Belalang Goreng

Kriuk… kriuk .. kriuk. Bocah usia delapan tahun itu sangat menikmati makanan yang ada di tangan kanannya. Seperti mendapatkan menu makan istimewa, ia menghayati tiap gigitan menghabiskan satu plastik belalang goreng.

Marco, nama si bocah itu, mendapatkan beberapa bungkus belalang goreng saat berwisata di Wonosari, Gunung Kidul. Dalam perjalanan pulang dari Pantai Indrayanti di ujung selatan Yogyakarta. Rombongan pikniknya menemukan banyak sekali penjual belalang di pinggir jalan. Tak ingin melewatkan, ia pun membeli beberapa bungkus belalang goreng yang di kemas dalam plastik-plastik kecil. Satu plastik berisi delapan hingga 10 belalang tersebut dihargai delapan ribu rupiah. Penjual juga menyediakan porsi besar yang di kemas dalam toples, dengan membandrol Rp 25.000 per toplesnya.

Warnanya coklat mengkilat, garing di bagian luarnya, tetapi empuk pada bagian dalam. Seperti menjual jagung bakar saja, belalang goreng yang terkenal dengan sebutan belalang kayu ini, juga diberi varian rasa. Ada asin, manis, dan pedas. Anda ingin rasa yang mana? Silahkan pilih sesuai selera. Masuk dalam kategori serangga yang merugikan, ternyata belalang kayu memiliki rasa mirip udang.

Belalang Kayu, Hama yang Menguntungkan

Dulu Melanoplus cinereus, nama latin dari belalang kayu, menjadi musuh besar para petani. Ia hadir di masa panen, kala para petani memetik hasil kerja keras bercocok tanam berbulan-bulan. Belalang kayu datang untuk mengambil hasil garapan para petani. Tak ayal, ia jadi musum utama. Hama yang tak hanya menyerang tanaman padi tetapi juga pisang, tebu, daun jati, hingga jagung.

Satu belalang dewasa bisa menghabiskan 30mg daun, apalagi mereka datang dalam jumlah ribuan. Seperti tentara yang menyerang dan menghancurkan tanaman-tanaman. Walang, sebutan untuk belalang dalam bahasa Jawa, pantas untuk dibasmi. Belalang betina dewasa berukuran 58-71 mm, sedangkan belalang jantan 49-63 mm. Jika mereka berkumpul sebanyak 50 belalang saja, sudah setara seperti member makan satu ekor sapi dewasa. Memang menakjubkan. Tubuhnya yang kecil, sanggup menampung banyak daun.

Seringkali belalang kayu terbang bergerombol seperti angin dengan suara bising. Kemampuan terbang mencapai 80 kilometer menjadi modal mereka berperilaku seperti tentara penyerang. Bereproduksi begitu cepat dengan jumlah telur mencapai ratusan butir. Pantas saja ia menjadi ancaman para petani.

Mungkin rival adalah kata yang pantas bagi belalang kayu di mata para petani. Tapi itu dulu, sejak tahun 70-an terjadi hal yang sebaliknya. Petani yang mengincar belalang kayu. Hama ini tak lagi diusir dengan orang-orangan sawah atau dimatikan dengan cairan pestisida. Belalang kayu diincar dan ditangkap kemudian dijual sebagai penghasilan musiman.

Geraknya yang gesit dengan kemampuan meloncat hingga 3 meter, cukup menyulitkan siapa saja yang ingin menangkapnya. Galah yang dipasang jarring kecil pada ujungnya, menjadi senjata bagi pemburu belalang.
kuliner-jogja-belalang-goreng
Belalang Goreng, Lauk Pauk Favorit di Era 60-an

Saat ini Gunung Kidul terkenal dengan wisata alamnya yang  beragam. Memiliki puluhan pantai yang indah, goa-goa dengan stalagtit dan stalagmite menawan, dan pegunungan kapur menjulang. Berbondong-bondong wisatawan mengunjungi Jomblang yang ternama dengan istilah cahaya surga. Tapi tengoklah dua hingga empat dekade lalu. Gunung Kidul Yogyakarta identik dengan desa tertinggal dan sering kali kekurangan air. Bahkan saking miskinnya penduduk di sana, belalang menjadi tangkapan berharga dan lauk pauk kegemaran.

Gaplek menjadi pengganti nasi dan sebagai pelengkapnya. Mereka pergi ke hutan jati untuk menangkap belalang kayu, kemudian menggoreng dan disandingkan dengan gaplek sebagai lauk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *