Kisah Edo : Sekelumit Cerita Bekerja & Berlibur di Australia

Senja Utama Yogya, dari namanya tujuanku sudah pasti kota yang membuat banyak hati tertambat, banyak rindu yang tersemat, banyak cerita sedih ceria dan juga cerita cerita hebat. Aku baru saja kembali dari ibukota, Jakarta. Kota yang penuh sesak, macet, panas, tapi diantaranya terselip rindu serta tawa renyah persahabatan. Kota ini jadi tempatku mengadu nyali serta nasib 2 tahun lamanya sampai aku pungkasi cerita di Januari 2018 lalu. Aku mendapatkan banyak pelajaran berharga, teman teman yang setia, serta cinta yang selalu berakhir di bandar udara. Ya, sering kali aku mengantar pergi kekasihku di bandar udara, tempat yang paling ku cintai sekaligus ku benci.

Kini setelah 10 bulan berselang, aku berada di Australia, tempat baru yang memberiku inspirasi banyak cerita. Tempat belajar juga bekerja tentunya. Keputusanku kemari bukan hal yang mudah saat itu. Sejujurnya angan untuk pergi ke Australia sudah muncul sejak 2013-2014 lalu sampai akhirnya di 2017 aku makin mantab. Sebelum akhirnya berangkat banyak drama yang mengiringi. Tapi bukan itu yang ingin aku bagi hehe.. tapi soal keberanian mengambil keputusan besar dalam hidupku. Karena ada keraguan dan hal hal yang tak bisa kubayangkan hidup di benua baru. Dulu, pindah ke Jakarta saja bagiku sudah cukup berat hingga aku bisa menikmatinya. Pun demikian ke Australia ini. Aku kemari, ke negeri kangguru dengan visa work & holiday (WHV) yang belakangan peminat dari Indonesia luar biasa. Mungkin karena cerita-cerita indah bisa kerja bergaji dollar sekaligus jalan-jalan di luar negeri jadi alasannya. Lalu jika ditanya apa yang mendorongku akhirnya berani ke Australia adalah karena aku ingin menciptakan perubahan dalam hidupku. Saat itu aku merasa “stuck” bekerja kantoran apalagi umurku sudah hampir kepala 3, mau berkarir kok rasa rasanya susah. Memulai bisnis sendiri yang terjadi malah gagal sana sini. Akhirnya aku memutuskan untuk mau belajar hal baru supaya ada perubahan dalam hidupku dan apply WHV jadi jalan keluar yang aku pilih saat itu.

bekerja di australia

bekerja di australia

Aku Seorang Petani

Sesuai namanya, work & holiday sejatinya memberi kesempatan bagi penerima visa untuk bekerja dan berlibur di Australia. Long story short, kurang lebih 8 bulan pertama aku habiskan di negara bagian Queensland. Pekerjaan pertamaku saat itu sebagai desapper, tugasnya memotong sisa tangkai buah mangga agar getahnya keluar. Pekerjaan yang cukup mudah sebenarnya namun tantangannya adalah berdiri di depan mesin pemotong selama 9 jam setiap hari. Pekerjaan ini aku jalani selama 3 hari saja karena kebetulan aku datang di penghujung musim panen. Kemudian 1,5 bulan berikutnya aku bekerja sebagai prunner yang tugasnya memotong sisa-sisa tangkai di pohon mangga yang sudah dipetik, tujuannya agar musim panen berikutnya bisa kembali berbuah maksimal. Tantangan pekerjaan ini adalah cuaca yang terik plus area yang kami kerjakan cukup luas, kira kira tak kurang dari 5 lapangan sepakbola. Setelah pekerjaan sebagai prunner selesai, aku menghabiskan 6 bulan berikutnya bekerja di perkebunan bunga. Bagiku inilah pekerjaan terbaik selama aku di sini. Banyak bekerja di dalam shed atau semacam garasi besar tempat segala mesin dan aktifitas lainnya dikerjakan di sini. Tugas yang aku lakukan berbeda beda, dari planting menggunakan mesin, stacking pot pot bunga yang akan dikirim dan picking. Yang justru berbeda dari bekerja di Australia adalah sistem gajinya, di sini kami digaji per jam, berapa jam dalam seminggu kami bekerja dikalikan dengan upah minimum nasional dan tentu saja dipotong pajak penghasilan 15%. Somehow, cukup besar tapi pajak juga demikian, semakin tinggi penghasilan kita maka pajak yg dikenakan semakin tinggi. FYI, pajak 15% hanya dikenakan untuk $37.000 pertama yang kita dapatkan dalam setahun. Setelahnya setiap dollar yang kita dapat akan dipotong pajak 32,5% luar biasa bukan hehe..

Selain dollar yang aku dapat tentunya pengalaman berharga. Bertemu dengan orang baru, melakukan pekerjaan yang sama sekali baru, dan adaptasi dengan lingkungan baru.  Plus jalan – jalan ke tempat – tempat menyenangkan nan asri terutama selama aku tinggal di Mareeba, Queensland. Opsi wisata alam yang menarik jadi pelengkap holiday di Australia. Jujur saja masih banyak tempat yang ingin aku singgahi kelak di lain hari. Usai hari hariku di Queensland, aku memutuskan untuk pergi ke barat Australia, kota Perth jadi tujuanku berikutnya. Ibukota negara bagian Western Australia ini langsung membuatku jatuh cinta. Meski kota besar namun tak terlalu crowded, kota yang ramah, cuaca yang menyenangkan, dan juga tempat – tempat wisatanya yang menarik untuk disinggahi. Awalnya tujuanku datang kemari untuk mencari pekerjaan di kitchen, bukan tanpa sebab karena aku kebetulan senang memasak dan inilah yang jadi alasan utama aku ingin mendapatkan pengalaman baru di dunia kuliner. Tapi, sayangnya aku belum cukup beruntung mendapat pekerjaan itu dan selama kurang lebih 1,5 bulan di Perth aku bekerja sebagai landscapper. Pekerjaanku kali ini berurusan dengan instalasi rumput dan perawatan taman. Menyenangkan tentu saja karena lokasi aku bekerja berpindah – pindah dan tempat favoritku adalah King’s Park. Taman terbesar di Perth dengan beragam tanaman yang berada di atas bukit dan pemandangannya yang menghadap ke teluk. Selalu menemukan keasyikan sendiri jika bekerja di tempat ini.

Kini, aku kembali ke Queensland. Bukan tanpa sebab, kebutuhan pekerja seasonal cukup tinggi selama musim panas yang artinya musim panen buah telah tiba. Aku kembali ke kebun mangga meski bukan kebun yang kali pertama aku bekerja. Kebun ini luasnya berlipat lipat dari kebun terdahulu, 13.000 hektar dengan setidaknya ada 35.000 ribu pohon mangga. Yang menarik di sini adalah para pekerjanya, boleh dibilang jadi seperti kampung Indonesia karena dari 200an pekerja tak kurang dari 45% nya adalah teman teman Indonesia, sisanya dari Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan beberapa teman dari Eropa. Pekerjaan seasonal seperti musim mangga ini memang selalu ramai, karena menjanjikan jam kerja panjang yang artinya semakin banyak dollar yang bisa “dipanen”.

pengalaman bekerja petik buah di australia
Menjemput pengalaman & merealisasikan impian.

Menjemput Petualangan di Australia

Kesempatan ke Australia ini bagiku memang luar biasa, membukakan kacamataku tentang bekerja, tentang kehidupan, dan tentang banyak hal lain terutama soal menyikapi diri terhadap perubahan di luar sana. Hal hal yang mungkin tidak aku dapat jika aku memiliu berdiam diri di Indonesia. Petualangan ke tempat baru meski tak banyak juga jadi cerita, selain hal yang utama soal bekerja. Meski bekerja yang sifatnya sementara namun ikatan emosional dengan pekerjaan, dengan tempat di mana kita tinggal juga jadi pertimbangan ketika aku harus menetukan pilihan. Seperti aku bilang, Perth menawarkan sejuta pesona kota yang maju namun tak terlalu padat namun susahnya pekerjaan jadi alasanku untuk urung kembali dalam waktu dekat. Sedangkan Queensland, bagiku seperti land of hope, pekerjaan bidang perkebunan selalu melimpah. Akhirnya, petualanganku terus akan berlanjut, bertemu dengan suasana baru, teman baru, pekerjaan yang mungkin sama sekali baru. Aku belajar untuk adaptif dengan cepat, belajar untuk belajar dengan cepat, belajar lagi untuk mengelola harapan dan mimpi selagi kesempatan masih ada.

Terima kasih,

Queensland, Desember 2018

 

bekerja dan berlibur di australiaEduardo Herlangga

Eduardo – (IG : @edoxedo)
A Football enthusiast, love to cook
write my own story, and who cares anyway
(photo & story by Eduardo Herlangga)
——————————————
Ini project baruku di 2019. Mengundang tamu yang punya pengalaman menarik tentang traveling.
Edouardo, yang lebih akrab saya panggil Kak Edo, adalah mantan officemate yang sudah berani menjemput mimpi ke benua seberang, Australia. Setelah sempat bertemu di November 2019 (kalau tak salah ingat). Kak Edo, berbagi banyak cerita tentang pekerjaan dan pengalaman berada di Australia selama sepuluh bulan.
Berat? Tentu saja. Tidak semua orang berani mengambil keputusan untuk melakukan hal berbeda dalam kehidupannya. Namun, Kak Edo melakukan hal tepat untuk keluar dari 9to5 dan lepas dari bekerja di balik cubicle panel.
Big notes-nya buat saya. Kenyamanan memang menyenangkan. Tapi, sering kali sesuatu yang nyaman malah membuat kita tidak berkembang.
Belajar dari pengalaman Kak Edo, tidak ada yang tidak mungkin jika ada kemauan. Mimpinya dari 2013 dan akhirnya tahun 2018 tercapai. Pengalaman lain masih menanti… Good luck untuk karir di Ausie.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *