Bangkok & Say No To Tuk-Tuk

Selembar himbauan ditempel pada tembok dekat meja resepsionis. Isinya Say No To Tuk-Tuk. Dengan tulisan besar dan warna merah pada kata NO. Di bawahnya sebuah peta kecil dari hostel menuju tempat wisata di Bangkok yang paling populer, salah satunya ke Grand Palace.

Dibilang dekat sih tidak. Jarak dari penginapan kami ke pusat kota sekitar tiga kilometer. Masuk gang kecil, melewati tempat peribadatan, dan menyusuri Khaosan Road serta jalan utama. Barulah bisa sampai ke istana raja yang terkenal itu. Buat Anda, orang Jakarta dan ke mana-mana berat untuk jalan kaki jauh. Rasanya memang susah, menjelajahi sebagian kecil Bangkok dengan cara  ini. Belum lagi kepanasan dan keringetan. Wiz…pokoknya Anda akan bilang nei nei. Mending bayar taksi mahal atau tuk-tuk meski diporotin.

Tuk-tuk memang identik dengan Bangkok. Tetapi istilah tuk-tuk juga dipakai di Kamboja untuk menyebut kendaraan tradisional roda tiga yang dijalankan dengan mesin. Kalau di Indonesia, tuk-tuk lebih mirip bajai.  Mereka memberi nama tuk-tuk, karena suara tuk..tuk..tuk..tuk… yang dihasilkan mesin. Dengan kemajuan teknologi, bunyi berisik tadi akhirnya bisa diminimalisir. Ingat kan bajai di Jakarta yang diperbaharui warna biru ? Suaranya tidak sememekakan telinga seperti bajai oranye ?!

Model tuk-tuk berbeda-beda di setiap negara. Di Kamboja, tuk-tuk ada dua jenis. Saat di Phnom Penh, saya mendapati salah satunya lebih mirip bajai yang mampu menampung dua hingga tiga orang penumpang. Model tradisional juga masih digunakan, tiga hingga empat orang penumpang, dan satu sopir dalam satu tuk-tuk. Saat saya dan Rudy ke The Killing Field, kami juga diantar tuk-tuk model tradisional. Jika kena hujan, wuzzzz… tentu saja bisa basah karena sisi kanan kiri depan dan belakang semi terbuka. Mirip becak di Solo, saat hujan, tuk-tuk tradisional ini menurunkan tirai plastik di sisi kanan-kirinya agar penumpang tidak basah. Lalu bagaimana dengan sopir yang letaknya di luar kursi utama? Mereka pakai jas hujan dan helm.

Tuk-tuk hanya lah istilah yang muncul di Kamboja dan tentu saja Thailand. Orang bule tetap menyebutnya sebagai modern rickshaw. Di India tuk-tuk disebut auto rickshaw atau rickshaw di Pakistan. Di Bangladesh penduduklokal menyebut CNG, Srilanka biasa memanggil dengan three wheeler karena rodanya memang tiga/tuk-tuk/trishaw. Sedangkan di Indonesia memberi nama bajai, lebih besar lagi muatannya disebut bemo. Di benua Afrika, mereka memberi nama trishaw, autorick, bajaji.

Transportasi tradisional seperti tuk-tuk, sebenarnya menjadi daya tarik tersendiri saat jalan-jalan. Sayangnya banyak orang lokal yang tidak merekomendasikan untuk naik angkutan umum khas Thailand ini. Kenapa ?

tuk tuk di Kamboja
Tuk-tuk modern saat di Phnom Penh

BACA JUGAREKOMENDASI JAJANAN PINGGIR JALAN DI BANGKOK

Tipu Tipu Tuk-Tuk Bangkok

Karena scam tuk-tuk sudah sangat terkenal di kalangan backpacker. Saya jadi ogah-ogahan mencoba transportasi ini. Apalagi dengan embel-embel diporotin. Wisatawan asing akan diminta bayaran mahal tapi tidak diantarkan ke tempat tujuan.

Selain saya lebih sayang uang saku, pertimbangan lain yaitu waktu sempit untuk wisata di Bangkok yang kurang dari 48 jam. Malas kan kalau itenerary wisata yang sudah tersusun dengan baik jadi amburadul hanya karena sopir tuk-tuk yang menyebalkan.

Banyak sekali cerita yang sudah saya baca dan dengar tentang tuk-tuk Bangkok. Mayoritas kurang menyenangkan. Pertama, penumpang akan didekati dan ditanya mau pergi ke mana. Awalnya salah satu dari mereka akan datang seperti memberikan bantuan atau menawari untuk mengantarkan ke tempat tujuan wisata yang akan dikunjungi.

tuk-tuk Kamboja
Model tuk-tuk tradisional di Kamboja

Namun, kenyataannya orang-orang yang mengiyakan tawaran tadi, tidak langsung diantar ke tempat tujuan utama. Penumpang akan diantar ke toko souvenir yang berafiliasi dengan mereka.  UUD memang, ujung-ujungnya duit. Setiap sopir tentu yang mampu membawa turis akan mendapatkan fee tertentu. Minimal voucer untuk mendapatkan bahan bakar tuk-tuk secara gratis.

Kedua, tarif tuk-tuk sangat fluktuatif dan tergantung dengan waktu serta mood sopirnya. Untuk jarak dekat akan dikenakan minimal 30 bhat. Jadi, siapkan kalkulator kalau mau menggunakan tuk-tuk untuk moda transportasi.

Pengalaman hampir terkena scam tuk-tuk di Bangkok saat saya keluar dari Wat Pho untuk cari makan siang. Cuaca yang panas dan sangat lembab bikin saya dan Rudy hampir menyerah. Ditambah lagi jalanan di pusat kota Bangkok yang sangat bersih dan minim tempat duduk untuk sekedar istirahat sejenak.

Baru saja keluar pintu gerbang, saya dihampiri seorang lelaki yang terlihat begitu baik. Dia berniat memberikan informasi tentang tempat wisata Bangkok yang paling sering dikunjungi wisatawan. Bicaranya dari A sampai Z. Tanya apakah saya sudah ke Grand Palace ? Atau sudahkah makan siang ? Dan ke mana lagi destinasi selanjutnya yang akan kami berdua kunjungi.

Dalam hati saya cuma nanya. Ada ya orang yang baik sekali seperti ini. Ia menjelaskan tentang flower market yang tidak jauh dari Wat Pho. Lalu bercerita tentang floating market yang menjual banyak makanan dan saya wajib mengunjunginya.  Memberi beberapa tips agar saya mendapatkan harga murah saat menyewa perahu dan membeli makanan karena saya turis asing. Kosakata penting seperti sawadeka diajarkan agar saya dikira warga lokal Bangkok.

Tapi seperti biasa, tidak ada yang gratis di dunia ini. Ujung-ujungnya, ia menyarankan naik tuk-tuk untuk pergi ke sana. Dengan jaminan dan rekomendasi, jika pergi dengan tuk-tuk perjalanan saya jadi lebih mudah dan lancar.

Lelaki ini sudah memanggil salah satu sopir tuk-tuk yang ada di dekatnya. Ia agak memaksa kami untuk mau pergi menggunakan tuk-tuk berkeliling Bangkok, tanpa menyebutkan berapa tarif naik tuk-tuk yang dikenakan.

Operasi tuk-tuk mengincar wisatawan asing memang sudah terencana. Beberapa sopir tuk-tuk akan dipimpin satu orang yang berfungsi sebagai marketer tuk-tuk. Tugas orang ini mendekati wisatawan yang berpotensi untuk ditawari jasa mereka. Jika satu turis sudah kena, ia akan melempar “korban” nya ke sopir yang bertugas. Kemudian lanjut mencari mangsa lagi dan melakukan hal yang sama seterusnya. Tidak cuma satu atau dua, saat saya berkeliling Bangkok. Saya mendapati tren ini memang sudah sering dilakukan. Sebagian turis dalam beberapa blog mereka menyebut mafia tuk-tuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *