Dari Bangkok Ke Ayutthaya Naik Kereta

Setelah rampung mengunjungi sebagian kota Angkor. Kompleks kota tua lainnya yang jadi incaran saya yaitu Ayutthaya. Saya memutuskan naik kereta ke Ayutthaya karena ingin merasakan bagaimana fasilitas kereta api di negeri Gajah Putih ini.

Banyak keuntungan berkeliling Thailand dengan kereta api. Selain tiketnya murah, jadwal keberangkatannya juga beragam dengan tidak terlalu jauh. Jadi, saya tak terlalu khawatir jika datang terlambat ke stasiun, masih ada kereta lainnya yang bisa diincar. Jadwal antara satu kereta dengan kereta lain rata-rata 45 menit.

Dari hostel saya harus menuju stasiun terdekat yaitu Stasiun Hua Lamphong. Stasiun ini menjadi stasiun utama dan tertua di Bangkok. Dibuka sejak 1916, Hua Lamphong menjadi tempat transit lebih dari 130 kereta setiap harinya.

Bahkan sejak 2004, stasiun ini sudah terhubung dengan MRT (Metropolitan Rapid Transit).

stasiun hua loamphong bangkok

stasiun kereta di thailand

wisata bangkok

Sebenarnya agak gampang-gampang susah menanyakan Hua Lamphong ke warga lokal yang banyak tidak mahir berbahasa Inggris. Kebetulan karena saya tinggal di hostel, dan hampir semua resepsionis pasti bisa bicara dengan bahasa internasional ini.

Mereka menyarankan saya menuju ke Hua Lamphong. Padahal biasanya warga asli Bangkok lebih akrab menyebut stasiun ini dengan Krungthep Railway Station. Kendala bahasa juga saya rasakan kok saat sampai di stasiun. Ketika tanya ke petugas keamanan yang ada di stasiun dan menyebut Ayutthaya. Mereka cukup bingung memahami pertanyaan saya. Dan saya harus mengulang beberapa kali, “Where is the locket for buying ticket to Ayutthaya?”

Petugas tadi kesulitan memahami pertanyaan saya, ataukah saya menggunakan istilah/nama yang tidak biasa disebut warga lokal. Setelah saya menulis Ayutthaya di telapak tangan. Mereka baru paham dan nyeletuk, Ayodhya.

Petugas tadi mengarahkan saya dan Rudy ke pintu masuk utama menuju loket pembelian tiket. Stasiun ini sangat luas lho. Apalagi ruang tunggunya yang lapang di bagian depan. Gaya bangunan Perancisnya sangat kentaldan identik dengan unsur eropa. Yang membuat saya sadar bahwa saya masih di Asia, foto ukuran super besar almarhum Raja Bhumibol yang sudah meninggal tahun 2016 lalu. Di sampingnya juga diletakkan foto raja baru Maha Vajiralongkorn.

***

Saya datang satu jam sebelum jadwal kereta berangkat. Sesuai dengan perkiraan karena taksi uber yang mengantar  tepat waktu. Di Bangkok rasanya hampir tidak ada macet, kecuali jika ada banjir yang bikin jalanan jadi tergenang. Sehingga lalu lintas berjalan lambat. Pagi hari yang cerah mengawali perjalanan saya menuju kota tua Thailand, Ayutthaya.

train schedule bangkok to ayutthaya

stasiun kereta di bangkok hua lamphonghua lamphong train station

Jadwal kereta api Bangkok ke Ayutthaya bisa dilihat lewat website dan juga terpampang di loket-loket yang ada di Hua Lamphong. Beli tiket tidak perlu antri karena loket cukup banyak dengan pelayanan yang lumayan cepat. Banyak juga turis asing lain yang akan pergi ke Ayutthaya. Tapi kayaknya mereka tidak akan menginap, karena tidak ada barang bawaan atau tas ransel besar yang ditenteng.

Wisata ke Ayutthaya memang bisa dilakukan dengan one day trip saja. Pergi pagi, pulang malam. Jadwal kereta yang banyak tadi membuat banyak orang ke sana tanpa menginap.

Saya beli tiket kelas ordinary yang harganya hanya 20 baht atau sekitar delapan ribu rupiah. Murah banget kan?! untuk perjalanan kereta yang makan waktu sekitar dua jam, saya rasa harganya sangat terjangkau.

Tapi karena harganya murah, tiket yang saya beli tidak termasuk tempat duduk. Ketika kereta sudah datang, saya pun buru-buru naik ke atas gerbong seperti yang lainnya. Kami cepat-cepat mengisi tempat duduk kosong, sebelum diisi penumpang lainnya. Alhasil, karena beli tiket tanpa tempat duduk. Saya sempat pindah kursi sampai tiga kali, karena baru saja dua menit duduk.

Ada orang yang mengaku punya tiket dan jatah tempat duduknya sedang saya duduki. Ternyata di kereta ini ada dua macam tiket. Ada yang beli dengan tempat duduk dan ada yang beli tiket tanpa tempat duduk. Nggak cuma saya yang punya pengalaman sama. Bahkan ada beberapa turis asing lainnya yang harus pindah gerbong karena tidak sengaja terusir dan kehabisan kursi di gerbong ini.

Penumpang yang tidak dapat kursi ya terpaksa harus berdiri bergelantungan. Tapi kereta ini tidak seramai commuterline Bogor-Jakarta. Masih cukup leluasa untuk bergerak dan beraktivitas.

pemandangan alam bangkok

Meski pakai kelas ekonomi, kebersihan kereta api yang saya tumpangi sangat terjaga kok. Lantainya bersih dan nggak ada sampah, jendela pakai AC alami alias angin cendela. Desain kereta memang sangat tua dan jadul. Kursinya saja tidak pakai sofa empuk dan sandarannya tidak bisa diatur. Tapi ya bagaimana lagi, tiket murah, maklum saja, jadi tidak bisa mengharapkan banyak.

Saya dan Rudy, kebetulan bertemu dengan turis asing dari Jepang yang sama-sama akan menuju Ayutthaya. Kami duduk berhadapan dengan pasangan paruh baya asal negeri sakura yang juga pergi sama anaknya. Pas awal berangkat, anak lelakinya sempat tidak dapat kursi dan harus berdiri hampir setengah perjalanan. Menunggu penumpang yang turun di stasiun terdekat. Lucunya, saya dan pasangan Jepang ini berlagak mau ngobrol akrab. Saya pakai bahasa Inggris dan mereka pakai bahasa Jepang. Lucu yah…

Awal-awalnya komunikasi kami cukup lancar, meski sebagian pakai bahasa isyarat atau kode-kode tertentu. Saya masih paham maksud mereka yang menanyakan saya berasal dari mana dan bersama siapa. Apakah saya menginap di Ayutthaya atau nanti balik lagi ke Bangkok.

Tapi pembicaraan selanjutnya jadi terpotong, karena kami sama-sama kesulitan memahami bahasa satu sama lain. Alhasil,, kami lebih sibuk menikmati pemandangan di luar kereta, sambil terkantuk-kantuk. Saking semilirnya angin yang masuk lewat jendela.

perjalanan ke ayutthayaPerjalanan ke Ayutthaya tidak banyak hambatan. Paling sesekali berhenti agak lama karena ada kereta lain yang lewat. Sama kayak di Indonesia. Kereta yang kualitasnya biasa ngalah dengan kereta dengan harga yang lebih mahal.

Dengan kereta, saya bisa tahu lokasi-lokasi lain di Thailand, karena kami melewati garasi kereta api yang isinya gerbong-gerbong yang tidak dipakai atau sedang diperbaiki. Pemukiman warga yang tidak tertata, hingga area sawah yang sepertinya baru masa awal tanam padi. Perjalanan dua jam memang tidak terlalu terasa karena di sepanjang perjalanan saya lebih banyak ngantuknya daripada terjaga.

Stasiun di Ayutthaya tergolong kecil, tapi rapi dan bersih. Keluar area stasiun turis-turis akan didekati sopir tuk-tuk atau jasa transportasi lokal. Tapi eits, jangan langsung mau ya. Sebelum ke Ayutthaya, sebaiknya buat rencana apakah akan berkeliling kota dengan motor pinjaman, sewa sepeda, atau pakai tuk-tuk.

Note :

Tiket dari Bangkok ke Ayutthaya ada banyak variasi mulai dari yang murah sampai mahal.

Kelas 3 : Kereta biasa atau yang termurah harganya 20 THB. Tidak ada AC.

Kereta kelas 2 : harganya 65 THB dengan fasilitas Ac dan durasi perjalanan lebih cepat. Sedangkan kereta cepat tanpa AC harganya hanya 45 THB.

Untuk yang ingin naik kereta ekspress datang lebih pagi, karena tiketnya sering cepat habis. Harga kereta ekspress 245 THB dengan Ac, sedangkan yang menggunakan kipas angin harganya 165 THB.

Kereta Ekspress DRC (Diesel railcars) cukup mahal, harganya 345 THB. Kereta ini merupakan yang tercepat dengan kursi yang nyaman.

Untuk yang melakukan perjalanan panjang bisa menggunakan kereta ekspress yang dilengkapi tempat tidur.

wisata thailand bangkok

stasiun kereta ayutthaya

Incoming search terms:

  • ke ayutthaya dari bangkok
  • Akses menuju ayutthaya dari bangkok
  • Bangkok ke Ayutthaya
  • bangkok to ayutthaya kereta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *