Saya sudah bolak balik berkunjung ke Mangkunegaran. Meski tidak ke sana sebagai turis, melainkan belajar menari Jawa ketika berusia 14-17 tahun. Di sanggar Soerya Soemirat, setiap Senin dan Kamis pada sore hari. Kursus ini punya tempat khusus yang terpisah dari bangunan utama Mangkunegaran. Tapi pada waktu tertentu, saya dan teman-teman juga sempat berlatih di sekitar pendapa, tepatnya di lantai bawah.

Ketika pulang ke Solo, saya sempatkan mengunjungi Mangkunegaran untuk sekedar jalan-jalan. Tiket masuknya hanya Rp 10.000 saja, sekaligus bisa ditemani pemandu yang sangat informatif. Saking banyak informasi yang ia sampaikan, entah kenapa bicaranya begitu cepat. Mungkin sudah jadi template atau hafal setiap kali mengantarkan wisatawan.

Satu lokasi yang sering saya kunjungi yaitu daerah pendapa. Di waktu-waktu khusus pendapa sering digunakan sebagai tempat perhelatan kerajaan dan pagelaran tari. Semua yang ingin naik ke pendapa harus melepas alas kaki, baik di hari tertentu, kunjungan wisata, atau sekedar latihan menari. Pendhopo Ageng ini berusia ratusan tahun. Menjadi garda kedua setelah Pamedan, ornamen-ornamennya terpelihara dengan baik meski ada beberapa tambahan bangunan.

Pendhopo merupakan ciri khas bangunan Jawa yang tidak memiliki teras. Berbentuk persegi disangga dengan tiang-tiang utama. Luas Pendhopo Ageng 3500 meter persegi. karena beberapa hal, teras ditambahkan untuk menunjukkan kemoderenan. Di beberapa sudut pendopo dihiasi patung-patung bernuansa Eropa yang menghiasi pendopo terbesar di Indonesia ini. Istana Mangkunegaran ini menggabungkan gaya Jawa, Cina, dan Eropa.

Semua bahan bangunan yang digunakan Pura MAngkunegara didatangkan dari tempat terbaik. Marmer yang melapisi pendopo yang bisa menampung lima hingga sepuluh ribu orang ini sengaja diimpor dari Italia tahun 1864. Marmernya sudah berubah warna menjadi sedikit kecoklatan karena tergenang air saat banjir di Solo tahun 1967. Pura mangkunegaran menjadi salah satu bangunan yang tenggelam. Dari cerita beberapa orang tua, banjir yang menggenangi setinggi kepala orang dewasa. Marmer merupakan bahan yang mudah berubah warna ketika menyerap air. Warna putihnya tidak bisa kembali putih seperti semula. Tapi corak coklat ini malah menambah sisi cantik dari Pendhopo Ageng.

Gaya Eropa lainnya yang menjadi bagian Kumudhowati yaitu lampu-lampu minyak menghiasi bagian atas yang diboyong dari Belanda pada tahun 1863. Saat ini lampu minyak tersebut sudah dirombak ulang agar bisa digunakan untuk lampu listrik tanpa mengganti kerangka asal lampu.

Filosofi Lambang Kumudhowati di Langit-Langit Pendhopo Ageng

Mengunjungi Pura Mangkunegaran, saya tak hanya menikmati bangunan bersejarah, tapi juga belajar tentang filosofi orang Jawa yang dituangkan dalam simbol dan melengkapi tempat tinggal mereka. Pesan-pesan arif yang melekat pada bagian Pendopo Ageng digambarkan pada disetiap sisi dan elemen yang menyusunnya.

Empat pilar besar utama untuk menyangga atap yang disebut soko guru, melambangkan empat unsur dalam kehidupan air, tanah, angin, dan api. Meski secara keseluruhan ada 34 kayu yang menyangga pendhopo tersebut, tapi bagian paling besar ukurannya ada di soko guru. Kayu yang menjadi tiang bangunan didatangkan dari hutan Danalaya, Kabupataen Wonogiri.

Persis di bagian tengah terdapat lukisan berbentuk persegi panjang dengan motif modang dengan hiasan astrologi Jawa-Hindu. Motif modang merupakan api yang memiliki makna semangat hidup. Dalam arti lugasnya bahwa manusia harus memiliki semangat dalam menjalani kehidupan apa pun cobaan yang terjadi.

  1. Lukisan Kumudawati merupakan ide dari K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII pada tahun 1937. Lukisan tersebut dirancang arsitek Belanda bernama Karsten dan dicat Liem Tho Hien dan JA Atmowirjoso. Delapan spektrum mendominasi bagian tengah yang masing-masing warna ternyata memiliki pesan serta makna yang begitu mendalam. Berikut delapan warna tersebut :
    1. Kuning menandakan pencegahan terhadap kantuk atau siaga. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali rasa malas mendera. Manusia diharapkan hidup seimbang dalam bekerja maupun beristirahat.
    2. Biru : mencegah bencana. Setiap orang pasti mendapat ujian kehidupan. Ujian tersebut dapat berupa berbagai hal baik bencana, sakit, atau hal buruk lainnya. Manusia diharapkan dapat bersabar dalam menghadapi kejadian tersebut.
    3. Hitam melawan kelaparan.
    4. Hijau merupakan lambang dari penegahan stress. Cobaan pasti pernah dialami setiap manusia. Manusia diharapkan mampu berfikir jernih dan kuat menghadapinya. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluar.
    5. Putih artinya melawan nafsu. Manusia memiliki nafsu yang kuat. Hal tersebut selayaknya dapat dikendalikan dengan baik. Nafsu tak hanya berupa birahi tapi juga keinginan-keinginan lain. Pengendalian nafsu dapat dilakukan dengan puasa, sebagai wujud keprihatinan yang sering dilakukan orang-orang Jawa.
    6. Oranye : melawan rasa takut dan pikiran negatif. Hal buruk sering kali datang dari diri sendiri. Manusia mampu untk menghalau perasaan takut yang muncul dari dirinya serta pikiran-pikiran buruk yang ditimbulkan dari diri sendiri.
    7. Merah muda melawan kejahatan. Selain hal negatif yang datang dari diri sendiri. Sesuatu yang buruk juga berasal dari pihak luar. Sebaiknya setiap orang wajib waspada terhadappengaruh jahat yang timbul dari luar diri kita.
    8. Ungu : melawan pikiran jahat. Dalam kehidupan bermasyarakat sering timbul rasa iri, dengki, prasangka buruk dalam hati manusia. Sifat ini haruslah diwaspadai dan dikenalikan setiap manusia.

Lukisan tersebut merupakan cerminan agar manusia mampu menempatkan pikiran dengan kesempurnaan spiritual sehingga bisa terbebas dari sempit sikap, hati dan mementingkan diri sendiri. Dalam lukisan Kumudhowati di Pendopo Mankunegaran juga terdapat 12 zodiak.

Wisata Solo di Pura Mangkunegaran
Lokasi Pura Mangkunegaran sangat strategis berada di pusat kota Solo. Tepatnya terletak diantara Jl. Ronggo Warsito, Jl. Kartini, Jl. Siswa dan Jl. Teuku Umar. Salah satu tempat wisata di Solo yang mudah diakses baik dari Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi maupun Bandara Adi Sumarmo Solo.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *