Candi Cetho, Memuja Tuhan di Ketinggian 1400 Meter

Perlu energi ekstra menuju sebuah candi bercorak Hindu yang terletak di Dusun cetho, Jenawi, Desa Gumeng, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Ini adalah kunjungan kedua sejak 2010. Dan seperti biasa dengan kendaraan favorit , motor. Jika dulu berkesempatan mengendarai motor. Dalam perjalanan kali ini saya kebagian dibonceng. Melewati kebun teh yang sangat luas. Menyusuri jalan sempit yang menanjak, curam, dan berkelok-kelok. Sembari melihat aktivitas masyarakat desa yang sedang memanen hasil pertanian. Terlihat di satu seorang petani sedang memetik daun bawang dan mengumpulkannya ke sebuah mobil pic k up. Mungkin di bawa ke kota atau pasar tradisional terdekat. Baunya sangat khas.

Kurang dari satu kilometer sebelum mencapai gerbang candi. Ternyata motor yang Rudy dan saya tumpangi tidak cukup handal mengantarkan kami ke tempat ibadah tersebut. Tak ayal, terpaksa harus jalan kaki. Wow, bagi seorang yang bukan pendaki gunung. Perjalanan ini cukup membuat lelah. Dengan nafas tersengal, saya berusaha jalan kaki menuju ke Candi Cetho. Sedangkan Rudy terus menaiki motor meninggalkan saya. Hawa dingin, tak menghalangi keringat mengucur deras dari pelipis dan bagian tubuh yang lain. Namun, keuntungan bagi saya. Dengan menapaki jalan aspal selangkah demi selangkah,  pemandangan bukit-bukit hijau  dihiasi terasering menjadi tontonan menarik, terhampar lahan bercocok tanam warga setempat.   Hijaunya perbukitan dilapisi awan tipis yang menyamarkan pemandangan. Udara bersih, membuat paru-paru saya merdeka menghirup oksigen.

Sebelum masuk Candi Cetho, kami membeli tiket Rp 2.500/ lembar bagi wisatawan domestik. Sedangkan wisatawan mancanegara dikenai Rp10.000 untuk memasuki tempat wisata sekaligus rumah peribadatan bagi umat Hindu tersebut.

Menginjak tangga pertama dan melihat ke depan. Atmosfer yang tercipta seakan-akan berada di Bali, bukan tanah Jawa.  Terlihat gapura menjulang tinggi menyambut tiap-tiap orang yang datang. Terdapat sembilan level yang dipugar dan dapat dikunjungi di candi ini.  Laporan ilmiah pertama dilakukan oleh Van de vlies di tahun 1842 menemukan adanya 14 teras di bangunan peninggalan kerajaan Majapahit tersebut. Meskipun saat ini yang tertinggal hanya 13 tingkat saja.

Kedatangan kami kali ini tidak bertepatan dengan hari besar atau perayaan agama Hindu. Sehingga bangunan candi dan sekitarnya terlihat polos. Tak terlihat lengkungan janur kuning di gerbang depan. Tak ditemukan patung-patung menggunakan kain hitam-putih melilit bagian bawahnya.

Gerbang pertama yang paling besar berbentuk candi bentar menjulang lebih tinggi daripada gapura-gapura di level atasnya. Di bagian kanan kiri gapura terdapat dua buah patung. Mirip seperti penjaga tempat ibadah. Saya hanya mendapati sebuah halaman luas di tingkat pertama. Naik lagi di tingkat kedua, masih dengan halaman dilengkapi sebuah petilasan yang konon milik leluhur dusun Cetho yaitu Ki Ageng KrincingWesi.

Di tingkat ketiga. Saat melihat ke arah gerbang pertama, latar belakangnya berupa kabut putih yang pekat. Saya tak bisa melihat bukit-bukit hijau lagi. Mengamati dataran ketiga ini, pelancong disambut beberapa relief peninggalan jaman Majapahit. Sebuah relief kura-kura  besar di apit dua buah relief yang tak terlalu jelas bentuknya. Diujung kepala kura-kura terdapat sebuah relief penis(phallus) di atas tanah dengan panjang sekitar dua meter. Terdapat semacam benjolan atau tindik di ujung (kepala relief penis) tersebut.

Menapaki  tingkat ke empat, ada dua buah pendopo di kiri dan kanan. Nampak sangat tidak terawat. Usang, cat kayunya mengelupas, dan kotor. Inilah hasil pemugaran dari Humardani di tahun 1970 yang dikritik oleh banyak arkeolog. Kritikan muncul karena latar belakang pemugaran bukan dari hasil penelitian yang mendalam, tetapi hanya perkiraan semata.

Menaiki tiga level berikutnya, teras empat, lima, dan enam. Di sana terdapat denah dan bangunan yang hampir sama. Dua buah bale-bale dan dua bangunan yang berisi arca.  Terdapat beberapa bekas dupa di depan tiap-tiap arca, yang ditancapkan pada canang(mangkok) berisi pasir. Sedangkan di sisi utara dan selatan  bangunan kecil beratap sengaja ditutup rapat-rapat. Nampak misterius dan mistis.

Di level candi paling akhir yang dibuka untuk umum, kami tidak bisa mengakses untuk masuk ke dalamnya. Karena saya dan Rudy mendapati gerbang yang tergembok. Di situlah tempat ritual paling suci saat mengadakan persembayangan. Maklum karena tempat ini selain sebagai tempat ibadah, juga dibuka sebagai tempat wisata bagi masyarakat yang bukan penganut agama Hindu.

Bertanya kepada beberapa penduduk sekitar, pada tingkat sebelas, dua belas, dan tiga belas juga terdapat symbol phallus. Simbol penciptaan manusia berupa alat kelamin laki-laki yang diletakkan dalam cungkup kayu.

Kami memutuskan kembali ke bawah dengan rasa takjub yang mendalam. Betapa hebatnya orang di masa itu, menyusun batu-batu besar dan mengukirnya sebagai tempat memuja pemilik alam semesta. Letak dan pemilihan lokasi bangunan di 1400 meter di atas permukaan laut menyiratkan tempat teragung untuk berkomunikasi dengan Sang Hyang Widhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *