Candi Gunung Kawi Di Bali, Tempat Bersemayam Para Raja

Jika Yordania punya Petra dan Leshan Giant Budha milik Cina. Indonesia juga punya pahatan di permukaan tebing. Jejeran candi yang di ukir pada sebuah dinding batu untuk penyimpanan abu jenasah para raja. Candi Gunung Kawi di Ubud Bali. Terletak di wilayah Tampaksiring, Gianyar. Dibangun di era Raja Udayana, raja termasyur keturunan dinasti Warmadewa.toko-souvenir-di-gunung-kawi
Letaknya tak begitu mencolok. Berada di sebuah perkampungan yang tak ramai. Pengunjung digiring memasuki gerbang yang menandakan kawasan ini tempat wisata. Awalnya, tak ada yang mencuri perhatian. Dengan tiket Rp 10.000 rupiah, setiap pengunjung yang datang wajib menggunakan kain dan ikat di pinggang.  Menyusuri jalan menurun, lambat laun turis di sambut area persawahan. Jika belum masa panen, hamparan padi menghijau menyejukkan mata. Namun, jika sudah mendekati padi akan dituai. Anda akan melihat padi menguning. Pemandangan yang sangat indah disuguhkan tempat ini. Selain itu, di satu sisi jalan berjejer kios-kios milik warga sekitar yang menjajakan kerajinan khas Bali seperti ukiran dari tulang, baju rajut, hingga aksesoris dari bebatuan. Total ada 315 tangga yang harus dilalui. Melelahkan? Tidak terlalu, tapi belum sampai ke tempat utama. Sudah terbayangkan bagaimana mendaki anak tangga yang berjumlah ratusan itu. Pastinya akan menguras tenaga dan membuat nafas terengah.

Saat saya ke sana, tak banyak wisatawan yang datang berkunjung. Tempat ini memang lumayan sunyi, sungguh kontras jika dibandingkan dengan Pura Besakih. Namun, fungsi dibuatnya Candi Gunung Kawi menjadi sangat tepat jika dilihat dari suasananya. Sebuah tempat peristirahatan terakhir memang layak dilingkupi dengan ketenangan.

Belum diketahui asal muasal nama Gunung Kawi. Namun, banyak orang menafsirkan gunung berarti pegunungan dan Kawi artinya pahatan. Jadi telah jelas, Gunung Kawi artinya pahatan di gunung. Dari kejauhan tampak gerbang batu. Kanan kirinya terdapat batu yang diletakkan sebagai pertanda pintu masuk. Sedikit menunduk terlihat tulisan di batu sebelah kanan. Siapa yang masuk ke area Gunung Kawi harus memercikan air suci ke kepala masing-masing. Sebuah gentong kecil di atas batu sebelah kiri disiapkan, dengan tongkat kecil terbuat dari daun pandan. Mempersilahkan pengunjungnya menyucikan diri untuk memasuki tempat tersebut.

Belok ke kiri dan sampailah di komplek Candi Empat. Berjajar empat buah candi yang terukir melekat pada dinding tebing. Menakjubkan. Besar, megah, dan memiliki nilai estetika tinggi. Ditemukan pada tahun 1920 oleh arkeolog Belanda,  empat candi itu disebut padharman atau empat selir raja Anak Wungsu. Memang, disanalah terdapat abu jenasah Anak Wungsu yang merupakan saudara Airlangga. Airlangga adalah seorang raja di Pulau Jawa atau tepatnya Jawa Timur. Keduanya merupakan  keturunan Raja Udayana dan Gunapriya Dharma Patni, seorang putri Jawa. Suara gemricik air mengiringi wisata, mengagumi karya leluhur.

Ya, suara air itu berasal dari Tukad(Sungai) Pakerisan. Terfikir, pengunjung hanya mendapati empat candi. Tapi tidak, di seberang sungai terlihat candi yang sama berjumlah lima buah. Candi Kawanan, itulah sebutan masyarakat sekitar pada jajaran lima candi tersebut. Menyebrangi jembatan yang menghubungkan dua sisi. Di sinilah tersimpan abu Anak Wungsu dan Raja Udayana. Selain itu, terdapat tempat pertapaan dan ceruk-ceruk (wihara) yang berada di sebelah timur Pura Gunung Kawi.

Kemegahan terpancar dari candi yang diperkirakan di bangun pada abad ke-11 M tersebut. Tak ada relief dewa-dewi menghiasi sisi luar batu. Malah beberapa bagian berselimut lumut. Namun, ceruknya berwarna putih berbentuk kerucut pada atapnya. Terlihat misterius. Tebing tebing atasnya ditumbuhi rumput hijau yang rimbun. Berpadu dengan alam, Candi Gunung Kawi juga dihias kolam pemandian dan pancuran air.

Situs lain yang terdapat pada kompleks candi adalah pertapaan Geria Pedanda. Terlihat beberapa gapura dan tempat pertapaan yang biasa disebut makam ke-10. Penamaan tersebut berdasarkan tulisan rakryan dengan bahasa Kediri, yang ditafsirkan tempat bersemayam perdana menteri.

Candi Gunung Kawi Bali merupakan gabungan keindahan alam dan ketrampilan nenek moyang yang terpahat pada dinding batu. Udara yang sejuk dan suasanan tenang menawarkan kedamaian. Tepatnya di Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. Sekitar 40 km dari Denpasar, lokasi ini lebih nyaman ditempuh dengan kendaraan pribadi. Anda bisa menemukan warisan leluhur yang tetap bisa dinikmati hingga sekarang.
sawah-di-sekitar-gunung-kawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *