Candi Gebang Yogyakarta, Peninggalan Sanjaya yang Tersembunyi

Kerajaan Medang tumbuh dan berkembang di wilayah yang sekarang dikenal dengan Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Medang lebih popular dengan nama Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Sebenarnya penguasa asli wilayah Jawa bagian tengah pada masa itu adalah Mataram Hindu. Kemudian datanglah Syailendra yang konon berasal dari India. Sedangkan menurut Coedes Syailendra datang dari Funan. Syailendra menganut agama Budha. Oleh karena itu, Budha juga berkembang pesat di Jawa. Sebuah karya besar Syailendra adalah Candi Borobudur.

Meskipun bersaing memperebutkan kekuasaan hingga membuat dinasti Sanjaya menyingkir ke Pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kedua dinasti tersebut membuat banyak peninggalan budaya yang menunjukkan agama Hindu dan Budha hidup berdampingan pada masa itu. Candi Gebang Yogyakarta merupakan salah satu situs yang dibuat oleh Sanjaya.

Candi Gebang Yogyakarta terletak di Condongcatur, Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman,  Yogyakarta. Perjalanan Geonation.org setelah mengunjungi Candi Plaosan tertambat untuk melihat candi yang digali dan direkonstruksi tahun 1937-1939. Awalnya, seorang penduduk mendapatkan patung Ganesha pada November 1936. Setelah dilaporkan,para arkeologis sepakat melakukan penelitian lebih lanjut yang dipimpin oleh Van Romondt.

Tidak ada informasi detail mengenai alasan dan kapan pendirian Candi Gebang Yogyakarta. Namun, berdasarkan patung dan relief yang terdapat di sana. Candi Gebang Yogyakarta merupakan candi Hindu. Proporsi tinggi dan bagian badan candi menjadi analisa arkeolog bahwa Candi Gebang Yogyakarta dibangun sekitar abad 730-800 Masehi. Lebih tua dari pembangunan Candi Borobudur (780-830 Masehi) dan Candi Prambanan (856 Masehi).
candi-gebang-yogyakarta

Bentuk dan Relief Candi Gebang Yogyakarta

Candi Gebang Yogyakarta memiliki desain yang sangat sederhana. Berbentuk persegi 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 7,7 meter. Candi yang berbahan batu andesit ini ditopang bangunan setinggi 2 meter. Tidak terdapat pahatan di bagian dasarnya. Pintu menghadap arah timur. Terdapat ceruk pada kedua sisinya. Ceruk sebelah kiri terdapat patung Nandiswara, sedangkan sebelah kanan diperkirakan dihuni arca Mahakala, yang sekarang telah hilang. Meski memiliki pintu, secara keseluruhan tak ada tangga yang  menuju tempat masuk candi tersebut. Kemungkinan besar, tangga dibuat dari kayu. Sehingga telah rapuh atau raib dimakan waktu.

Relung sebelah barat Candi Gebang, tempat arca ganesha duduk bersila yang menghadap ke utara. Ganesha disebut juga Lambodara (berperut buncit), Ekadanta (bergading satu),Vignesvara (menguasai rintangan), danGajanana (bermuka gajah). Ganesha adalah anak Siva dan Pavarti. Dipuja karena dipercaya merupakan sumber Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Penjaga, Dewa Kebijaksanaan dan Dewa Pelindung terhadap semua bencana. Jika melongok ke dalam ruangan. Terdapat lingga dan yoni. Sayangnya, yang tertinggal hanya yoni dan patung lingga telah hilang.

Meski tak kaya akan ukiran atau relief. Pembangunan Candi Gebang pada keempat sisi atapnya(Swarloka) menggunakan ornamen Kudu. Kudu merupakan ornamen yang biasanya ditempatkan pada gapura atau candi, seperti di Candi Bima, Dieng. Berbentuk tapal kuda yang berisi wajah dewa, sebagai simbol keagungan. Di India, tapal kuda tidak hanya diisi rupa dewa, tetapi juga wajah raksasa yang disebut Kirthimuka.

Candi Gebang Yogyakarta memang tak popular seperti Candi Prambanan. Informasi detail yang belum terkuak tentang candi Hindu ini membuatnya samar diperhatikan orang. Letaknya yang tersembunyi menjadi salah satu faktor pendukung, candi ini masih sepi pengunjung.

Tips Mencapai Candi Gebang Yogyakarta           

Candi ini tidak terletak di jalan besar. Bersembunyi di antar rimbunnya pepohonan dan area ladang penduduk. Saat menuju Candi Gebang Yogyakarta, Geonation.org harus melewati pemukiman yang jarang ditempati. Bahkan jalan menuju tempat ini belum diaspal. Hanya terdapat sebuah petunjuk yang bertuliskan Candi Gebang dan tanda panah. Mengarahkan kendaraan ke mana harus  pergi. Jalan tanah yang turun naik harus dilewati. Hingga sampai pada jalan konblok sepanjang 200 meter yang mengarah ke Candi Gerbang Yogyakarta. Bersepeda atau mengendarai motor untuk menuju lokasi ini. Jalan yang tak terlalu lebar, membuat kendaraan roda empat kesulitan memasuki wilayah tersebut.

Nampak kesepian, candi ini memang berdiri sendiri. Tak terlihat situs lain yang terserak perlu dipugar sebagai rangkaian candi. Area yang diperbaiki dengan membangun taman, tempat bersantai serta jalan setapak untuk menikmati Candi Gebang Yogyakarta. Tenang, jauh dari keramaian, hanya gemericik air sungai yang menemani kesendirian candi yang terpinggir dari perhatian manusia. Candi yang tetap tegak berdiri menjadi saksi kejayaan dinasti Sanjaya di masa lampau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *