Beradaptasi Dengan New Normal

Sejak akhir Maret 2020, Indonesia memasuki babak baru yang mengagetkan. Lebih dari 100 tahun pandemi Spanyol mewabah di Hindia Belanda, tahun ini Covid-19 mengubah tatanan dunia termasuk negara kita.

Wabah yang mendadak, dan sudah diprediksi, meskipun pada akhirnya banyak yang mengabaikannya, ternyata terjadi begitu cepat. Tidak ada yang siap.

Banyak negara yang kesulitan mengahadapi pandemi ini.

Mulai dari lockdown, PSBB sudah dilaksanakan, hingga melonggarkannya. Bisa dibilang pro kontra muncul di berbagai kalangan. Kebijakan kesehatan, keuangan, ekspor impor, hukum, fiskal dan pajak telah bergulir pada 31 Maret 2020 lalu.

Semua demi menghadapi dampak sistemik yang menyerang semua sektor.

Kita, Anda dan saya, adalah segilintir orang yang juga merasakan akibat dari pandemi ini, baik dampak langsung maupun tak langsung.

Wabah yang belum ada obatnya ini, menuntut kita untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Menghadapi new normal dengan lebih cerdik serta terus menyesuaikan diri dengan perubahan yang serba mendadak.

Adaptasi merupakan cara bagaimana mengatasi tekanan lingkungan dan sekitarnya untuk bertahan hidup. Sedangkan new normal merupakan kondisi dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk pada situasi finansial.

Ya, kita memang harus beradaptasi dengan new normal agar bisa bertahan dan melanjutkan hidup di waktu mendatang.

Ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan agar bisa segera bergerak untuk menyesuaikan diri.

Lebih peduli pada kesehatan.

Siapa sangka tahun 2020 ini kita diingatkan kembali tentang kebiasaan pentingnya cuci tangan. Bukan hanya mengguyur air dan cuci tangan pakai sabun. Tetapi melakukan cuci tangan sesuai dengan protokol yang benar.

Di masa pandemi yang masih berlangsung ini, ke depannya kebiasaan menggunakan masker tak hanya ketika sakit saja. Tetapi akan lebih sering memakainya saat harus keluar rumah dan bersosialisasi dengan banyak orang.

Tapi jangan lupakan, bahwa kondisi kesehatan yang baik juga didukung asupan makanan dan pola hidup sehat yang tepat. Dua hal tersebut akan menjauhkan dari mudahnya tertular penyakit.

Mencari dan memiliki sumber penghasilan baru.

Setelah penyakit, hal kedua yang menjadi terasa berat bagi sebagian besar orang ialah perekonomian yang sempat membuat sebagian orang terpuruk. Entah karena dirumahkan sementara, PHK, atau pebisnis yang kehilangan omset hingga 80%.

Industri pariwisata yang hampir mati total berakibat para pegawai hospitality perlu mencari sumber penghidupan baru. Pendapatan negara di bidang wisata anjlok karena pemberlakukan syarat khusus untuk turis asing.

Pemutusan hubungan kerja yang terjadi di industri lain juga semakin membuat  masyarakat ekonomi menengah ke bawah terganggu.

Untuk satu dua bulan mengharapkan bantuan tak ada salahnya. Mungkin ada dari lingkungan kita yang sampai tak bisa beli beras karena dampak Covid-19.

Namun, masa ini menjadi tantangan tersendiri, karena kita dituntut untuk berubah cepat. Bergerak gesit dan keluar dari zona nyaman yang bahkan mengharuskan mencari, memiliki, atau menciptakan penghasilan baru agar dapur selalu ngepul.

Positifnya, kita semakin sadar pentingnya multiple stream income. Di mana perlu menaruh telur di beberapa keranjang berbeda.

Malah bisa menciptakan telur dari tiap keranjang. Tak hanya dua, malah bisa kelipatannya.

Sehingga ketika satu penghasilan meredup. Kita masih bisa bertahan dengan sumber-sumber penghasilan lain.

Melek finansial

Pandemi ternyata juga memberi pelajaran bahwa penghasilan belasan bahkan puluhan juta. Belum tentu bisa mencukupi kebutuhan hidup.

Bukan karena tak cukup, tapi kurangnya ilmu dan wawasan bagaimana mengatur finansial pribadi serta keluarga.

Memang tak ada yang siap dengan pandemi. Misalkan ada orang yang punya penghasilan 20 juta rupiah per bulan. Ia pasti sudah punya alokasi kebutuhan bulanan, termasuk (kemungkinan) bayar cicilan yang lumayan menguras income bulanannya.

Sehingga ketika pandemi terjadi, bisa saja golongan orang tersebut tidak siap jika pendapatan bulanan berkurang atau gajinya dipangkas.

Saat ini pengetahuan tentang perencanaan keuangan sangat perlu untuk diperdalam. Agar kita “selamat” dalam menghadapi situasi apapun.

Memiliki tabungan, dana darurat, dana kesehatan, asuransi, hingga investasi. Nantinya kita bisa berfikir untuk mulai membeli emas, mempunyai deposito, dana pendidikan untuk anak(bagi yang sudah berkeluarga), tabungan jalan-jalan, hingga pengembangan penghasilan di bidang lain dengan cara investasi usaha.

Inovasi & kreativitas dalam bisnis.

Pengusaha harus lebih kreatif dan tahan banting saat pandemi ini. Bagaikan efek domino, dampak covid-19 menghantam banyak industri. Sehingga perlu langkah-langkah efektif untuk menyelamatkan usaha yang sedang berjalan.

Inovasi perlu dilakukan agar tetap bisa bertahan. Memotong biaya produksi & operasional, hingga mencari cara efektif serta efisien dalam pengelolaan bisnis.

Menunda kesenangan sementara.

Sejujurnya, covid-19 membuat kita rekat sejenak. Istirahat dari kegiatan harian yang bisa saja membuat kita seperti robot. Pandemi ini seperti jadi waktunya untuk berhenti sesaat dan melihat kembali segala hal yang telah kita lakukan. Ibaratnya evaluasi besar-besaran terhadap tindakan kita sebelumnya.

Termasuk untuk urusan hobi dan kesenangan. Stop sementara untuk jalan-jalan berwisata. Mungkin inilah saatnya bagi bumi mengembalikan fungsinya. Mereka pun ingin rehat setelah dieksploitasi keindahannya.

Buat yang suka berlibur, harus punya cara mengisi waktu yang bermanfaat. Atau menunda sementara kesenangan yang membutuhkan banyak dana.

Semua berbasis online

Mulai dari sekolah hingga bekerja. Pandemi memberikan kesempatan bagi kita untuk tinggal #dirumahaja sementara waktu. Memaksimalkan teknologi yang ada untuk tetap produktif serta bermanfaat.

Kalau saya, berhubung masih harus bekerja. Saya menggunakan waktu yang lumayan luang selama akhir Maret hingga akhir Mei 2020 lalu, untuk lebih banyak mengambil kelas online di rumah. Sembari merencanakan apa saja yang bisa saya lakukan untuk kembali hidup dengan kebiasaan baru. Baik yang berkiatan dengan urusan pribadi, pekerjaan, serta bisnis agar lebih familiar dengan teknologi, sehingga bisa bekerja lebih efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *