Makan Bara Di Nepal : Makan Siang Di Rumah Warga & Menegak Air Kendi

Ketika mengunjungi Nepal, beberapa kebiasaan warga otomatis saya lakukan, terutama terkait dengan makanan. Setelah rutin minum yoghurt, makan nasi basmati, saya juga berkesempatan makan siang dengan menu bara. Tenang, ini bukan bara api yang panas menyala. Melainkan makanan mirip dengan pancake yang dimasak dengan cara tradisional.

Pertemuan saya dengan cemilan mengenyangkan ini karena sedang asyik jalan-jalan di dalam kompleks Desa Bhaktapur. Kami menjelajahi gang dan mendatangi beberapa art shop yang bertebaran di sana. Di belakang toko yang saya lalui, kami melewati sebuah rumah warga yang dikunjungi para wisatawan asing. Tak begitu ramai, tapi lumayan hilir mudik. Saya pun penasaran apa yang ada di dalamnya. Ternyata rumah dengan pintu pendek. Mirip sekali dengan pintu-pintu rumah joglo lawasandi mana kita perlu menundukkan kepala jika ingin masuk rumah. Saya pun melongok masuk melihat aktivitas apa yang sedang dilakukan si empunya rumah.

Ternyata, ia sedang memasak di dapur yang sangat tradisional bentuknya. Lucunya, saat memasak si ibu menghadap tungku besar yang terbuat dari batu. Dengan santai mengambil adonan, mencetak bara, dan membolak-baliknya sampai matang. Saya yang melihat proses memasak ini. Tidak sanggup jika harus melakukannya. Bayangkan saja, jarak antar tungku dengan orang yang memasak sekitar 30 cm saja. Betapa panasnya.

Rumah yang dijadikan tempat berjualan ini hanya satu sisi saja. Saya kurang paham, bagian samping atau depankah yang digunakan. Ruangannya begitu sempit dan gelap. Sinar lampu membantu penerangan area itu. Hanya ada dua meja dan empat bangku panjang untuk para pembeli yang datang. Sehingga tidak bisa menampung banyak orang.

Awalnya, saya tak paham nama makanan ini adalah bara. Saya asal saja memesan dan ditawari mau yang menggunakan daging atau telur. Saya pesan dua bara, yang satu dengan telur matang, yang lain dengan telur setengah matang. Saya harus antri menunggu giliran karena ada dua orang bule yang lebih dulu pesan sebelum saya.

Sambil menunggu, saya mengamati tempat makan yang sangat sederhana ini. Termasuk ibu penjual, cara dia memasak, dan mencoba memahami gesture tubuhnya agar komunikasi kami berdua berlangsung lancar.

Si ibu mengira, saya orang asli Nepal, sehingga ia mengajak bicara dengan bahasa setempat. Tapi saya tampak kebingungan dan mengatakan dalam bahasa Inggris bahwa saya dari Indonesia. Ia pun sepatah-sepatah mencerna penjelasan saya. Saat paham bahwa saya bukan orang lokal, ia pun tertawa-tawa, dan mempersilahkan saya kembali menunggu.

Tak lama kemudian, tetangga ibu penjual tadi datang dan memesan bara. Kemudian mereka berdua bercakap-cakap termasuk membicarakan saya yang mukanya ini ke-Nepal-Nepal-an. Saya mengetahui dari bahasa tubuh mereka, karena sebentar-sebentar menengok ke arah saya dan Rudy.

Saat giliran saya tiba, saya sempatkan melihat lebih cermat proses pembuatan bara. Pertama, adonan seperti tepung berwarna putih yang kental diletakkan pada plat datar sudah panas. Ukuran adonan ini satu sendok besar. Kemudian diratakan membentuk seperti lingkaran berdiameter kira-kira 10 cm. Ukurannya tidak persis sama, hanya perkiraan saja. Beberapa detik kemudian, toping ditaruh di atas adonan. Bisa telur atau daging kerbau yang telah dimasak. Tunggu beberapa saat, kemudian dibolak balik hingga matang. Bara disajikan pada piring stainless lalu diserahkan pada saya.

kuliner-nepal-bara

Menikmati Bara

Bara terasa nikmat saat masih hangat. Tekstur tepungnya kasar, meski sudah matang dan terlihat bulir-bulir tepungnya. Setelah saya cari tahu, ternyata bahan dasar bara merupakan lentil yang dihaluskan. Pantas saja, jika makan bara sudah terasa kenyang, padahal hanya satu porsi.

Lentil merupakan sejenis kacang-kacangan. Jika kita penggemar healthy food, biji lentil menjadi salah satu varian karbohidrat yang direkomendasikan karena sehat. Wah, ternyata makanan orang Nepal memang mendukung kesehatan. Mulai dari yoghurt hingga cemilannya yaitu bara. Pancake bara disajikan dengan semangkuk sup lentil & kentang yang dimasak dengan masala.

Kenangan Menenggak Air Putih Dari Kendi

Makan sudah kenyang ? Lalu minumnya apa? Warung ini menyediakan minuman soda dingin seperti Fanta di lemari es. Silahkan ambil sendiri lalu bayar ke penjualnya. Tapi jika tak mau minuman bersoda bisa juga minum air putih yang telah tersedia di meja.

Saya pun memutuskan pilih minum air putih saja. Lebih segar dan tidak menimbulkan rasa haus berkepanjangan jika dibandingkan minum minuman manis. Setelah selesai makan, saya celingukkan mencari gelas yang sekiranya digunakan untuk menuangkan air dari kendi.

Saya menunggu lumayan lama. Tapi tak ada gelas di area tersebut. Mau bilang ke ibu penjual pun, saya sungkan. Jadilah, saya menunggu, melihat pembeli lain apa yang mereka lakukan. Kalau pembelinya wisatawan bule, tak perlu tanya. Mereka sudah pasti membawa air minum sendiri dalam botol. Lalu, saya memperhatikan orang lokal yang selesai makan. Ternyata, ia pun mengambil kendi yang terbuat dari stainless itu lalu menuangkan isinya langsung dari dalam kendi mengucur ke mulut. Glek..glek..glek.. suara tenggorokan yang menelan air pun terdengar.

Waduh…pikir saya. Kan kendinya hanya satu di masing-masing meja. Kemudian kendi tersebut dioper ke temannya dan kejadian serupa terulang.

Ohh… begitu. Saya jadi teringat kenangan saat masih kecil, ketika mbah dan bapak saya suka mengkonsumsi air dari kendi yang terbuat dari tanah liat. Air mengucur seperti air mancur dan mulut seperti kolam yang menampung pancuran airnya. Eh..tapi, itukan kalau masih orang serumah tidak jadi begitu masalah. Tapi di Nepal, kendi yang sama bisa dipakai ramai-ramai. 😀

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *