sendiri menjadi kudapan ringan yang direkomendasikan untuk wisatawan. Hihihi… saya dan Rudy cuma terkekeh ketika menemukan hal remeh-remeh seperti ini di negeri tetangga. Kami suka berpendapat kalau makanan X juga ada di Indonesia, tetapi Malaysia mampu mengemasnya menjadi sesuatu yang khas dan bisa dijual sebagai bagian dari pariwisatanya.

Lalu saya dan Rudy pun mengantri untuk makan tahok di sebuah kedai kecil. Kedai yang cukup ramai dengan pembeli yang silih berganti. Tahok yang mereka rekomendasikan terletak pada sebuah ruko dengan papan reklame yang sangat besar. Tempat berukuran mini yang dipenuhi gentong-gentong untuk tahok dan dagangan lain. Serta membuat kami para pembeli harus makan dengan berdiri atau bergiliran menggunakan sebuah bangku panjang di trotoar sekitar kedai itu.

Jangan salah, meski hanya semangkok tahok, ternyata para pembelinya rata-rata bermobil semua. Mereka datang bersama keluarga atau dengan rombongan. Memarkir mobil, dan menyempatkan makan semangkok kecil tahok hangat dengan cairan gula.

Saya tak bisa memberikan testimony tentang tahok karena ini baru pertama kali merasakan. Tidak bisa membandingkan mana yang lebih enak. Tahok ala Indonesia atau Malaysia.

Saat sudah di sendokan terakhir. Suami saya berujar, “Lebih enak yang ada di Indonesia. Di sana tahoknya lebih lembut dan tidak berbau.”

Berbau yang Rudy maksud yaitu, aroma ampas kedelainya tidak terlalu terasa untuk yang versi Indonesia.

Sejujurnya, tak banyak tujuan wisata yang menarik hati saya. Kami berdua keluar masuk toko kelontong hanya untuk melihat-lihat beberapa barang yang mereka jajakan. Mengunjungi area grosir makanan yang menyediakan berbagai macam minuman sachet. Lalu ketika, hujan kembali turun, kami pun berteduh sambil makan ayam asin yang harganya tidak sebanding dengan rasanya.

Selama window shopping, jangan heran jika Anda akan ditawari berbagai macam tester minuman instan yang mereka jual. Menarik, karena Ipoh memang terkenal dengan white coffee, sehingga ada puluhan merek yang bisa ditemukan di sini.

Baca juga : Mampir Makan di Pusatnya Old Town White Coffee, Ipoh. 

IMG-20181206-183013
IMG-20181206-182336
IMG-20181206-182412

Borong Kue-Kue Khas Ipoh

Paling menarik dari kunjungan hari pertama yaitu mendatangi toko oleh-oleh yang isinya makanan ringan. Saya mendapati satu meja besar berlapis kaca tembus pandang yang menampilkan deretan kue pia dari warna coklat matang hingga yang warna-warni. Tentu saja menggugah selera dan membangunkan hasrat berbelanja.

Saya pun mendekatkan badan untuk melongok ke bagian meja display sambil membaca satu per satu tulisan yang disematkan pada tiap bentuk kue. Ada yang berisi kacang hijau, abon, pasta teratai (lotus paste), ayam, pasta srikaya, durian, hingga salted egg. Yummy… saya pun membeli enam macam dan membawa pulang ke hostel untuk makan malam. Tak salah pilih, karena ukurannya yang lumayan besar sudah sangat mengenyangkan untuk makan malam. 😀

oleh-olehipoh3
oleh-oleh-ipoh
IMG-20181206-182336

Bersepeda Keliling Kota

Yang saya bayangkan, Ipoh merupakan kota kecil dengan tempat wisata yang terpusat di satu kawasan. Acuan saya yaitu Melaka. Setelah tiba di sana dan pergi ke beberapa tempat. Letak wisata kotanya agak terpencar dan membutuhkan alat transportasi yang mudah dikendarai tetapi tidak membuat kesulitan untuk bepergian. Untungnya, The BrownStone Hostel menyewakan sepeda keranjang yang sederhana tetapi sangat membantu saya dan Rudy berkeliling kota. Di foto ini, suami saya terlihat seperti beruang naik sepeda. Yup, karena memang hanya sepeda model tersebut yang tersedia.

Dengan sepeda ini, kami berdua menjelajahi jalanan Ipoh yang kebanyakan satu arah. Jika kami menyewa motor atau menggunakan grabcar di sana. Kami bisa menghabiskan banyak waktu untuk berputar-putar di jalan tanpa bisa menjelajahi gang-gang kecil.

Tujuan pertama yaitu mencari mural di Ipoh yang terpencar di beberapa tempat. Kami mendatangi gang-gang kecil yang lumayan sepi sambil mengabadikan karya seni yang dituangkan para seniman pada tembok kosong. Meski tidak sebanyak di Penang. Ipoh memiliki ciri khas tersendiri dalam mengangkat tema mural untuk pariwisata. Sayangnya, ada beberapa bagian mural yang catnya sudah mulai pudar dan tak terurus. Letak mural terpencar di bebeapa tempat yang berbeda dan memiliki kisahnya masing-masing.

tempat-wisata-di-ipoh

Dengan bersepeda, saya merasa lebih leluasa untuk menjelajahi jalanan Ipoh. Di artikel sebelumnya, saya sempat menceritakan tentang pusat white coffee di kota ini. Restoran yang cukup terkenal dan memiliki gerai franchise hingga mancanegara.

Di Ipoh, saat tidak hujan, matahari lumayan terik dan aturan jalan besar yang dilewati memang satu arah. Solusinya menyusuri gang-gang kecil untuk mencari jalan tikus(potong jalan) sambil melihat rumah-rumah tua yang dari luar masih tampak terpelihara. Ipoh hampir mirip seperti Penang yang masih menjaga arsitektur bangunan zaman dulu. Selain itu kami berdua bisa menjangkau lokasi-lokasi utama di tengah kota menjadi lebih mudah dan melihat kehidupan warga lokal.

concubine-lane

Saya juga mampir ke Concubine Lane, sebuah gang yang terkenal untuk bazar. Mereka membuka houseshop dan menjual berbagai macam barang mulai dari makanan, oleh-oleh, hingga pakaian. Dua gelang lucu menjadi buah tangan yang saya beli untuk cinderamata.

Liburan akhir pekan yang menyenangkan di Ipoh, memberi pengalaman baru yang menyenangkan. Kota ini bisa menjadi opsi untuk jalan-jalan saat di Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *