Barbekiu Saigon Night Pinggir Jalan

Makan malam pertama di Ho Chi Minh City tidak terduga. Rencananya saya akan mencari tempat makan yang cukup tenang, alih-alih bisa menikmati makanan khas Vietnam di sebuah kedai kecil yang nyaman untuk duduk dan ngobrol dengan leluasa.

Namun, setelah jalan wara-wiri di area sekitar hostel, yang saya inginkan sepertinya sirna. Memang kami tinggal di kawasan backpacker yang notabene banyak club, kafe, atau bar. Tapi setidaknya berharap ada satu atau dua tempat makan luas serta tertutup. Di tengah jalan, saya dan Rudy malah tergoda makan karena selalu dipanggil gadis-gadis muda Saigon yang resik dan seksi.

Gadis-gadis cantik ini memakai rok mini dengan atasan tanpa lengan yang mempertontonkan kulit putih. Sebagian berpakaian seragam warna kuning dan membawa kertas besar berlaminating. Awalnya saya pikir gadis bar yang menggoda untuk mampir minum di kafenya. Eh ternyata mereka bergerombol mendatangi kami berdua agar mau singgah di kedai mereka.

wisata kuliner vietnam

Saigon Night

Jangan bayangkan kedai makanan seperti warung yang harus masuk ke sebuah rumah. Salah satu gadis langsung menunjukkan tempat duduk pendek, yang di Indonesia sering digunakan untuk murid taman kanak-kanak di kelas. Di kedai sebelah, semua kursi sudah penuh tak bersisa.

Isinya paling ada lima meja dengan 10 atau 12 kursi yang terisi penuh. Pengunjungnya berdempet-dempet duduk, seperti makan bersama dengan keluarga atau teman. Padahal belum tentu semuanya saling kenal.

Karena di kedai ini kosong. Akhirnya saya memilih Saigon Night. Satu lajur tempat duduk berisi delapan kursi yang saling berhadapan. Saya datang berdua saja. Jadi kami diminta duduk di kursi paling ujung.

kedai barbekiu di ho chi minh city

Seorang gadis lain dengan terusan hitam langsung memberikan menu. Lumayan cantik dan menarik, tapi sumpah, mukanya bikin males. Jutek sekali dan tanpa senyum sedikit pun.

Saat kami minta ingin pindah ke kursi yang lebih dekat dengan jalan raya. Ia bilang tidak bisa. Kami harus duduk di kursi yang sudah dipilihkan. Ya ampun, padahal kami kan mau beli makanan mereka. Masa milih kursi saja tidak boleh.

Kedai-kedai di Vietnam termasuk Ho Chi Minh City memang khas. Mereka lebih akrab menggunakan bangku dan meja pendek. Makan di pinggir jalan dan tanpa penghalang terpal seperti warung kaki lima di Indonesia. Serba terbuka.

kuliner vietnam

Menu di Saigon Night

Saya nggak pesan banyak makanan. Seperti judul kedainya yang menjual barbekiu. Saya cari aman hanya pesan sate ayam dan tumis brokoli. Dengan ukuran yang lumayan besar, saya pikir sate dijual satuan. Ternyata mereka menjual dalam bentuk per porsi yang isinya lima tusuk sate.

Sengaja tidak memilih seafood karena saya khawatir nanti mendadak alergi atau tidak cocok dengan makanan laut di Vietnam. Apalagi Rudy yang tidak biasa makan udang karena tenggorokannya langsung gatal-gatal.

Makan barbekiu di Ho Chi Minh memang tidak terlalu nyaman buat saya karena lokasinya yang terlalu berada di dekat jalan. Tapi mau tidak mau dan lama-lama saya jadi terbiasa serta mulai menikmati.

Sambil pesan minum, kami menunggu pesanan dihantarkan ke meja. Mengamati lalu lalang jalanan serta cara sales girl menawarkan makanan dan minuman. Mereka berkeliaran hingga tengah jalan, mondar mandir ke sana ke mari sambil menenteng kertas berisi menu. Berteriak lantang dalam bahasa Vietnam yang saya tidak paham.

Saya rasa mereka mengajak orang-orang untuk datang ke kedai makan. Jika ada satu orang yang berhenti hanya untuk sekedar melihat. Para sales girl ini pasti menggiring untuk langsung duduk di meja.

barbekiu saigon night ho chi minh city

saigon food streetCara berjualan yang menarik dan sangat to the point. Apalagi jenis makanannya di pajang di etalase tanpa kaca. Saya bisa melihat dan pilih-pilih langsung jenis daging dan seafood apa saja yang tersedia.

Sambil menunggu, peralatan makan dikeluarkan dan diletakkan di meja. Sumpit, mangkuk kecil untuk nasi, tisu basah, dan semangkuk minyak bumbu. Tak berapa lama sate ayam barbekiu saya sudah siap.

Penyajiannya sederhana, hanya dibakar dengan bumbu minim. Layaknya barbekiu pada umumnya yang dimakan dengan sayur. Sate-satean ditusuk selang seling dengan paprika. Saya hanya mencelup ke bumbu berwarna hijau muda yang tadi sudah disediakan. Rasanya enak dan bumbu itu memperkaya sate barbekiu. Potongan dagingnya besar-besar dengan harga yang murah.

sate barbekiu

nasi putihSaya mengambil nasi dan memakan lauk barbekiu ini bersamaan. Nasinya juga pulen dan harum. Jangan harap ada refil untuk nasi. Makan secukupnya saja dan perbanyak protein serta sayuran saat mencoba barbekiu ala Saigon.

Saat sauted brocolli saya datang. Betapa kaget, ternyata bukan brokoli hijau yang dihidangkan seperti yang terbayang sebelumnya. Satu piring kecil kembang kol tumis lah yang disebut sebagai brokoli. Sayur tumis yang tidak terlalu berminyak dan ditaburi bumbu ebi serta potongan besar daun seledri.

tumis kembang kol

Makanan Vietnam sangat akrab dengan daun-daun mentah, layaknya orang Sunda. Mereka menyuguhkan sate bumbu hijau beralas daun yang mungkin untuk lalap. Sedangkan seledri bukan menjadi pemanis saja seperti makanan Indonesia yang diiris tipis lalu ditaburkan ke atas makanan.

Seledri hanya dipotong dalam bentuk memanjang dan daunnya dibiarkan begitu saja. Rasa daun seledri segar dan tidak terlalu langu. Berbeda seperti daun seledri yang dihasilkan di Indonesia.

Tak berapa lama saat kami mulai makan. Lima lelaki Jepang datang dan duduk di sebelah kami. Mereka duduk berhimpit-himpitan di kursi pendek dan menghadap dua meja kecil yang disatukan.

Ketika satu persatu pesanannya dihidangkan di meja. Salah satu pria menolak karena ia tidak memesan barbekiu daging sapi.

Jangan bayangkan seperti di restoran, jika yang diberikan tidak sesuai dengan pesanan Anda. Pelayan akan menarik makanan dan membawanya kembali ke dapur. Perempuan dengan teruan hitam tadi datang, lalu mengomel dengan bahasa Vietnam. Saya tak tahu artinya, yang jelas ia marah-marah sambil menunjuk buku. Sepenangkapan saya, ia memberi tahu, bahwa orang-orang Jepang tadi memang pesan sate daging sapi dan sudah ia tulis.

Yah sama seperti pria pada umumnya yang malas berargumen dengan perempuan. Lima pria Jepang tadi diam terpaku dan mengalah saja. Setelah perempuan Vietnam, kepala kedai tadi berlalu. Mereka hanya bisa tertawa kecil dan heran dengan tingkah sang perempuan.

Selain menikmati potongan-potongan daging ayam yang tebal dan besar. Di Saigon Night, saya juga mendapati sajian tak terduga mulai dari pemimpin kedai yang jutek, tontonan para gadis cantik yang menggaet para turis, hingga cara makan pinggir jalan ala Vietnam.

Saya minta nota pembayaran dan tota untuk lima tusuk sate, seporsi nasi, tumis kembang kol, dan dua botol minuman VND 125.000 sekitar Rp 80.000,- Cukup murah ya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *